Suara tawa menggemaskan mengisi rumah mewah ini, membuat suasana yang jarang tercipta menjadi menyenangkan dan hangat. Harsa yang membantu bibi Marie di dapur mengulas senyum manisnya mendengar suara tawa bahagia Jinan.
"Seperti nya tuan muda bahagia sekali bisa bermain dengan ayahnya," ucap bibi Marie yang langsung disetujui Harsa, sebab tak jarang Jean terlalu sibuk di kantor hingga tak punya waktu bermain dengan Jinan.
"Sedari tadi baby Jiji tidak mau lepas dari tuan Jean, saat ayahnya mandi pun Jiji menangis."
Bibi Marie tertawa kecil, melirik Harsa hangat. "Nanti saat dia lapar pasti mencari mu, tuan muda tidak akan bisa lama berjauhan dengan mu."
Harsa hanya mengulum senyum dan kembali fokus pada makanan yang sudah siap disajikan dimeja. Makan malam kali ini terlihat ramai karena ada Jean.
"Sudah biarkan aku saja, kau panggil lah tuan Jean. Makanan nya sudah siap."
"Baik bi."
Harsa melangkah menuju ruang keluarga memanggil Jean untuk makan malam. "Tuan, makan malamnya sudah siap."
Jean menoleh pada Harsa, lalu menggendong Jinan dan mendekatinya.
"Sini baby dengan ku dulu, Daddy mu akan makan malam." Harsa sudah siap menggendong Jinan tapi Jean menolaknya.
"Biarkan Jinan dengan Mira dulu, ayo kita makan malam bersama."
Jean memberikan Jinan pada babysitter nya tapi si kecil seolah tau jika ayah dan ibunya akan berduaan tanpa mengajaknya jadi ia menangis, memeluk leher ayahnya erat.
"Baiklah kau ikut baby, kau memang tidak bisa membiarkan aku berduaan dengan ibumu ya." Jean mengecup pipi gembul putranya gemas hingga tawa kecil si bayi kembali muncul.
Ditengah makan malam yang tenang tiba-tiba saja di instruksi oleh kedatangan seorang wanita cantik paruh baya, ibu dari Jean. Nyonya besar Taerra Djung.
"Wah, sedang makan malam keluarga sepertinya, menyenangkan sekali. Boleh aku bergabung." Suaranya terdengar ceria namun Harsa tau itu sebuah sindiran untuknya.
"Bubu kenapa tidak bilang akan kesini?"
Taerra menatap anak satu-satunya itu bingung. "Memang kenapa jika Bubu kesini? Apa Bubu sudah tidak boleh kerumah anak ku sendiri?" Taerra menekan kata anak ku dengan melirik Harsa tajam.
Jean menarik nafas berat, matanya menatap ibunya yang sudah duduk disampingnya dan melirik Harsa yang menundukkan kepalanya. "Makanlah lagi."
"Ya, makanlah yang banyak. Aku tidak ingin cucuku kekurangan asi."
"Bubu."
"Apa? Aku mengatakan apa adanya, bukan kah keberadaan nya disini memang untuk itu."
Suasana diruang makan ini semakin memanas. Harsa meremas sendok yang dipegangnya, nafsu makanya sudah lenyap. Lagi-lagi dirinya disadarkan akan dimana tempatnya berada.
"Engg..., biiibbbuuu, huuuaaa~"
Suara tangis Jinan menyelamatkan Harsa dari kesesakan ini. Dengan segera mengambil Jinan dari kursi makan bayinya. "Aku akan menenangkan tuan muda lebih dulu, permisi tuan, nyonya."
Harsa melangkah dengan cepat menjauhi ruang makan. Padahal tidak seharusnya Harsa sakit hati karena apa yang dikatakan Taerra memanglah benar. Dirinya disini hanya menjadi ibu susu untuk Jinan, tidaklah lebih.
Dikamar Harsa mengusap sayang kepala Jinan yang tengah menyusu padanya, tersenyum lembut saat Jinan menatapnya polos. Dengan susah payah Harsa menahan tangisnya, menyisakan sakit yang mendalam pada hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lactating [Nohyuck]
RomanceRate cerita ini 21+ jadi tolong berhati-hati dalam memilih bacaan. •••••• Harsa yang jatuh hati pada si ayah dari bayi yang disusui nya. Keduanya teman masa sekolah dan Harsa sudah jatuh cinta pada Jean sejak saat itu. Keduanya kembali bertemu oleh...
![Lactating [Nohyuck]](https://img.wattpad.com/cover/371027956-64-k417533.jpg)