Chapter 24+

11.9K 250 6
                                        

+6282173******

Jinan terus menangis mencari mu, kepala ku pusing mendengarnya. Datang ke apartemen **** sebelum aku membuatnya diam dengan cara yang kasar.

Harsa menatap gedung apartemen didepannya, tadi ada satu pesan yang ia yakini dari Jessica menyuruh nya kemari. Kemarin Harsa juga menerima pesan dari Mira yang memberitahukan jika Jinan terus menangis mencarinya. Harsa tidak bisa tidur memikirkan bagaimana kondisi Jinan. Maka hari ini Harsa tidak ragu datang ke lokasi yang dikirimkan Jessica.

Meski lokasinya jauh dipinggir kota. Harsa tidak tau apartemen ini milik siapa, keadaan nya cukup sepi. Ada ketakutan tapi segera ditepis ya karena keinginan bertemu Jinan yang tinggi.

Harsa berjalan ke lift menuju unit apartemen Jessica yang berada dilantai atas. Sampai disana Harsa keluar lift dan melihat sekitar yang benar-benar sepi sekali. Harsa melangkah mencari unit 306. Setelah melihatnya Harsa mengetuk pintu itu tapi tidak ada jawaban namun didalam sana Harsa bisa mendengar suara tangisan Jinan maka dibukanya pintu yang ternyata tidak dikunci.

"Jiji, Jiji ini aku sayang."

Harsa masuk ke dalam apartemen mencari sumber suara yang ternyata berasal dari sebuah kamar, Harsa buka kamar itu yang ternyata tidak ada sosok Jinan di sana tapi suara tangisan nya masih ada. Pandangan Harsa tertuju pada sebuah benda hitam diatas kasur yang mana sumber suara tangisan Jinan berasal dari sana.

Harsa terdiam merasakan ada sesuatu yang salah dan rasa takut mulai merayapi hatinya. Harsa bergegas pergi sebelum seseorang membekapnya dari belakang, Harsa meronta-ronta sekuat tenaga tapi aroma kuat dari obat bius membuatnya melemas dengan kepala berkunang-kunang kemudian semuanya gelap.

Pria itu tersenyum lebar saat Harsa mulai tak sadarkan diri, dengan cepat menggendong tubuh ramping Harsa. "Cantik, sayang sekali jika langsung dibunuh. Bagaimana jika kita bersenang-senang lebih dulu cantik."

"Ah, aku jadi tidak sabar menyentuh mu jalang nya Jean."

•••••

'Kericuhan terjadi di pusat kota, seseorang melaporkan penyekapan pada sebuah Bank Indonesia dimana didalamnya ada banyak tawanan. Kericuhan lainnya juga terjadi kebakaran disebuah hotel ternama, pemadam kebakaran dan para kepolisian berusaha menyelamatkan banyak korban yang ada...'

Jessica yang memang menunggu berita tentang kekacauan hari ini tersenyum lebar pada televisi yang menayangkan berita yang sudah direncanakan nya. Para kepolisian akan sangat kewalahan hari ini, untuk penjagaan dari Jean sudah ia bereskan juga.

Tak sia-sia uang yang sudah ia keluarkan untuk semua ini, hasilnya luar biasa memuaskan belum lagi satu pesan lain yang membuat Jessica senang sekali. Ah, rasanya ia ingin berteriak kencang untuk menggambarkan rasa senangnya.

"Jinan baik-baik saja? Ada apa dengan mu kenapa tersenyum lebar seperti itu?"

Jessica menoleh pada Taerra karena ada wanita tua itu ia sedari tadi menahan diri agar tidak kesenangan. "Tidak apa-apa Bubu, hanya mendapat kabar bahagia dari klien ku."

Taerra mengangguk saja, memilih mendekat pada Jinan yang tengah tertidur. Entah perasaan nya saja atau tidak setiap kali Jinan bersama Jessica cucunya ini pasti sedang tertidur. "Dari kapan Jinan tidur? Ini belum waktunya tidur siang."

Senyum lebar Jessica surut seketika dan sedikit panik. "Jinan, Jinan baru saja tidur kok Bubu, mungkin dia nyaman dengan ku jadi cepat sekali tidur."

"Nanti bangunkan Jinan saat jam makan siang, aku harus berkumpul dengan teman-temanku." Taerra berlalu ke kamar begitu saja.

Jessica menatapnya tajam, ingin sekali mencekik wanita tua itu. Tapi karena ia tengah sangat senang jadi tak terlalu membuatnya kesal.

Pesan masuk dari pria itu membuat Jessica terkekeh geli, untuk hari ini ia akan membiarkan pria itu melakukan apapun sepuasnya pada Harsa. Pembantu itu pasti akan sangat depresi setelah dilecehkan, ah rasanya Jessica ingin merubah rencana dengan menjual Harsa pada hidung belang, misalnya.

Lactating [Nohyuck]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang