Entah sudah berapa lama waktu berlalu. Yang jelas begitu Xavier membuka mata, sinar matahari sudah menerangi kamar sang Elder. Badannya terasa remuk bukan main. Melebihi saat dirinya harus melawan beberapa rogue.
Diliriknya sang Elder yang tertidur nyenyak membelakanginya.
Xavier menghela nafas berat, mencoba beranjak. Tubuhnya sedikit gemetar saat dia coba berdiri. Tangannya bertumpu pada nakas di samping tempat tidur. Ada perasaan mengganjal yang tak nyaman saat dirinya berdiri sepenuhnya, sebab sesuatu terasa mengalir di sela pahanya.
Alpha muda itu kembali menghela nafas saat teramat sadar cairan apa yang telah mengalir dari bagian tubuhnya. Dengan tertatih, Xavier berjalan menuju kamar mandi di dalam ruangan. Tak mungkin sekali jika dirinya keluar dari kamar Eldernya dengan kondisi se ’kacau’ ini.
Selepas membersihkan diri, tepatnya sesuatu yang mengganjal di area belakangnya, alpha muda itu perlahan memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. Memakai sepotong demi sepotong meskipun tubuhnya sudah menjerit sakit.
Bertumpu pada dinding, Xavier keluar dari kamar Orion, tanpa sepengetahuan si empunya tentu, sebab Enigma muda itu benar-benar tak terganggu dalam tidurnya dengan gemerisik gerakan dari Xavier.
“Kap- Kapten?” Suara Daniel menyambut begitu mendengar pintu sang Elder terbuka.
Dilihatnya sang kapten yang sangat tidak terlihat baik itu. Hidungnya mengernyit menyadari aroma feromon sang kapten yang tercium berbeda. Kali ini bukan hanya aroma cendana yang mendominasi namun campuran aroma musk yang dikenalnya turut berbaur.
Xavier menatapnya dalam diam. “Tolong antar aku ke rumah rutku.” Ucapnya dengan suara serak.
Daniel mengangguk tak banyak berbicara, sembari membantu memapah sang kapten yang diterima baik oleh si empunya.
“Kirim salah satu guard untuk berjaga. Kita tidak bisa membiarkan Elder sendiri.” Perintah Xavier sebelum menutup matanya sejenak dalam mobil yang ditumpangi mereka.
“Aku sudah memerintah Miguel untuk kemari kapten. Sudah ku perintah untuk berjaga di luar rumah. Tak membiarkan dia masuk.”
Xavier hanya berdehem, sesekali menunjukkan jalan menuju tempat yang mereka tuju.
****
Daniel sedikit takjub melihat rumah sederhana yang sepenuhnya terbuat dari kayu ini. Sebelumnya memang wakil kapten guard ini tak pernah tau dimana rumah rut sang kapten. Karena setiap kali masa rut, sang kapten hanya mengirim pesan dan menghilang begitu saja.
Tak seperti rumah rut milik sang Elder yang sepenuhnya dikelilingi hutan lebat dan hanya satu-satunya. Daniel dapat melihat 1/2 rumah yang berada cukup jauh dari tempatnya kini.
Kembali Daniel memapah kaptennya masuk kedalam.
“Tolong katakan pada ayahku, aku ada disini. Aku mungkin tidak akan kembali ke pack selama beberapa hari.” Pesan Xavier sebelum Daniel berpamitan.
Si wakil kapten mengangguk. Menuruti perintahnya. Namun baru beberapa langkah Xavier memanggilnya.
“Daniel, tolong jaga Elder untukku.” Lirihnya
Daniel tertegun sejenak, menghela nafas sebelum kembali mengangguki ucapan kaptennya.
Semenjak Daniel mengetahui rahasia besar ini. Memang dirinya lebih banyak diam. Lebih tepatnya masih tak habis pikir, kenapa sang kapten dan sang Elder menyembunyikan semua ini.
Otak kecilnya dipaksa berpikir keras dan hanya satu kemungkinan kecil yang menyeramkan yang terlintas di otaknya.
‘Apa sang kapten ditolak oleh Eldernya sendiri?’
KAMU SEDANG MEMBACA
Alpha
WerewolfXavier is an Alpha, and Orion is an Enigma. They are two parallel lines that were never meant to intersect
