This part is a bonus - A story about them that might not be thold in the main story, It's quite long, so I hope you guys won't get bored. Happy reading and Sorry for typo.
.
.
.
Sejak memutuskan untuk memperbaiki semuanya, Orion memang bertekad untuk memperlakukan Xavier, yang tengah mengandung anak mereka itu dengan baik. Tapi tidak begini caranya.
Elder itu menatap datar Xavier yang terlihat sesenggukan di depannya, sementara Daniel dan Miguel hanya saling menatap prihatin. Bukan, bukan pada Xavier kali ini tapi pada Orion.
Semuanya ini bermula pada pagi hari, masih jam 6 pagi, Orion yang terbiasa bangun pagi dihadapkan mata penuh harap Xavier, sudah menjadi kebiasaan saat si alpha itu menginginkan sesuatu.
"Apa yang kau inginkan?" Tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Soufflé." Balas Xavier penuh semangat.
Orion menutup mata sejenak, jelas tahu yang dimaksud Xavier, salah satu dessert yang pernah dia bawa pulang, dan si alpha sangat menyukainya.
"Aku akan membelikannya untukmu."
Namun binar itu seketika sirnah dari manik milik Xavier, membuat Orion mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Saya ingin Elder yang membuatnya."
Jawaban itu membuat Orion semakin mengerutkan keningnya, Orion bisa memasak, benar tapi dia bukanlah chef, hanya makanan rumahan layak makan yang bisa dia buat.
Helaan nafas Orion terdengar berat "Aku akan mencoba, tapi jangan berharap terlalu banyak."
Xavier mengangguk antusias, bahkan mengikuti setiap langkah Orion yang mulai beranjak. Hingga kakinya terhenti melihat sang enigma yang akan memasuki kamar mandi.
"Kau mau ikut juga?"
Dengan cepat Xavier menggeleng, mundur selangkah sebelum berbalik pergi, membuat tanpa sadar senyum tipis terukir di wajah tampan Orion.
****
Namun ekspektasi Xavier terlihat terlalu tinggi. Alpha itu menatap nanar beberapa Soufflé yang terlihat gosong di tempat sampah. Padahal Daniel dan Miguel sudah mencoba membantu Orion, tetapi nihil. Menyatukan 2 makhluk itu di dalam dapur adalah hal yang buruk.
"Sekali lagi." Ucap Orion, meskipun wajah rupawannya sudah kotor sana sini, tapi dia malah tertantang. Rasanya belum puas jika belum berhasil.
Daniel dan Miguel saling pandang sebelum mengangguk, tak ayal merasa sama tertantangnya dengan Orion.
Dan akhirnya entah di percobaan keberapa, saat wajah mereka sudah mulai kumal, satu Soufflé berhasil terbentuk sempurna. Senyum puas dari ketiganya terlihat saat menyajikan di depan Xavier.
Tetapi yang mereka dapatkan adalah Xavier yang tiba-tiba menangis setelahnya. "Kenapa tidak mengembang." Ucapnya disela isakan.
Orion terdiam, Daniel dan Miguel juga menatap kasihan pada sang Elder. Keheningan itu kemudian pecah saat suara Angela dan Alger yang memang rutin berkunjung terdengar.
Kedua penatua itu cukup terkejut melihat kekacauan yang ada, terlebih Angela ketika melihat Xavier menangis langsung menghampiri Orion, menjewernya dengan kekuatan penuh.
"Orion!!! Apa yang kau lakukan pada menantuku hah?"
"Ibu, ya ampun. Ini bukan salahku. Aw lepas bu." Orion meringis, karena demi moon goddess jeweran maut ibunya itu mematikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alpha
WerewolfXavier is an Alpha, and Orion is an Enigma. They are two parallel lines that were never meant to intersect
