Pikirannya penuh
Malam tanpa tidur yang dialami sejak penolakannya sudah menjadi kebiasaan baginya. Sering kali, dirinya dapat terpejam untuk beberapa saat, namun untuk kali ini mimpi buruk yang bertahun-tahun dia pendam jauh kembali muncul.
Nafasnya tersengal saat kesadaran memaksanya bangun. Jantungnya berdebar kencang dengan keringat dingin membanjiri tubuhnya.
Semalam setelah ditinggalkan sendirian oleh kedua orang tuanya, Orion entah bagaimana kembali ke kamarnya sendiri. Dengan pikiran mengawang memikirkan semua peristiwa yang terjadi akibat ulahnya sendiri.
Tangannya mengusap wajahnya kasar “Sial, kenapa jadi begini..” Monolognya.
Belum sempat dirinya pulih gedoran kasar dari pintu.
Dengan gontai, Orion beranjak membuka kunci pintu yang menampilkan sosok ayahnya dengan tampilan rapi yang memandangnya ganas.
“Cepat rapikan dirimu. Ibumu sudah menunggu.”
Orion tak banyak bersuara hanya berdehem sebagai jawaban. Langkah kakinya menuju kamar mandi untuk bersiap turun.
Tak lama, setelah bersiap dengan pakaian semi formal yang biasa dia gunakan. Orion turun menuju ruang makan yang berada di lantai 1. Tatapannya heran mendapati kedua orang tuanya tampil lebih rapi dari biasanya.
Sarapan pagi berjalan dengan hening, tak ada suara Angela yang akan menanyakannya atau Alger yang akan melontarkan lelucon garing. Hanya dentingan alat makan yang memenuhi ruangan.
“Kita akan kerumah keluarga Julient sebentar lagi. Xavier sudah diperbolehkan pulang.” Si kepala keluarga buka suara. Angela mengangguk setuju sementara Orion tak ada ruang untuk menolak
****
Kedua keluarga itu tengah berkumpul di ruang tamu kediaman Julient. Alger menatap sekitarnya. Angela duduk disebelah Xavier mengelus bahu si alpha muda.
Samuel duduk di kursi tunggal menatap nyalang pada Orion, dan tatapan nanar diberikan pada putranya yang tak bersuara satu patah katapun.
“Aku datang kesini untuk meminta Xavier menikah dengan putraku. Orion harus bertanggung jawab dengan Xavier dan calon anak mereka.”
Ucapan Alger sukses membuat baik Orion dan Xavier kaget bukan main. Sang alpha muda mengalihkan pandangan menatap matenya yang memberi pandangan tajam padanya.
“Apa-apan, Ayah! Kapan aku mengatakan akan menikah dengannya!” Sentak Orion
“Orion!” Alger balas membentak namun dua elder itu saling beradu pandangan tajam dengan aura yang menusuk.
“Jadi anda tidak ingin bertanggung jawab pada putra saya, Elder Orion?” Suara Samuel sukses mengalihkan perseteruan ayah dan anak itu.
“Saya tidak bisa menerima putra anda sebagai mate saya.”
Kalimat itu tak hanya sukses meremat hati Xavier. Samuel yang telah ditinggal sang mate untuk selamanya, jauh merasakan sakit.
“Usia kandungannya masih muda kan. Masih ada jalan untuk Aborsi –“
‘Bugh’
Satu bogem mentah menghantam Orion saat kalimat lanjutannya sukses membuat tak hanya amarah Alger yang terpancing namun seluruh orang di ruangan itu.
“Ayah!” Xavier lekas menarik sang ayah yang tak henti memberi hantaman pada Orion. Tidak dia bukan mengasihani Orion, namun dia tak ingin terjadi apa-apa pada ayahnya yang semakin rentan ini.
“Cukup ayah. Jika memang Elder tidak ingin bertanggung jawab. Aku, aku bisa menanggungnya sendirian.” Ucapan lemah Xavier memadamkan amarah sang ayah yang membara

KAMU SEDANG MEMBACA
Alpha
WerewolfXavier is an Alpha, and Orion is an Enigma. They are two parallel lines that were never meant to intersect