Daniel hanya menatap Miguel yang tengah fokus berdoa. Dirinya sudah turut memberi persembahan dan membakar dupa tadi, tinggal menunggu Miguel yang entah apa yang dia minta pada sang dewi.
Mereka berdua kini memang berada di sebuah kuil kecil dekat dengan villa Elder dan Luna mereka.
Posisinya memang agak terpencil memerlukan memasuki hutan yang memang mengelilingi area villa, merekapun menemukannya saat menyisir area villa untuk menjaga keamanaan, sekaligus menandai area tersebut.
Kuil kecil itu masih tetap beroperasi dengan hanya seorang Shinto tua dan pelayannya disana. Beruntung karena setidaknya mereka dapat memberi kabar ini pada Luna mereka sehingga mengurangi perjalanan yang melelahkan ke pack, mengingat sang Luna memang rutin setiap minggu beribadah.
Lelah menunggu, Daniel memutuskan keluar kuil untuk sekedar menikmati udara sejuk mengingat hasi masih sangat pagi.
Tak lama sebelum Miguel menghampiri dengan sebuah bungkusan kecil berisi gelang Santo di tangannya.
“Gelang Santo? Untuk siapa?” Tanya Daniel penasaran.
Pasalnya gelang Santo ini dikenal untuk perlindungan. Dipercaya sudah diberkahi oleh para Shinto dan dapat memberi perlindungan dari bayaha ataupun niat buruk bagi pemakainya.
“Luna tentu saja.” Jawab Miguel spontan
Daniel mendecak “Ck, aku saja sebagai matemu tak pernah kau berikan gelang itu. Dasar pilih kasih.” Rengeknya dengan wajah sok sedih.
Miguel menatap kesal, bukannya iba malah dengan sangat ramah memukul kepala si wakil kapten guard itu.
“Ini juga karena kau. Sangat becus menjaga Luna, sehingga membiarkan dia bahkan turun langsung mengurus para rogue kemarin.” Sarkasme dari Miguel mampu membuat raut bersalah di wajah Daniel.
“Aku tau, aku salah, aku sudah meminta maaf pada Luna. Tapi serius untuk apa gelang Santo itu? Kenapa harus diberikan pada Luna?”
Miguel menghela nafas, ingin sekali memberi pukulan lagi jika tak sayang pada tenaga berharganya. Dia cukup heran, apa Xavier sedang mabuk saat meminta alpha yang kebetulan matenya itu menjadi wakil kapten guard?
Memilih tak menjawab, Miguel mendahului Daniel untuk kembali ke villa. Malas menghabiskan energi untuk mendengarkan rengekannya.
****
Pagi ini Xavier terlihat sibuk di dapur, menyiapkan sarapan untuk dirinya sekaligus Orion. Sebenarnya Angela sudah menawarkan seorang maid tidak hanya untuk membersihkan Villa setiap 2 hari sekali, tetapi juga untuk memasak.
Namun Xavier menolak, sempat trauma sebab pernah teracuni dan tidak bisa percaya pada maid yang tidak dipilihnya sendiri. Bukan bermaksud meragukan Angela tetapi rasa trauma itu sulit untuk disembuhkan.
“Selamat pagi, Luna.” Sapaan itu mengalihkan atensi Xavier yang tengah berkutat dengan alat masak.
“Pagi, kalian sudah sarapan?” Tanyanya melihat sosok Miguel dan Daniel yang entah datang darimana.
Daniel mengangguk sebagai jawaban, sebelum menyenggol Miguel untuk memberikan gelang yang didapatnya dari Kuil.
Miguel dengan patuh memberikan sebuah bungkusan kain dari dalam sakunya.
“Untukku?” Xavier mengernyitkan heran.
“Benar Luna, gelang Santo.” Jawaban mantap dari Miguel.
Xavier masih mengerutkan kening, membuat Miguel harus menjelaskan.
“Ibu saya pernah bilang, orang yang tengah mengandung tidak diperbolehkan untuk membunuh. Itu dipercaya dapat memberi nasib buruk bagi anda dan uhmm ya bayinya.” Jelas Miguel terlihat ragu untuk menyebutkan kata terakhirnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Alpha
Manusia SerigalaXavier is an Alpha, and Orion is an Enigma. They are two parallel lines that were never meant to intersect