Entah sudah berapa lama, Orion kembali terbangun saat rasakan kebas di lengannya. Kali ini pikirannya tampak lebih sadar dari sebelumnya. Langit masih gelap pertanda pagi belum menjelang.
Agak terkejut dirinya saat dapati Xavier tidur berbantalkan lengannya. Dengan perlahan Orion menarik lengan yang dijadikan tumpuan, sedikat lenguhan terdengar meskipun sang alpha tak terbangun.
Ragu, Orion tatap telapak tangannya sebelum lancarkan aksinya. Menempelkan pelan pada puncak kepala Xavier, memberanikan diri untuk mengelus surai kecoklatannya.
Menyudahi kegiatannya yang terbuai untuk mengusak helaian milik Xavier layaknya kucing. Orion memanggil nama si empunya. Dirinya masih memiliki kewarasan untuk tak terus membiarkan Xavier tidur dalam kondisi duduk terlebih dalam kondisi hamil.
“Xavier...” panggilnya dengan suara agak serak.
Beruntung dengan satu kali panggilan Xavier berhasil bangun, menatapnya dengan linglung. Wajah yang biasa kaku itu kini terlihat polos dengan rambut yang sedikit acak-acakan.
“Pindah.” Ucapnya singkat, Xavier masih merasa linglung, belum bisa memproses kalimat Orion.
“Pindah, jangan tidur dalam posisi duduk.” Sekali lagi Orion mengulang.
Xavier tak menjawab, hanya mengangguk perlahan bangkit dari posisi duduknya dengan agak terhuyung.
Orion pikir si alpha akan berbalik untuk kembali menuju kamarnya sendiri, namun yang dia dapatkan malah Xavier yang secara santai merebahkan diri di sebelahnya. Menempati posisi kosong di sampingnya.
Belum kembali Orion protes, dia sudah mendengarkan dengkuran halus dari si empunya. Si enigma menghela nafas, tak tega juga untuk kembali membangunkan si alpha. Turut ikut juga kembali ke alam mimpi.
****
Rasanya seolah bermimpi, Xavier mendengar sang Enigma untuk memintanya berpindah posisi dan dia dengan tak sadar malah tidur di samping si empunya. Tak ingin kehilangan bau musk yang terasa menyelimutinya.
Matanya terbuka mendapati langit-langit kamar yang bukan miliknya, terkejut reflex Xavier menoleh kesamping, mendapati sang Elder tengah duduk bersandar pada headboard dengan sebuah tablet di tangannya.
Terkejut tentu saja, membuat dirinya tiba-tiba bangkit dari posisi tidur. Lalu selanjutnya ringisan pelan keluar dari bilah bibirnya.
Gerakan spontannya sukses membuat perutnya kram disertai tendangan keras oleh si bayi di dalamnya seolah protes. Tangannya memberi elusan pelan pada perut.
Beruntung kramnya tak bertahan lama.
“Ceroboh.” Desis Orion menatap seluruh kejadian di depannya dengan pandangan datar.
“Maaf.” Lirih Xavier
Perlahan dirinya bangkit, tak tau sudah jam berapa yang jelas matahari sudah meninggi sekali di luar dan dirinya benar-benar tidur lelap tanpa terganggu.
“Saya akan keluar, jika anda butuh sesuatu…” Xavier menjeda kalimatnya “Anda bisa memanggil saya.” Ucapnya pelan, harap-harap cemas mendapat penolakan langsung.
Orion tak segera membalas hanya menatapnya “Panggil Miguel kemari.”
Kalimat itu cukup membuat Xavier mengerti bahwa dirinya kembali mendapat penolakan. Membuatnya menghela nafas, menelan kesedihannya.
“Minta dia bereskan barang-barangmu dan pindahkan kemari.”
Xavier tertegun, seolah ada tombol jeda di otaknya bahkan sejenak lupa akan perasaan sedihnya. “A apa?” Tanyanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alpha
WerewolfXavier is an Alpha, and Orion is an Enigma. They are two parallel lines that were never meant to intersect
