23

19.6K 1.8K 87
                                    

Angela menggenggam erat tangan sang pasangan saat melihat Orion yang turut memasuki ruang bersalin untuk menemani Xavier.

Perasaan khawatir, takut dan tak sabar bercampur jadi satu dirasakan oleh wanita paruh baya itu. Tatapannya tertuju pada Samuel, yang menatap lekat pada pintu di depannya. Mungkin pria itu hanya diam tapi sorot ketakutan dimatanya terlihat jelas.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu. Rasanya setiap detiknya sangat amat lama bagi yang menunggu. Hingga suara tangisan keras dari ruang bersalin mampu membuat ketiga paruh baya itu menghela nafas lega, seolah tali yang  mengikat dada dilepas begitu saja.

Orion keluar dengan senyum tipis setelahnya, menghampiri kedua orang tuanya dan ayah Xavier.

“Laki-laki.” Ucapnya yang disambut senyum antusian oleh ketiga paruh baya itu.

“Tapi dokter bilang masih perlu pemantauan intensif karena usianya masih belum cukup lahir.” Jelas Orion mengulangi perkataan dokter sebelum dirinya keluar tadi.

Tatapannya lalu beralih pada sang mertua “Xavier baik-baik saja. Hanya sedikit kelelahan dan tengah tertidur sekarang.”

Setelah kalimat itu Samuel benar-benar merasa beban di dadanya berkurang. Alpha paruh baya itu menghampiri Orion, menepuk pundaknya dengan senyum tipis di wajahnya.

“Syukurlah, sekarang obati tanganmu dulu.” Ucapnya, melihat luka di tangan Orion terlihat sedikit mengerikan mengingat masih ada darah yang mengalir.

Jelas sekali si empunya tak sadar bekas cakaran Xavier di tangannya menimbulkan luka gores yang agak dalam. Namun  luka itu tidak sepadan dengan perjuangan si alpha yang mempertaruhkan nyawa demi putra mereka.

****

Hampir tengah malam, Orion membiarkan kedua orangtuanya dan ayah Xavier untuk pulang. Menyisakan dirinya berjaga sendirian, sedang Xavier masih tertidur nyenyak.

Bajunya sudah berganti, dan tangannya sudah di perban untuk menutupi lukanya. Tatapannya jatuh pada wajah letih sang alpha. Menjulurkan tangannya untuk menggenggam erat tangan Xavier.

Suara lenguhan si alpha membuat Orion tersentak, menyaksikan perlahan kelopak mata dengan bulu mata lentik itu terbuka.

Xavier merasakan tubuhnya remuk luar biasa, terutama bagian selatannya. Dapat dia dengar suara Orion yang memanggil dokter saat perlahan dirinya terbangun dari tidur.

Dokter Arina tersenyum menatap begitu matanya terbuka sempurna, menjelaskan tak ada masalah selain dirinya dilarang bergerak bebas mengingat ada jahitan di area bawahnya. Kemudian meninggalkan pasangan muda itu setelah memberi beberapa petuah.

Xavier menatap sekeliling, terlihat berusaha mencari sesuatu. Sementara Orion yang paham langsung buka suara.

“Dia masih harus berada di inkubator untuk pemantauan. Jika tak ada masalah, akan segera dipindahkan kemari.” Jelasnya Orion.

Xavier tak menjawab hanya mengangguk mengerti, tapi tatapan matanya yang menunjukan kesedihan itu membuat Orion menghela nafas pelan.

“Kau ingin melihatnya?” Tanyanya

“Apa boleh?”

Orion terdiam sebentar “Aku akan tanya dokter dulu.” Ucapnya sebelum keluar meninggalkan Xavier.

Tak lama sebab sang Elder kembali lagi kini membawa sebuah kursi roda bersamanya. Tanpa banyak berkata menggendong Xavier untuk perlahan duduk disana dan membawa si alpha menemui bayi mereka.

****

“Sudah larut, hanya bisa melihatnya dari sini.” Ucap Orion

Sementara Xavier tak bersuara, menatap sendu tubuh mungil itu yang terlihat rapuh di dalam inkubator. Ada rasa menyalahkan dirinya sendiri sebab tak bisa menjaga diri dengan baik, menyebabkan wolfie kecilnya harus lahir lebih awal.

AlphaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang