22 Minggu
Kali ini kedua pasangan muda itu tengah berada di rumah sakit pack. Untuk pemeriksaan bulanan. Hanya berdua, tentu saja. Orion dengan alibi memeriksa luka yang hanya sisa keropeng itu, dengan terpaksa memaksa ikut.
Pandangannya terfokus pada perut buncit Xavier, lalu pada janin yang terpampang di layar ultrasonografi. Sudah 22 minggu, tak sekecil seperti pertama kali Orion melihatnya.
Dokter Ariana memberi senyuman saat menjelaskan kondisi sang janin “Kondisinya saat ini sangat baik. Berat badannya normal. Jenis kelaminnya juga dapat terlihat jelas. Apa anda ingin mengetahuinya Luna?”
Xavier mengangguk antusias, begitupun Orion yang meskipun tak bersuara tatapan tertarik di matanya itu sudah menjadi jawaban yang jelas.
Senyum si dokter kembali merekah “Selamat untuk Elder dan Luna, akan segera mendapatkan seorang putra.” Ucapnya sembari mengarahkan layar ultrasonogram pada area alat kelamin bayi yang terpampang jelas tanpa tertutupi.
“Di usia kandungan 22 minggu ini. Janin sudah semakin membesar, beratnya mulai naik. Anda dapat melihat ini? Fitur-fitur wajahnya sudah mulai jelas. Gerakannya juga akan semakin aktif.”
“Eh? Anda lihat ini, si kecil sudah bisa menggerakkan tangannya. Lihat dia memasukkan ke dalam mulut.” Kekehan sang dokter terdengar bersamaan dengan seulas senyum tipis yang tanpa sadar terukir dari kedua pasangan calon orang tua itu.
“Saat ini, janin sudah mulai dengan jelas bisa mendengar suara-suara dari luar. Saya sarankan untuk memperbanyak berbicara dengannya. Atau menceritakan dongeng-dongeng kecil. Kebiasaan seperti dapat merangsang kecerdasan anak nanti.” Jelas sang dokter.
“Apa anda memiliki keluhan selama ini Luna?” Dokter Arina bertanya setelah menjelaskan kondisi calon pewaris pack masa depan itu.
Xavier menggeleng, “Selain dia yang terlalu aktif, belum ada sejauh ini.” Jawabnya.
Dokter Ariana kembali terkekeh “Bagus jika begitu. Apa anda sudah mulai mengidam? Umumnya seorang yang tengah mengandung pasti sesekali merasakannya. Seperti keinginan kuat akan benda, makanan atau hal yang lainnya.”
“Sesekali kurasa, tapi masih dalam skala normal.” Jawab Xavier, bagaimana mungkin dia tak tahu apa itu ‘mengidam’ bahkan dulu dia sempat menjadi korban keinginan aneh Arlein saat kakaknya itu tengah mengandung Aiden.
Dokter Ariana hanya mengangguk, setelah memastikan tak ada keluhan lain dan meresepkan beberapa vitamin yang diperlukan, sesi pemeriksaan kali ini di akhiri.
Pasangan muda itu, berpamitan sebelum beranjak pergi. Orion menatap Xavier yang berjalan perlahan di depannya.
“Berhenti.” Serunya pelan namun masih bisa di dengar oleh si alpha.
Xavier berbalik menatap Orion bingung. Sedang si empunya melihat sekeliling.
“Kau duduk disitu terlebih dulu, tunggu sebentar. Aku ada sedikit urusan.” Ucapnya sembari menunjuk kursi kosong yang tak jauh dari tempat mereka. Tanpa menunggu Xavier menjawab sudah melenggang pergi begitu saja.
Orion bergegas kembali, menuju ruangan dokter Ariana. Membuat si dokter agak terkejut melihat kedatangan sang Elder.
“Elder Orion? Apa ada masalah?” Tanyanya.
Orion menggeleng “Tidak, tapi ada hal yang ingin kutanyakan.”
Sang dokter hanya mengangguk, menunggu pertanyaan dari Eldernya.
“Terkait mengidam tadi, apa harus dituruti? Apa ada bahaya jika tidak di wujudkan?”
Dokter Ariana tersenyum simpul, dia pikir Eldernya ini tak peduli pada sang pasangan, mengingat sedari awal terlihat tak terlalu berminat dan antusias setiap kali turut dalam pemeriksaan rutin ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alpha
Hombres LoboXavier is an Alpha, and Orion is an Enigma. They are two parallel lines that were never meant to intersect
