This chapter based on Xavier’s Point Of View
.
.
.
Usia Xavier baru 16 tahun saat dia pertama kali merasa terpesona pada seseorang selain kakak dan ayahnya.
Yang Xavier tahu sosok seniornya itu adalah calon Elder masa depan packnya. Membuat Xavier semakin penasaran sebab kemungkinan besar kelak mereka bekerja sama, mengingat potensinya sebagai calon kapten guard.
Perlahan tapi pasti Xavier mencari tahu si calon elder dari teman dekatnya, Joseph yang selalu tahu gosip terbaru di sekolah mereka.
Semakin mengetahui bagaimana sikap si calon Elder tanpa sadar Xavier semakin terpesona. Bagaimana sikapnya yang ramah, kecerdasannya dan bahkan kemampuan fisiknya sebagai calon enigma.
Diam-diam saat setiap minggu dirinya diajak ke kuil bersama sang ibu. Tersemat doa untuk bisa berdekatan dengan sosok yang mampu membuatnya Xavier mengalihkan perhatian dari buku favoritnya ataupun membuyarkan fokus penuhnya dari latihan fisiknya.
****
Menginjak usia 17 tahun menjelang akhir tahun ajaran yang artinya Xavier akan menjadi siswa Senior menggantikan kakak kelasnya di sekolah.
Sosok calon Elder yang diam-diam disukainya tiba-tiba menghilang. Jauh dari pandangan, dia tahu betul ada hal buruk yang menimpa calon eldernya itu.
Sayangnya sang ayah tak ingin buka mulut membuat Xavier kecewa.
“Lihat bu, putra bungsu ibu ini seperti orang yang patah hati.” Ledek Arlein melihat sang adik yang hanya merenung menatap jendela rumah mereka.
Samantha terkekeh sementara Xavier mendengus tak mau membalas gurauan sang kakak.
****
Beberapa tahun berlalu, Xavier rasanya mulai lupa bagaimana perasaannya dahulu. Meskipun terbilang sangat dekat dengan Elder dan Lunanya dan sering mendengar cerita dengan sang calon Elder, Xavier sudah dapat bersikap biasa. Meskipun kadang sedikit perasaan antusias masih hinggap di hatinya.
Namun Xavier rasa perasaan ini tak benar karena harusnya disimpan untuk sang mate nantinya. Jadi Xavier hanya bisa menanggapi seadanya saat dua tetua yang dia hormati itu membicarakan sang calon Elder.
Pikiran segera teralih memikirkan dimana matenya. Tak ayal ada rasa iri melihat teman-temannya menemukan mate mereka dengan cepat sementara dirinya hingga menginjak usia 24 tahun keberadaan sang mate tak kunjung ditemukan.
Xavier menghela nafas, tak ingin lagi memikirkannya lebih baik fokus pada pekerjaan dan tugasnya sebagai Kapten guard.
****
Kedatangan calon Elder mereka disambut antusias termasuk oleh Xavier sendiri. Meskipun mengabaikan tangannya yang masih terluka, Xavier dengan sepenuh hati menyiapkan upacara pengangkatan calon Elder barunya.
Saat mobil yang ditempati keluarga Elder sampai, entah kenapa jantung Xavier berdetak lebih kencang. Ayahnya dengan segera menyambut sementara dirinya tetap berjaga di posisi.
Saat sosok gagah dan tampan sang calon Elder terlihat dipandangan yang dirasakan Xavier adalah aroma Musk yang menusuk hidungnya.
Tidak ini bukan aroma agresif ataupun aroma penuh tekanan khas para Elder. Tetapi aromanya lembut seolah oasis di tengah padang tandus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alpha
WerewolfXavier is an Alpha, and Orion is an Enigma. They are two parallel lines that were never meant to intersect
