50. TANPA DIA

466 69 279
                                    

VOTE & KOMEN [200]

****Bi Ningrum melihat 2 kertas hasil diagnosa Galih

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

****
Bi Ningrum melihat 2 kertas hasil diagnosa Galih. Galih sudah dirujuk ke rumah sakit besar yang jauh dari jangkauan keluarganya

Kertas pertama adalah surat rujukan yang menunjukkan gejala Ensefalitis (radang otak) pada kertas kedua adalah hasil valid dari rumah sakit besar yang kini mereka singgahi

Pendarahan Intraserebral (Pendarahan Otak)

"Saya sudah tanda tangan surat resikonya. Dokter bilang nanti malam akan melakukan tindakan pembedahan" ucap Bagas. Dia duduk disamping Bi Ningrum. Resiko paling menakutkan adalah kematian

"Untuk biayanya-

"Saya bisa menanggungnya" potong Bi Ningrum. Dia langsung mengeluarkan kartu kreditnya

"Biayanya lumayan mahal. Bagaimana jika kita bagi dua?" Bagas menawarkan dirinya lagi

Bi Ningrum menggeleng, "Saya punya banyak tabungan. Hampir 21 tahun saya bekerja di rumah Mas Galih dengan gaji yang besar" tutur Bi Ningrum

Bagas berpikir lagi "Pak Danu juga selalu baik pada semua karyawan di kantor, jadi saya ingin sedikit menebusnya" ucapnya. Dia menatap pintu ICU dengan lekat

Bi Ningrum menoleh, "Dengan Pak Bagas membantu saya membawa Mas Galih kesini. Itu sudah cukup Pak" balas Bi Ningrum

Bagas tiba-tiba tertawa "Dulu saya ingat pertama kali Pak Danu membawa Galih ke kantor. Waktu itu umur Galih baru 5 tahun, Pak Danu langsung mengenalkan Galih sebagai penerusnya dan meminta semua karyawan untuk berperilaku baik pada Galih" terang Bagas

"Semua orang selalu senang saat Galih dibawa ke kantor, suasa kantor menjadi lebih ceria dan terang" Bagas lalu menghela nafas

"Bahkan saat Galih terlibat kecelakaan Bus, semua orang di kantor mengadakan doa bersama agar putra bungsu Pak Danu baik-baik saja" lanjutnya

Ayah Galih benar-benar sosok panutan di kantor itu, dia tidak pernah menekan siapapun untuk bekerja terlalu keras. Semua jaminan dan bonus tenaga kerja juga selalu diberikan tepat waktu

"Pak Danu memang sangat baik. Dulu saya tidak punya pengalaman apapun dalam mengasuh bayi, saya bertemu Pak Danu saat saya dan ibu saya menjual kerupuk dipinggir jalan. Pak Danu menawarkan pekerjaan karena saya baru saja lulus sekolah" Bi Ningrum ikut bercerita

Bagas mengeluarkan dompetnya, "Ayo bagi dua untuk biayanya" ajaknya

"Saya tidak melalukan karena keterpaksaan. Saya melalukannya dengan tulus" imbuh Bagas agar Bi Ningrum mengerti

Pada akhirnya Bi Ningrum setuju, keduanya melakukan pembayaran setelah kesepakatan itu

***

Mahar melempar roti kearah Yasmin. Dia berjalan kebelakang tubuh Yasmin dan membuka ikatan tangan wanita itu

OUR PART (Start Chapter 33) ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang