21

952 52 0
                                        

Tak terasa pagi datang dan sudah berlalu. Kini Jie sedang duduk di ruang tamu sambil menikmati esteh manis.

"Nyonya, ini cemilannya" Pandangan Jie teralih pada Yuna yang sedang menata camilan di atas meja.

"Waahh kamu gadis kecil? Berapa usiamu dan sejak kapan di sini hm?" Jie menghentikan aktivitasnya dan tatapannya fokus pada Yuna sekarang. Yang ditatap pun hanya menundukkan kepalanya.

"Ah saya keponakan bibi Nuri. Saya ikut bekerja di sini. Umur saya masih 15 tahun"

Dengan keberanian, Yuna mendongak dan berbicara. Pemandangan nya luar biasa, seorang alpha female dewasa (hampir tua mungkin haha..) didepannya dengan rambut panjangnya yang tergerai. Sekilas Yuna bisa melihat bayangan Ray di sana. Benar-benar seperti foto copyan.

"Jadi begitu.. Bagus sekali, kamu rajin bekerja di usia muda ya. Contoh yang baik"

Yuna hanya tersenyum dengan pujian yang diberikan oleh Jie.

"Ah tunggu, kamu masih 15? Kenapa tidak sekolah?"

"Ah emm ituu" Yuna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia nampak kebingungan.

"Karena keadaan keluargaku, aku tinggal bersama bibiku dan membantunya bekerja hehe"

Jie hanya menggelengkan kepalanya gemas. Itu jawaban yang agak menyakitkan namun cengiran Yuna membuat ia menjadi anak yang lucu imut kiyut.

"Hmm bagaimana jika kamu sekolah? Mau?" Tawar Jie.

"Tapi aku tidak punya biaya, lagipula umurku sudah sebesar ini. Jika memulai pendidikan lagi maka akan aneh. Aku masuk tk saat umurku 15 tahun bukankah aneh?"

Haha, Jie ingin tertawa sekarang. Yuna polos juga ya.

"Tidak perlu, ada guru privat yang bisa mengajarimu. Apakah kamu mau?" Tawar Jie sekali lagi.

"Hah ah humm" Yuna tampak memainkan jarinya. Oh Ya Tuhan menggemaskan sekali. Jie bangun dan mengelus kepala Yuna.

"Soal persetujuan Nuri? Tentu saja dia setuju. Karena aku sudah memutuskan maka tinggal niat kamu saja" Jie tersenyum simpul. Mata Yuna terlihat berbinar, ia mengangguk dengan senang.

"Umm terimakasih banyakkk nyonyaa" Reflek Yuna memeluk Jie dengan erat, Jie tak berhenti tersenyum. Ini mengingatkan nya pada Ray yang masih remaja.

"Tidak masalah, akan bagus jika ada Ray kedua di mansion ini haha" Jie akhirnya tertawa. Sedangkan Yuna hanya cengar cengir sedikit tidak mengerti ucapan nyonya besarnya.

~

Di dimensi yang lain, sebuah supermarket yang tidak megah megah banget.

"Tumben ya traktir gua cel" Pria beta bernama Rion itu duduk dan memakan sebuah ice cream.

"Udah sering ya ngab gua traktir lo. Lo nya aja ga ngaku tch" Axel tampak angkuh dengan memalingkan wajahnya ke samping.

"Pasti dari sugar mommy lo ya, tutor dong biar dapet sugar sugar gitu. Capek gua ga ada duit" Rion cemberut sambil memainkan baju Axel.

"Aelah kerja lah. Iya kalo dapet yang cakep kayak punya gw nanti om om gendut gimana?" Ucap Axel menakut-nakuti Rion.

"Dih ga mau, but.. emang cakep banget ya mommy lo itu? Gua belum pernah liat si. Tapi dari cerita lo keknya beneran" Rion cengengesan sambil mengingat jika Axel sering sekali menceritakan soal Ray.

"Iya cakeplah, goodlooking ga kayak lo monyet" Axel tersenyum sedangkan Rion menepuk pantat Axel dengan keras.

Pukk

"Awh puqi" Axel dengan reflek memukul Rion dengan keras.

"Ampun ahaha, pantat lo makin semok sih. Ni juga dada gede banget.. kalo omega hamil gitu ya? Gendut semua jadinya" Rion tertawa cekikikan.

Axel awalnya biasa saja namun seketika dia tersadar.

"OHH JADI LO BILANG GW GENDUT?" Axel dengan tidak berperasaan memukul-mukul Rion. Yang dipukul hanya tertawa sesekali mengaduh karena pukulan Axel tidak main-main.

"Maafin gualah, ish ponakan paman baik-baik ya jangan kayak mamak lo ini nanti tantrum" Rion tersenyum sambil mengelus perut Axel.

"Stop" Axel

"Kenapa?"

"Geli banget lo ngelus perut gw, kata anak gw lo bau hus" Axel.

"Yakk pakmil bangsat" Rion.

"Jangan ngumpat depan anak gw tai" Axel menutup mulut Rion.

Dan berakhir mereka bercanda dan saling pukul sepanjang perjalanan.

Sore harinya mereka sedang duduk di kursi taman, melihat anak-anak bermain layangan. Walaupun angin sedikit kencang namun suasana sore hari sangat menyenangkan.

"Rion, makasih ya udah mau jadi temen gw" Ucap Axel tiba-tiba.

Yang disebut hanya tersenyum dan memeluk Axel.

"It's okay. Gw senang juga bisa kenal sama lo ehehe. Jadi keinget dulu pas waktu lo heat gw auto panik" Rion tertawa renyah mengingat masa pertemuannya dengan Axel.

Awal pertemuan mereka di dalam bis pada hari itu. Rion yang sedang bermasalah dengan keluarganya ngambek dan berniat pergi dari rumah. Tak disangka menemukan Axel dan berujung menjadi teman. Semakin lama mereka semakin dekat semakin mereka mengenalkan diri masing-masing.

Suatu hari Axel mengalami heat, saat itu ia sedang bersama Rion ingin camping di sebuah bukit. Saat hal itu terjadi, itu membuat Rion panik sekaligus khawatir setengah mati. Pasalnya Axel mengerang kesakitan dan terus berteriak. Rion hanya bisa mangap mangap saat itu. Keesokan harinya acara camping mereka dibatalkan dan Rion membawa Axel kerumah sakit. Syukurnya saat itu tidak terlalu parah jadinya Axel baik-baik saja.

Sejak kejadian itu, Rion lebih berhati-hati pada situasi dan kondisi Axel. Dia seperti kakak yang sangat protektif pada adiknya.

"Haaa iya ya dulu gajadi camping" Axel cemberut mengingatnya.

Rion hanya tersenyum dan mengelus rambut Axel.

"Hmm bagaiamana jika baby sudah lahir kita pergi camping?" Tawar Rion.

"Wahh bolehh, nak cepet lahir ya.. papa mau camping. Kamu mau ikut kan?" Ucap Axel sambil mengelus perutnya.

"Goblok, mana bisa pemaksaan gitu" Rion tepok jidat, sebegitu inginnya Axel camping. Mulutnya sih malah inget masa lalu.

"Jangan ngumpat depan anak gw" Kini Axel memukul Rion.

"Hobi banget nih pakmil mukul, nih rasain pembalasan gw" Rion menggelitiki Axel sampai yang digelitiki tertawa terbahak-bahak. Mereka yang terlalu asik tidak sadar jika ada yang memperhatikan dari jauh.

"Stop ahahahha"

Merasa puas dengan hal itu Rion pun menghentikannya.

"Axel, ayo pulang. Sudah mau gelap" Ajak Rion dan Axel pun mengangguk.

Sampainya di mansion Ray, mereka tidak lupa berpelukan dulu dan berpamitan satu sama lain.

Axel masuk ke dalam mansion dan langsung disambut hangat oleh para pelayan.

"Apa Ray belum pulang?" Tanya Axel. Matanya menoleh keseluruh bagian mansion.

"Tuan Axel, nona Ray belum pulang" Jawab salah satu pelayan.

"Kakak!" Suara keras itu membuat Axel menoleh. Sontak ia merentangkan tangannya.

"Astaga, berapa kali aku bilang. Jangan berlari. Nanti jatuh lagi" Tutur Axel pada remaja yang cengar cengir yang kini memeluknya.

"Yuna kangen, mau curhat" Axel gemas segera ia mencubit pipi Yuna dan menoel hidungnya.

"Ok, kakak mandi dulu. Tunggu di kamar, bagaiamana jika kita adakan pesta piyama berdua?" Yuna memekik senang mendengarnya. Dia pun segera pergi mengecek apa ada pekerjaan untuknya.





























TBC

Alpha WomanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang