Pertarungan antara feromon kedua alpha itu masih berlanjut. Jangan lupakan wajah Ray yang masih terkejut akibat perkataan sepupunya.
"Andra, jangan bercanda!" Ujar Ray penuh emosi.
"Aku serius, daripada kau menikahi wanita busuk itu. Aku yakin paman dan bibi sudah pasti setuju jika kita menikah haha" Andra tersenyum penuh arti dan menatap mata Ray.
Sungguh netra yang tajam bertemu satu sama lain, meskipun mereka berdua alpha. Kilatan mata mereka memiliki emosi yang berbeda.
"Bangsat, menjauh dariku!" Ray mendorong Andra sampai terhuyung.
Andra tertawa keras sambil menghampiri Ray dan mendorongnya ke tempat tidur lalu menindihnya.
"Jadi kau lebih suka dipaksa ya? Baiklah"
"Andra hpmm-"
.
.
.
Ray menghela nafasnya perlahan. Mencoba mencerna apa yang baru saja ia lihat. Netranya menangkap sekeliling, ternyata dia sedang berada di dapur. Jangan lupa mangkuk sup di depannya yang bersih tak tersisa.
Tidak ingin mengingat hal di mimpinya, Ray mengucek matanya untuk memastikan jika itu hanya mimpi buruk.
Mimpi? Ya, sepertinya setelah mengisi perutnya dengan makanan enak. Ray jadi ketiduran di dapur.
Setelah merenung sebentar, Ray mencuci mangkuk sup dan meletakkannya kembali ditempatnya. Langkah kakinya berhenti karena suara yang ia dengar.
"Kau belum tidur?"
Tubuh Ray merinding mendengarnya, suara itu terdengar menggelikan. Dengan berani, Ray berbalik dan mencoba melihat sosok yang bertanya itu.
Bom!
Itu Andra, sepupunya.
Tidak ada jawaban sama sekali, Ray diam mematung dengan tatapan kosong. Andra yang sudah terbiasa, berjalan santai untuk mengambil segelas air. Merasa aman, Ray menoleh sedikit untuk melihat sepupunya itu.
Tuk!
Dekat sekali! Saat Ray menoleh, wajah Andra tepat di depannya. Bayangan mimpi itu kembali lagi. Ray menggelengkan kepalanya cepat menyingkirkan bayangan si Kotok ini yang mencoba menindihnya.
Seketika Ray menjauh, sedikit canggung jika berdekatan dengan Andra. Padahal Ray suka sekali menyenggol sepupunya duluan.
"Kau kenapa sih, tidakkah kau ingin berdamai bersamaku Ray!" Kesal Andra
"Aku muak, jauh-jauh sana!" Jawab Ray
Andra menarik tangan Ray dan membawanya duduk di tempat ia ketiduran. Ray yang ditarik tangannya sedikit was-was dan menurut saja.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu"
Ray menoleh pada Andra seolah menjawab 'apa'. Dari nada perkataannya, jelas ini akan jadi pembicaraan yang serius.
"Ray, kamu serius ingin menikah dengannya?"
Ohh ya ampun bayangan mimpi tadi!
"I-iya, kenapa? " Dengan hati-hati Ray berusaha menjawab dan menanyakan kembali apa maksud pertanyaan Andra padanya.
"Hey bung, pernahkah kau menyangka jika yang sedang kau kencani sekarang hanya berpura-pura hamil dan hanya memanfaatkan empatimu, padahal niatnya ingin menghancurkan keluarga kita" Tutur Andra sambil meneguk segelas air.
Wajah Ray berubah kesal. Mulutnya kini diam, menunggu sang sepupu melanjutkan kalimatnya. Walaupun hatinya sudah panas mendengar penuturan tersebut.
"Ray, kali ini aku serius. Bukan ingin mengejekmu, tidak ingin bertengkar denganmu, dan satu hal lagi... aku tidak ingin kau kecewa terlalu dalam. Kau ingat waktu itu? Alya pernah mengecewakanmu. Setidaknya jika memang kau tidak ingin asing, jangan menerima dia dengan mudah. Ular itu sangat licik, bahkan celah sedikitpun akan ia manfaatkan untuk menerobos dan menghalalkan segala cara untuk keinginannya sendiri!"
