Malam pun tiba, Jason baru saja selesai mengerjakan berkasnya. Tadi ada kolega bisnisnya yang bertamu dan menghadiahkan beberapa makanan untuk diberikan pada keluarganya. Awalnya Jason menolak, namun kolega bisnisnya terus meminta untuk ia menerima dan akhirnya Jason menerima hal itu. Sekali-sekali Jason membawa oleh-oleh untuk istri dan putrinya.
Sampainya ia di mansion, Jason sedikit heran. Suasana rumah begitu sepi, biasanya ada saja yang menyambutnya.
"Istriku, aku pulang" Teriak Jason.
Ketika Jason mendudukkan dirinya di sofa, Jie turun menghampiri suaminya itu. Jason menatap istrinya sedikit cemas, pasalnya raut wajah Jie terlihat lelah dan sedih.
"Ada apa?" Jason bertanya sambil menarik istrinya itu dalam pelukannya. Mengecup singkat bibir istrinya, mengelus lembut surai panjang itu.
"Putri kita, belum pulang sejak tadi siang" Ujar Jie, itu terdengar sangat lirih. Mata Jason memicing, anak nakal. Pikirnya. Tapi yang bisa dilakukan Jason hanya menghela nafasnya berat. Dia kesal dengan putrinya karena membuatnya khawatir dan suka sekali membantah. Apalagi membuat istrinya khawatir dan matanya sembab. Jason tidak suka.
"Jangan khawatir sayang, aku akan mencari anak nakal itu hmm. Sekarang kamu istirahat, pasti lelah" Jason mengeratkan pelukannya. Ia mengeluarkan pheromonenya yang lembut untuk menenangkan istrinya.
Sedangkan di sisi lain, suara dentuman musik terdengar. Banyak orang yang meracau tidak jelas. Ray terlihat duduk dan menikmati cemilan yang ia beli tadi.
"Hey tuan, bolehkah aku minta jajanmu?" Ray menoleh pada wanita di depannya dan langsung memalingkan wajah.
"Tidak, ini semua milikku" Ucap Ray dengan tegas.
"Ck pelit" Wanita itu berdecak dan meninggalkan Ray sendirian.
"Tuan, cobalah minuman ini. Varian baru dari bar kami" Seorang bartender mengalihkan atensi Ray.
"Tidak, aku tidak minum" Jawab Ray dingin sambil mengunyah makanannya.
"Tuan-"
"Berisik! I'm a woman not a man!" Kata Ray dengan keras.
"Maafkan saya, ternyata anda seorang wanita. Baiklah nona, cobalah dulu. Rasanya segar, ketika anda meminumnya. Maka masalah yang anda miliki akan selesai dan lenyap seketika"
Mendengar itu Ray menatap bartender itu kembali, dipikir boleh juga. Hati Ray masih terasa sakit akibat kejadian tadi. Daripada pulang, ia melajukan motornya dan bertemu dengan tempat banyak lampu kelap kelip. Jadi ia putuskan untuk mampir ke sana dan menjadikannya tempat untuk healing sekalian makan cemilannya.
"Berikan padaku, yang paling enak! Awas saja tidak enak, kepalamu akan kujadikan makan piranha" Tukas Ray galak. Tapi bartender itu malah tersenyum. Lalu meracik minuman untuk Ray.
"Baik-baik, silahkan di minum" Bartender itu dengan senyuman khasnya, tentu saja senang karena marketingnya berhasil.
Ray tanpa ba bi bu, langsung meminum itu dengan sekali teguk. Sensasinya berbeda ketika minuman itu melewati tenggorokannya.
"Ehmm enak, berikan aku lagi!" Pinta Ray dan dengan senang hati memberikan vodka itu pada Ray.
Malam semakin larut, Ray sudah seperti orang-orang di sana. Meracau tidak jelas, sesekali menangis tersedu dan tertawa. Dengan jalan yang sempoyongan, ia keluar dari bar.
Karena tak kuat menahan tubuhnya, ia terduduk. Sepintas bayangan di taman tadi lewat lagi. Air matanya kembali mengalir, dan Ray mengutuk pria yang ia pukul tadi.
"Nona muda, anda baik-baik saja?" Tanya seorang pria tegap dengan menepuk-nepuk bahu Ray.
"Emghh siapa kau!?" Ray menatapnya dengan tajam, ia mengeluarkan pheromonenya berniat ingin menekan pria di depannya itu.
