Gelak tawa terdengar nyaring di kamar Axel. Seperti janjinya, Axel mengadakan pesta piyama bersama Yuna. Mereka bertukar curahan hati dengan berbagai topik.
"Mungkin hari ini aku tertawa, tapi besok aku akan menghadapi matematika" Bibir Yuna mencebik, ia sangat senang karena mendapatkan kesempatan yang baik. Tak dapat dipungkiri juga, belajar tiba-tiba di usia remaja banyak membuat ia ketinggalan dan memaksanya untuk belajar sekaligus.
"Yuna, ingat kau harus tetap semangat. Jika sudah pintar sampai kuliah, kakak akan mengunjungimu saat lulus."
Axel mengelus kepala Yuna dengan lembut sembari tersenyum. Yuna membaringkan kepalanya di atas paha Axel lalu memeluk pinggang Axel yang sedikit berisi karena sedang hamil.
"Kakak, menurutmu aku ini apa? Sejak kecil aku tidak tau identitas genderku yang sebenarnya. Sempat ingin memeriksa, tapi aku tidak ada waktu untuk itu, dan aku juga tidak tau caranya"
Mendengar itu Axel merasa sedih, ia mengingat saat ia harus menerima kenyataan jika ia adalah seorang omega. Omega yang dicap lemah, diperlakukan layaknya budak oleh orang tuanya dulu.
"Beta"
Yuna mendongak dan menatap Axel, ia bangun dan meraih kedua tangan lembut itu.
"Bagaimana jika Yuna adalah seorang omega?" Mata itu dengan lekat menatap mata Axel yang teduh. Beberapa detik kemudian Axel tersenyum dan iseng menepuk kepala gadis itu.
"Aku tidak yakin. Menurutku, Yuna sangat kuat dan hebat. Melakukan pekerjaan dengan giat dan selalu menemani kakak"
"Kak Axel, jika bisa memilih. Aku ingin menjadi seorang Alpha" Ucap Yuna berbinar.
"Kenapa?"
"Kalau aku jadi beta memang tidak akan terpengaruh dengan feromon. Tapi jika aku jadi alpha, aku bisa melindungi kakak, bahkan mengusir alpha lain hihi" Axel terkekeh mendengarnya, diam-diam ia tersenyum terharu.
"Yaa bagaimana jika kita buktikan besok? Mari pergi ke rumah sakit untuk mengeceknya. Jangan khawatir, kakak akan bertanggung jawab untukmu!"
"Baiklah!" Dengan senyum sumringah Yuna memeluk Axel dengan erat. Jika kalian mengira badan Yuna yang tak seberapa itu kalian salah. Bahkan tingginya mencapai 176 cm, terkadang Axel berpikir jika Yuna memang sedikit mirip dengan Ray.
"Kenapa kak Axel manis sekali. Bolehkah Yuna menikahi kakak?" Mata Yuna berkedip nakal menggoda Axel.
Puk!
"Hey, kakak sudah menikah. Jangan macam-macam" Tegur Axel.
"Memangnya tidak boleh bertiga ya?" Tanya Yuna lagi.
"Tentu saja tidak, dia milikku pencuri kecil"
Kedua sejoli yang memakai piyama lucu itu menoleh. Yuna tersenyum melihat Ray di ambang pintu.
"Nona Ray, jika kau bosan aku bisa menikahi kakak. Katakan saja ya!" Usai mengatakan itu, Yuna turun dari kasur dan meninggalkan mereka berdua dengan cekikikannya.
"Bocah itu, sepertinya aku punya saingan" Ray merasa was-was mendengar penuturan Yuna barusan.
"Dia hanya iseng, tak perlu kau anggap serius" Axel tertawa kecil melihat ekspresi Ray yang cemberut.
Ray mengunci pintu kamar dengan cepat lalu menghampiri pujaan hatinya di atas kasur. Matanya tertuju pada penampilan Axel yang menggemaskan dengan piyama beruang.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.