30

785 38 4
                                        

Seminggu kemudian, Ray tetap rajin kuliah untuk menyelesaikan pendidikannya. Ia kadang berkunjung ke apartmen untuk melihat Alya. Saat ini tiba juga. Saat ia cuti, dan ingin memperkenalkan Alya pada keluarganya.

Segala persiapan untuk kemungkinan yang buruk sudah Ray pikirkan matang-matang. Apapun nantinya, dia hanya mengikuti arus ini.

Disinilah, di depan mansion keluarga utama Amesthysta. Ray berdiri dengan gagah dan berani, di sampingnya Alya yang menggunakan gaun indah. Jangan lupa perutnya yang kian membesar.

Mereka memasuki mansion dan disambut oleh pelayan. Baru saja lewat ruang tamu. Suara bariton seseorang mengalihkan pandangan keduanya.

"Ekhem"

Ray dan Alya menoleh pada sumber suara. Telihat pria sedang menyender pada dinding mansion.

"Udah bawa pawang aja dek" Pria itu tersenyum sembari menyilangkan tangan di dada. Pria itu memakai hoodie dan sebuah earphone di lehernya.

"Katakan jika kamu iri" Ujar Ray dengan senyumannya.

Pria itu terlihat tidak senang dengan respon Ray. Ia memutar bola matanya dengan malas, lalu matanya melirik kepada Alya.

"Oh jadi wanita ini"

"Sayang"

Suara itu membuat ketiganya menoleh.

"Ibu!"

"Bibi!"

Seorang pria manis dan menawan yang dipanggil berbeda itu terkekeh dan menghampiri mereka bertiga.

"Ya ampun lagi reunian toh" Ucap pria itu lalu duduk di sofa. Sebelumnya ia terlihat santai, tapi seketika pandangannya menoleh pada Ray.

"Sudah kukatakan jangan panggil aku dengan itu. Panggil saja madam
Ela"

Ray lantas tersenyum, ia menarik tangan Alya dan ikut duduk di sofa.

"Tapi sebutan itu cocok untuk bibiku yang cantik" Ucap Ray dengan senyuman lebarnya.

"Heh! Aku tampan. Ray, ternyata penyakit buayamu itu semakin parah. Jangan sampai kamu jadi buaya makan manusia ih ngerinya" Ujar Elard sambil wajahnya menampilkan ekspresi yang sangat menghayati.

Ray tertawa saja, bibinya ini orangnya gak baperan! Suka diajak bercanda dan mengerti jokes. Berapapun Elard melontarkan candaan kepadanya, Ray sama sekali tidak sadar jika mata pria cantik itu tak terlepas dari Alya.

Tiba-tiba seorang pria yang memakai hoodie itu menyeletuk dan duduk di samping Elard.

"Ya dia memang buaya bu, kenapa tidak usir saja?" Tawar pria yang memakai hoodie dan earphone di lehernya lalu pergi meninggalkan mereka semua.

Setelah sesi bercanda tersebut, kini semua berada di meja makan dengan makanan enak yang sudah terhidang diatasnya. Kali ini semua anggota keluarga terlihat sedang makan malam bersama.

Tapi tidak dengan Ray dan pria norak disebelahnya ini.

"Heh kotok, jangan sembarangan menaruh sayur di piringku" Teriak Ray muak. Bagaimana tidak muak coba? Sayur itu sudah dimasukkan ke mulut, karena rasanya tidak sesuai di lidah si kotok ini. Dia memindahkan sayur itu ke piring Ray.

Mentang-mentang Ray suka sayur!

Yang dipanggil kotok itu tidak peduli, ia santai menikmati makanannya tanpa menoleh pada Ray.

Ray yang muak ingin sekali menarik kursi kotok ini. Tapi, pria disebelahnya malah tersenyum geli.

"Kalian cukup"

Alpha WomanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang