Haira adalah gadis lugu yang punya keseharian yang amat membosankan. Bagaimana tidak, sehari-hari Haira hanya belajar dan belajar. Tidak seperti remaja pada umumnya. Apakah Haira normal? Tentu, gadis itu normal. Hanya saja agak sedikit nyentrik.
Nam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sembari membaca buku di atas kasur, beberapa kali aku mengangkat dan memyimpan hpku di atas nakas. Sampai membuat Fazriana dan Syifa yang tengah duduk di kursi panjang dekat jendela merasa risih dan tidak tahan untuk bertanya. "Kenapa sih, Ra? Tangan lo gak bisa diem, ya?" Itu Syifa yang pertama kali bertanya. Diikuti anggukan Fazriana yang seolah menanyakan hal serupa.
"Kamu nungguin chat dari siapa sih sebenarnya?" tanya Fazriana kemudian sambil tetap duduk di posisinya.
Aku terdiam sebentar. Memikirkan jawaban yang tepat supaya mereka gak mikir macam-macam.
"Ra?" Syifa menyenggol lenganku. Gadis itu berpindah duduk di tepi ranjang. "Malah bengong."
Aku menatap matanya dan berkata ragu-ragu. "Aku ... nungguin kabar dari Yuta."
Usai mengatakan itu, sontak ekspresi muka kedua gadis itu langsung berubah marah. Membuatku ngeri melihatnya.
"Ra ... jangan bilang lo mau jadi pelakor?"
Ku lempar bantal yang ada di sampingku ke wajah Syifa. Emang, ya, ini anak mulutnya itu loh, gak ada akhlak.
"Enak aja!" ucapku. "Gak usah mikir yang macem-macem deh. Aku cuma penasaran sama apa yang mau diomongin sama dia. Kemarin kan dia bilang mau ketemu dan mau bilang sesuatu yang penting."
Syifa dan Fazriana kompak memutar bola mata, tak percaya dengan perkataanku.
Tiba-tiba handphone kami bertiga berdering bersamaan. Sepertinya ada pesan masuk dari grup. Fazriana dan Syifa langsung mengecek handphone mereka, sedangkan aku menyimpan kembali benda itu karena bukan itu yang aku tunggu.
"Tapi gak semua hal yang ada di sana itu gak penting loh. Kamu juga perlu tahu apa yang mereka bicarakan. Bisa jadi ada hal yang tidak bisa diabaikan."
Kalimat itu tiba-tiba terngiang-ngiang di kepalaku. Membuat aku yang tadinya enggan, kembali mengangkat handphoneku dan membaca pesan yang semakin bertambah.
Saat membaca pesan itu, tubuhku menegang, tanganku pun ikut bergetar. Air mataku berkumpul di pelupuk mata dan menetes tanpa aba-aba. Dadaku rasanya sesak sekali. Ini bohong kan?
Andi : Inalilahi wainailaihirojiun. Telah meninggal dunia pada pukul 13.00 WIB, teman kita Yuthakon Neo Gennadi di Bandung. Guys, maafin Yuta, ya, kalau ada salah sama kalian.
Ini bohong kan? Pasti ini cuma prank. Iya. Pasti cuma prank!
"Jaga diri kamu, ya, Ra."
"Apa kita bisa bertemu setelah acaranya selesai? Aku takut tidak punya waktu lagi untuk mengatakannya."
Kalimat-kalimat itu kembali berputar di kepalaku. Kalimat itu seperti sebuah perpisahan. Seakan Yuta sudah tahu bahwa dia akan pergi. Dan sialnya, aku baru menyadarinya sekarang.