Coretan Yuta

14 2 1
                                        

Aku tinggal di panti asuhan yang bernama Kasih Biru

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku tinggal di panti asuhan yang bernama Kasih Biru. Aku dibuang dan ditemukan di depan pintu panti asuhan. Aku tidak berniat mencari tahu siapa orangtua kandungku, karena sejak lahir aku memang tidak diinginkan. Itulah alasan kenapa aku dibuang. Lagi pula aku juga tidak peduli dari mana asal usulku. Terdengar sangat pedih memang. Tapi sudahlah tidak perlu dipikirkan. Lebih baik aku nikmati hidup yang sudah Tuhan berikan untukku.

Namun sejujurnya, jauh di lubuk hati, aku juga menginginkan kehadiran sosok  ayah dan ibu. Dan harapanku itu akhirnya terkabul. Setelah delapan tahun tinggal di panti, akhirnya ada sepasang suami istri yang mengadopsiku.

Bunda Maya–pemilik panti asuhan–bilang aku beruntung karena akan diadopsi oleh orang-orang baik. Mereka adalah donatur panti sejak awal panti ini berdiri. Namanya Pak Neo dan Bu Kannika. Mereka sudah memiliki seorang putra. Keinginan untuk memiliki anak lagi muncul ketika anak semata wayangnya menginginkan seorang adik. Namun hal itu tak bisa terwujud karena Bu Kannika difonis tidak bisa hamil lagi.

Saat aku dijemput oleh Pak Neo dan Bu Kannika, aku merasa senang sekali. Mereka menyambutku dengan ramah. Benar kata Bunda Maya, mereka orang yang baik.

Bu Kannika membungkuk, menyejajarkan tubuhnya denganku. Beliau menyapaku dengan riang. "Halo, Gennadi. Saya Kannika mama baru kamu." Kemudian beliau menunjuk pria tinggi dengan setelan jas berwarna khaki dibalut kaos putih dan celana bahan berwarna senada. "Dan ini Ayah baru kamu." Pria itu tersenyum tipis.

"Umur kamu berapa, Sayang?" tanya Bu Kannika.

Aku menjawab, "Delapan tahun lebih dua bulan, Bu."

Tiba-tiba Bu Kannika tertawa. Entah menertawakan apa. Aku pun tidak tahu. Apakah ada yang lucu dari kata-kataku?

"Sayang, jangan panggil Bu. Panggil Mama aja. Saya kan mama kamu sekarang,"

Aku mengangguk kaku.

"Oh iya, usia kamu ternyata hampir sama dengan anak mama. Cuma beda tiga bulan. Dia lebih muda dari kamu. Namanya Tan. Dia pasti akan senang ketemu kamu."

Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan saudara baruku.

🌸🌸🌸

Sebelum pulang ke rumah, kami mampir dulu ke mall. Bu Kannika membelikanku banyak barang, mulai dari baju, sepatu, laptop, handphone dan keperluan-keperluan lainnya. Padahal aku tidak terlalu memerlukan barang-barang itu, tetapi Bu Kannika tetap memaksa untuk membelinya.

Di perjalanan pulang, Bu Kannika banyak bercerita tentang kehidupan mereka. Sementara Bu Kannika berceloteh, Pak Neo hanya mendengarkan sambil fokus menyetir. Sepertinya beliau orangnya tidak banyak bicara tapi tampak berwibawa.

"Tadinya Tan mau ikut jemput kamu, tapi Mama larang karena Tan lagi les piano. Ngomong-ngomong kamu suka main alat musik gak, Sayang?" Bu Kannika bertanya dengan riang.

Anyelir Twenty-sixCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang