Coretan Yuta (2)

22 2 4
                                        

Seorang siswa keluar dari ruang BK sambil meringis memegangi pipinya yang memar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Seorang siswa keluar dari ruang BK sambil meringis memegangi pipinya yang memar. Tampaknya siswa itu berkelahi dengan seseorang. Tidak lama kemudian keluar dua orang dewasa yang berusia sekitar tiga puluhan akhir. Mungkin mereka orangtua siswa itu.

"Itu kan Angga. Kenapa dia? Wajahnya kok memar gitu?" tanya Tan sambil menunjuk anak lelaki yang tengah berdiri di depan ruang BK. Rupanya Tan juga sedang memperhatikan orang yang sama denganku.

"Lo kenal?" tanyaku sambil menjilat es krim yang meleleh di tangan.

Tan mengangguk. "Kenal. Dia satu ekskul sama gue. Dulu anaknya kalem, pinter, gak banyak tingkah juga. Tapi gak tahu kenapa, akhir-akhir ini dia suka bully siswa lain dan sering berantem."

"Oh, gue inget sekarang! Angga yang pas hari guru bacain surat cinta lo buat Bu Siska, kan?"

Es krim vanila yang masih utuh seketika mendarat di hidungku. Pelakunya siapa lagi kalau bukan Tan.

"Kampret!" umpat Tan. "Kenapa yang lo inget cuma kejadian itu?"

"Lah, ya mana gue tahu. Otak gue refleks ingetnya itu."

Tiba-tiba Tan mengisyaratkan kepadaku untuk berhenti bicara. Saat aku menoleh ternyata Angga dan orangtuanya tengah berjalan melewati kami. Sedikit percakapan mereka kami dengar.

"Angga, sebenarnya kamu ini kenapa sih. Kamu itu anak Papa yang paling pinter kenapa sekarang kamu jadi suka berantem gini?" tanya seorang lelaki yang tengah merangkul Angga.

"Aku begini gara-gara Papa sama Mama!" teriak Angga. Sontak kedua orangtuanya berhenti berjalan.

Lelaki yang Angga panggil Papa itu menatap anak semata wayangnya sambil mengerutkan keningnya bingung.

"Maksud kamu apa, Nak?" tanya mamanya Angga dengan lembut.

Angga tampak marah, kedua tangannya mengepal. "Karena Papa sama Mama mau cerai."

Mendengar hal itu, Papa dan Mama Angga saling pandang. Mereka berdua lalu merangkul pundak Angga bersamaan.

"Maafin kami ya, Nak. Karena keegoisan kami kamu jadi kayak gini."

"Jika perceraian kami membawa dampak buruk buat kamu." Mama Angga memandang Papa Angga lalu beliau mengangguk. "Kami memutuskan untuk rujuk kembali."

Entah apa yang ada di pikiran Tan, dia tiba-tiba senyum-senyum sendiri. Tapi, senyumnya itu mencurigakan gitu lho.

"Kenapa lo? Senyum-senyum sendiri. Keinget Bu Siska lo?" tanyaku.

Seketika senyum Tan memudar. Ia menatap sinis ke arahku. Lalu memukul belakang kepalaku. "Enak aja! Bukanlah."

"Terus lo mikirin apa?"

"Ada deh pokoknya."

Aku mendecih. Lalu menatapnya curiga. "Jangan-jangan ..."

Anyelir Twenty-sixCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang