Haira adalah gadis lugu yang punya keseharian yang amat membosankan. Bagaimana tidak, sehari-hari Haira hanya belajar dan belajar. Tidak seperti remaja pada umumnya. Apakah Haira normal? Tentu, gadis itu normal. Hanya saja agak sedikit nyentrik.
Nam...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Berhasil kabur dari amukan Hazel, aku dan Tan sampai di rumah dalam keadaan kacau. Tan tak henti-hentinya menangis. Dia ketakutan dan mengurung diri di kamar. Sedangkan aku kini tengah diintrogasi oleh Papa dan Mama. Setelah kami sampai di rumah, Mama menelepon Papa dan memintanya untuk pulang. Mereka ikut panik sampai lupa kalau Papa dan Mama sedang bertengkar.
Papa duduk di sofa bersamaku, sedangkan Mama sedang mengambil air minum di dapur. Kami berdua sama-sama diam, tidak ada yang membuka suara.
"Minum dulu, Sayang," pinta Mama sambil menyodorkan gelas kepadaku. Setelah aku mengambil gelas itu, Mama duduk di sebelahku.
"Yuta, bisa kamu ceritakan sama Papa, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Papa akhirnya setelah terdiam cukup lama.
Aku tidak berani memandang Papa dan Mama. Rasa takut akan mengecewakan mereka mulai memenuhi pikiranku. Anak yang tidak tahu terima kasih. Kalimat itu muncul di kepalaku.
"Yuta." Papa menepuk pundakku pelan.
"Maafin aku Pa, Ma. Ini salah aku. Harusnya aku bisa jagain Tan dengan baik," ucapku sambil meremas celanaku.
Mama mengusap telapak tanganku yang terasa dingin. "Sayang, coba kamu ceritakan dulu sama kami apa yang terjadi pada kalian berdua. Kamu jangan takut, kami janji tidak akan marah. Iya kan, Pa?" Mama menoleh pada Papa, lalu Papa mengangguk mengiyakan.
Aku menceritakan semua yang terjadi kecuali bagian Tan yang tidak sengaja menikam Fatir. Aku mengaku pada Papa dan Mama bahwa akulah yang menikam Fatir.
Papa menyandarkan tubuhnya di sofa sambil menghela napas panjang. Aku yakin Papa pasti kecewa dan marah kepadaku.
"Yuta, Mama tahu kamu sangat menyayangi Tan. Tapi bukan berarti kamu harus menanggung kesalahannya. Katakan kepada kami yang sejujurnya, Sayang." Aku menelan ludah. Bagaimana ini? Sepertinya Mama tahu kalau aku berbohong.
"Benar, Ma. Memang Yuta yang menikam Fatir. Tan gak salah apa-apa," ucapku berusaha meyakinkan Mama.
"Jika kamu yang salah, kenapa Tan yang bersembunyi? Kenapa bukan kamu?" Kali ini aku tidak bisa membalas pertanyaan tepat sasaran dari Mama.
Mama menggenggam tanganku. Memberikan kehangatan dari telapak tangannya. "Yuta, Mama harap kamu bisa mengatakan yang sebenarnya supaya kami bisa membantu kalian berdua. Karena jika kamu berbohong, masalahnya akan semakin rumit, Sayang."
Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba saja pintu utama diketuk oleh seseorang. Bi Hanum-asisten rumah tangga kami-membukakan pintu dan kembali menghampiri kami.
"Ada yang mencari Kang Yuta, Bu," ucap Bi Hanum.
"Siapa, Bi?" tanya Mama.
Butuh waktu lama Bi Hanum menjawab pertanyaan dari Mama. "Polisi, Bu."
Papa dan Mama saling pandang. Kemudian Papa menyuruh Bi Hanum untuk meminta Polisi itu masuk.
"Selamat siang, Pak, Bu." Salah seorang pria yang berseragam menyapa kami.