HAPPY READING!
"Katanya, rumah adalah tempat nyaman untuk pulang. Tapi, kenapa rumahku begitu dingin dan tak ada kenyamanan?"
⏳⏳⏳
Setelah beberapa hari di rumah sakit, hari ini Bi Reni menemani Zayyan untuk pulang ke kediaman Umbara. Nama yang masih terlalu asing baginya.
Zayyan sudah mendapatkan separuh ingatan dari sang pemilik tubuh. Tapi tetap saja, dia masih agak sedikit linglung karena ini memang bukan kehidupannya.
Ternyata Zayyan dirawat di rumah sakit ini karena percobaan bunuh diri. Gila! Selelah itukah sampai menjatuhkan diri dari lantai tiga rumahnya? Zayyan terbayang-bayang bagaimana ingatan itu tiba-tiba muncul begitu saja.
Zayyan yang dibenci sejak kecil. Diasingkan, dicaci maki, dan disiksa secara fisik maupun batin. Kasihan sekali.
"Sudah siap Zayyan?" tanya Bi Reni yang sudah selesai mengemasi barang-barang. Zayyan yang memang sudah siap dari tadi hanya mengangguk. Ia harus menyiapkan mental.
"Ayah... Bunda... Do'ain Zayyan semoga kuat!"
Setelahnya, mereka berdua keluar dari ruangan dan menghampiri supir pribadi keluarga yang sudah standby di depan. Perjalanan tidak begitu lama. Sekitar 30 menit dari rumah sakit, sekarang mereka sudah sampai di mansion mewah keluarga Umbara.
"Sudah sampai bi?"
"Sudah. Nanti Zayyan langsung masuk ke kamar aja ya istirahat. Kalau ada yang mau ganggu, biarin aja. Bibi mau belanja dulu. Zayyan masuk sendiri nggak papa kan?"
Zayyan mengangguk, kemudian keluar dari mobil dan berjalan santai memasuki halaman rumah mewah itu. Mukanya santai, tapi hatinya panik. Ia harus berakting menjadi polos dan tidak ingat apapun.
Saat memasuki rumah itu, Zayyan merasa sangat sepi. Hanya ada beberapa pelayan yang tengah melakukan tugasnya. Berbekal sedikit ingatan, Zayyan berjalan menuju salah satu kamar di lantai dua.
Zayyan membuka pintunya dengan perlahan, dan benar ini kamarnya. Cowok itu mengedarkan pandangannya untuk melihat isi kamar. "Hmm, not bad lah. Agak sempit dikit nggak ngaruh."
Baru saja mendudukkan diri di kasur, Zayyan terkejut dengan nada dering ponsel.
"Anjir! HP siapa tuh bunyi mulu!" Cowok itu celingukan sambil mencari sumber suara. Dan akhirnya ia menemukan sebuah ponsel berlogo Apple digigit itu di dalam laci meja belajar. Zayyan meraihnya dan melihat nama si penelpon.
"Leon? Ini siapa deh?"
Zayyan menggeser ikon berwarna hijau untuk menjawab telepon...
"AKHIRNYA DIANGKAT!" Cowok itu reflek menjauhkan handphone dari telinganya.
"Zay?! Hello Zayyan? Lo denger gue kan? Lu belum mati kan? Jawab sat!"
Zayyan memutar bola matanya malas. Ini monyet dari mana lagi teriak-teriak begini.
"Lo siapa? Terus bisa stop teriak? Gue nggak tuli."
"Ha?! Lo nggak inget sama gue? Yang bener aja gila!"
"Kata dokter gue anemia jadi nggak inget apa-apa."
"Ha? Kok anemia? Amnesia bego!"
"Eh? Itulah pusing gue lo siapa si?!"
"Gue nggak terima ya lo lupain gini! Gue Leon, sahabat yang paling Lo cinta inget itu! Ntar gue otw rumah lo. Diem di rumah!"
"Dih najis. Tap..."

KAMU SEDANG MEMBACA
Zayyan's Different Life ✓
Teen FictionKeluarga harmonis adalah impian setiap orang. Dan Zayyan sudah mendapatkannya. Zayyan Ruby Abraham namanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sempurna, pengertian, dan selalu membuatnya terus bersyukur. Sedangkan di lain tempat, Zayyan Ghifariel. T...