23. Hari baru dimulai

612 76 11
                                    

HAPPY READING!

⏳⏳⏳

"Jadi lo sama keluarga lo udah damai?" Leon mengambil cireng di piring yang mereka pesan beberapa menit lalu. Cowok itu terlihat kurang yakin dengan apa yang Zayyan ceritakan.

Zayyan mengangguk pelan. "Mau lari sampai ujung dunia pun, kenyataannya cuma mereka keluarga gue."

"Sama abang-abang lo baikan juga?"

"Nggak tau sih belum sampai ngobrol gitu. Baru ngobrol sama papa aja."

"Lah si anjing!" Leon mencibir. "Kok gue yang nggak rela ya? Liat gimana kelakuan mereka sama lo tuh pengennya mereka nyesel dulu sampe mohon-mohon gitu. Pasti seru!"

"Kebanyakan baca novel fiksi lo!"

"Loh tapi emang ini kecepetan anjir lo maafinnya. Baru kemarin gue liat drama lo sama abang-abang durjana lo itu. Eh, udah kelar aja," cerocos Leon tanpa menyadari ada segerombol siswa di belakangnya.

"Siapa yang durjana?" Seseorang tiba-tiba bersuara membuat Leon berjengit dan menoleh ke belakang.

"Buset! Sejak kapan lo pada di sini, Bang?" Tanpa takut Leon justru sok akrab dengan circle itu. Ia menoleh pada seseorang yang berdiri paling kanan.

"Bang, Dev. Lo tinggi banget makannya apa dah? Tiang listrik kah?" tanyanya random. Sedangkan yang ditanya hanya memberikan senyumnya terpaksa. Sedang tidak mood dia tuh.

"Heh bocil! gue tanya ya tadi siapa yang lo bilang durjana itu ha?!" Bian mulai jengah dengan Leon yang mengalihkan pembicaraan.

"Nggak usah nanya kalau udah tau yang gue maksud!" jawab Leon ketus. "Lo durjana! Puas?!"

"Lo minta gue puk--"

"Nggak mau ah! Gue maunya yang pedes!"

Bian menghentikan omelannya ke Leon saat mendengar protesan Zayyan pada Bhima. Cowok itu tiba-tiba membawakan Zayyan nasi goreng. Wah, sepertinya Bian kalah start dengan Bhima nih?

"Jangan pedes terus. Ini makan dulu yang penting perutnya keisi. Lo tadi pagi nggak sarapan malah cuma beli cemilan begitu. Beberapa suap aja udah cukup kok."

Beberapa murid di sana sempat melongo mendengar Bhima yang berbicara panjang seperti itu. Karena sebelumnya, Bhima itu terkenal sangat irit dalam berbicara guys!

Bahkan sekarang Alex juga nampak belum terbiasa dengan kelakuan si kembar yang mulai mencoba menarik perhatian adiknya itu. Dulu, jangankan perhatian. Menyebutkan nama Zayyan saja marahnya bukan main. Dunia benar-benar berputar. Dan sekarang, mereka sedang dalam fase terbalik.

"Gue nggak mau. Mual kalau nggak ada pedesnya." Zayyan kembali mendorong piring dan memakan cireng isi ayam suwir pedas yang sempat ia pesan bersama Leon tadi. Ini baru namanya makanan, ada rasanya. Nasi goreng yang dibawa Bhima itu sangat tidak menarik.

"Yaudah itu cireng buat lauk nasi gorengnya," kata Bian memberi saran.

"Cireng pake nasi? Yang bener aja lah!" Bukan Zayyan, tapi Leon yang protes.

"Lo nyambar mulu sih. Makan nih cireng!" Bian dengan kesal mengambil cireng di depannya dan menjejalkan ke mulut Leon.

"Sttt! Diem ah ribut mulu." Zayyan mulai jengah. "Lagian lo pada ngapain malah duduk di sini? Meja banyak yang masih kosong tuh."

"Pengen sama lo," jawab Bhima membuat Zayyan berekspresi jijik.

"Dih! Alay banget anj--"

"Mulut lo, Dek!"

Zayyan's Different Life ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang