28. Lelahnya Zayyan

745 89 19
                                    

HAPPY READING!

⏳⏳⏳

Seminggu sudah berlalu semenjak kejadian itu. Dan kabar meninggalnya Bhima salah satu most wanted di Armada masih hangat diperbincangkan. Kesedihan dan keterkejutan semua bercampur menjadi satu.

"Nyesel gue nggak confess dulu waktu itu."

"Masih nggak nyangka Kak Bhima udah nggak ada."

"Sedih banget gue. Huaaa!"

Bian berjalan dengan pandangan lurus. Wajahnya begitu dingin dan datar. Semua orang memaklumi sikap cowok itu yang berubah drastis karena kematian kembarannya. Bian yang biasanya cerewet dan suka menyapa siapapun, sekarang jangankan menyapa, membuka suara saja sepertinya sangat sulit.

Dorongan dari keluarganya, membuat Bian seperti mendapat dukungan untuk berubah. Sikapnya selama ini terlalu sembrono dan seenaknya. Dia sama sekali tidak pernah memikirkan akibat dari apa yang dilakukannya. Dia harus mengubahnya.

Semesta memberikan kesempatan. Tapi ada satu yang sulit untuk dia taklukan sekarang. Adiknya, Zayyan. Anak itu sudah tau semua akal busuk yang menyebabkan Bhima celaka.

"Gue nggak nyangka pikiran lo sejahat itu karena pengen gue mati," ucap Zayyan waktu itu.

Setelah mengetahui itu, Zayyan seolah takut setiap bertemu dengan Bian. Anak itu selalu menghindarinya. Bian sadar, kesalahannya begitu besar dan mungkin tidak termaafkan. Tapi kali ini dia sudah mendapat pencerahan. Bian tidak akan menyerah begitu saja.

Seperti saat ini, cowok itu berjalan cepat ke arah kelas Zayyan sambil membawa beberapa camilan.

Kedatangan Bian membuat kelas yang tadinya cukup ramai, jadi senyap seketika. Hal itu tentu saja membuat Zayyan yang tengah bercanda dengan Leon itu menoleh ke arah pintu. Di sana Bian mulai menghampirinya sambil tersenyum tipis.

"Gue bawa jajan," katanya sambil meletakkan beberapa bungkus ciki.

Zayyan menghela napas dan meraih satu kotak susu dengan rasa strawberry. "Gue nggak suka rasa ini. Ambil aja."

Bian termenung. Selama ini, dia memang tidak pernah tau makanan atau minuman yang disukai adiknya itu. Kemudian ia mengangguk saja. "Yaudah, kasih Leon aja kalau ada yang lo nggak suka."

Zayyan ikut mengangguk dengan wajah datarnya. "Oke, ini buat lo semua." Zayyan mendorong semua jajanan ke sampingnya. Di mana Leon hanya menyimak dengan malas drama yang beberapa hari terakhir ini selalu ada di hadapannya.

"Lo nggak suka semua?" tanya Bian dengan sabar.

"Gue nggak suka yang ngasih."

***

Gundukan tanah yang masih basah di depannya itu selalu berhasil membuatnya melemah. Bian terisak memegangi papan nisan bernama Abhima Umbara. Penyesalan selalu menghantuinya sampai Bian merasa dirinya hampir gila.

Semalam, Bhima datang ke mimpinya dengan perban di kepalanya. Kembarannya itu berpesan agar Bian bisa berubah dan memperbaiki hubungannya dengan adik mereka. Tapi, Bian merasakan mimpi itu seperti nyata. Bhima sperti benar-benar datang dan menemuinya.

"Gue bakal berusaha untuk perbaiki diri. Gue sebego itu ya, Bhim?" Bian terkekeh. "Bahkan, tuh cewek sampai sekarang nggak pernah kelihatan batang hidungnya lagi."

Dengan sesekali menaburkan bunga, Bian menatap sendu gundukan tanah itu. Benarkah dia sudah tidak bisa lagi bertemu dengan kembarannya? Sejauh ini?

Zayyan's Different Life ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang