HAPPY READING!
⏳⏳⏳
"Zayyan!"
"Eh adek mau kemana?" Atha yang sedang duduk di depan ruangan langsung berdiri saat melihat Zayyan keluar. Ia sempat kaget karena anak itu masih sakit.
"Zayyan harus keluar, Bang. Ini darurat banget!" jawab Zayyan dengan wajah yang cemas. "Boleh kan?" lanjutnya penuh harap. Ia tau Atha tidak berani menolak permintaannya.
Atha terlihat berpikir. Jujur daja, ia ingin melarang dan menyuruh Zayyan kembali berbaring dan memulihkan kondisinya. Tapi melihat raut berharap di wajah itu, Atha jadi sedikit luluh. "Oke, tapi abang temani."
Zayyan mengembangkan senyumnya. "Ayok!"
Saat hendak berlari, Atha menahan tangan Zayyan dan langsung membungkuk di depan anak itu. "Abang gendong?" tawar Atha membuat Zayyan menggeleng cepat.
"Nggak us--"
"Nurut atau nggak jadi pergi?!"
"Ck! Iya iya."
Atha benar-benar menggendong Zayyan di punggungnya. Mereka mulai melangkah dan ingin meninggalkan rumah sakit. Tentang bagaimana dokter menanyakannya, Atha yang akan pikirkan.
Sementara Bhima justru berdiri diam dengan mata yang tak lepas menatap kepergian sepupu dan adeknya itu. Ada rasa iri melihat komunikasi Atha dengan Zayyan yang menurutnya sangat dekat. Bahkaqn, Bhima tidak pernah menggendong Zayyan. Apakah selama ini dia memang sudah terlalu jauh menjaga jarak?
***
"Mau kemana?" tanya Atha saat mereka sudah di dalam mobil. "Jangan yang aneh-aneh ya."
"Ke rumah Bang Dean." Zayyan menyenderkan punggungnya ke kursi mobil dan memejamkan mata merasakan kepalanya yang sedikit pening. Tapi, masalah kali ini harus ia pecahkan. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Dean? Kaya nggak asing deh."
"Tetangga sebelah dulu."
Atha masih mengerutkan dahinya mencoba mengingat. Namun, sepertinya ingatannya sangat terbatas. Ia tidak bisa mengingatnya.
"Udah jalan aja nanti aku arahin." Zayyan mengambil ponsel di sakunya. Ia sempat mengantonginya saat sedang berdebat dengan Bhima.
Cowok itu mengotak-atik ponselnya mencari kontak seseorang. Setelah menemukannya, ia buru-buru menghubungi sang pemilik nomor berharap tidak ada hal yang aneh.
Tut... Tut...
Telepon tersambung, tapi tidak kunjung diangkat. Hal itu tentu saja membuat Zayyan semakin cemas. Sementara Atha di sampingnya hanya menyaksikan sikap Zayyan yang tidak ia pahami.
"Agak cepetan dikit, Bang! Nanti depan belok kiri," ujar Zayyan panik sambil menepuk-nepuk lengan Atha.
"Kenapa si? Zayy... Tenang dulu."
"Gimana gue bisa tenang? Ini udah kacau! Semuanya kacau! Argh!" Zayyan meremat rambutnya merasa frustasi. Jika kali ini dugaannya benar, Zayyan tidak akan memaafkan diri sendiri.
"Sttt! Dek, jangan gitu. Kepalanya makin pusing ntar."
Zayyan diam, sampai beberapa menit setelahnya ia melihat rumah Dean. "Bang yang itu rumahnya. Cepet!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Zayyan's Different Life ✓
Teen FictionKeluarga harmonis adalah impian setiap orang. Dan Zayyan sudah mendapatkannya. Zayyan Ruby Abraham namanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sempurna, pengertian, dan selalu membuatnya terus bersyukur. Sedangkan di lain tempat, Zayyan Ghifariel. T...