24. Fakta baru?

584 80 12
                                    

"Nih makan ikannya." Bagas meletakkan sepotong ikan goreng di piring Zayyan.

"Ini juga sayurnya harus di makan." Bhima yang ada di samping Zayyan juga ikut menyendokkan sayur ke piring.

Sementara Bian yang duduknya berseberangan juga tidak mau kalah. Cowok itu mengambil sepotong ayam dan meletakkan di samping ikan yang Bagas ambilkan. "Nah ini juga ya. Makan yang banyak!"

"Kalian apa-apaan sih? Itu adek kalian sampai bingung piringnya penuh." Regi geleng-geleng dan tersenyum tipis melihat tingkah anak-anaknya.

"Terus gue makannya gimana ini?" tanya Zayyan masih memandangi piringnya yang penuh.

"Mau abang suapin aja?" tawar Bagas membuat Zayyan menoleh cepat. Agak lain emang nih orang.

"Zayyan bisa sendiri!" jawabnya ketus. "Lagian kalian sih. Kan gue bisa ambil sendiri."

"Aku bukan gue," ralat Bagas.

"Hah?"

"Kalau sama keluarga jangan gue gue, Zayyan. Bisa, kan?"

"Emang harus begitu?" tanya Zayyan dengan polosnya. Membuat Bagas menghela napas mencoba memaklumi. Mereka baru saja dekat akhir-akhir ini. Jadi Zayyan masih menganggapnya seperti orang asing.

"Harus! Biar sama-sama enak."

Zayyan mengangguk sambil menyendokkan nasi ke mulutnya. "Oke."

Seperti inilah yang sejak dulu Zayyan inginkan. Berkumpul dan makan bersama hangatnya keluarga sambil berbincang tentang bagaimana kita melewati hari ini. Tapi karena sudah terlalu lelah, ia sekarang tidak begitu antusias tentang hal semacam ini.

Mereka pun akhirnya diam dan sibuk dengan makanan masing-masing. Sampai akhirnya Regi membuka suara.

"Atha katanya mau sama tinggal di sini." Kalimat itu berhasil membuat mereka berhenti mengunyah dan langsung menatap Regi bingung.

"Yang bener aja, Pa. Nggak usah bercanda ah!" Bian tampak tidak suka. Abang sepupunya itu sangat menyebalkan baginya. Membayangkan mereka tinggal bersama saja sudah membuatnya kesal bukan main.

"Tadi papa main ke sana. Dia sendiri yang bilang begitu kok."

"Suruh balik ke Korea aja," kata Bagas dengan wajah datarnya.

"Emang kenapa kalau Bang Atha di sini? Bagus dong. Jadi aku nggak harus bolak-balik ke sana. Sekalian sama papi suruh tinggal di sini."

"Nggak! Nggak usah ngaco kamu."

"Eh, kok malah pada ribut di meja makan? Papa bercanda kok. Mereka dalam waktu dekat memang mau pulang ke Korea. Bagaimana pun ada banyak hal yang nggak bisa mereka tinggalkan di sana," jelas Regi membuat anak-anaknya menghela napas lega. Kecuali Zayyan yang sudah melipat bibirnya menahan tangis. Sedih dia tuh. Kok mereka nggak bilang sama Zayyan ya?

Suara kursi membuat semua orang menatap Zayyan yang ternyata sudah berdiri. Anak itu langsung melangkah pergi menaiki tangga.

"Loh mau kemana?" tanya Bhima.

"Kamar," jawab Zayyan seadanya. Kemudian langsung berlari dan tidak mau mendengar apapun lagi.

"Kenapa dia?" Bian menatap ke atas, terlihat Zayyan sudah menutup pintu kamarnya dengan rapat.

Bhima hanya mengangkat bahunya tak tahu.

"Biarkan dulu."

***

Shaka tengah menatap jengah mamanya yang sejak semalam mondar-mandir di kamarnya. Dia hanya sedikit lemas, bukan mau wafat. Kenapa orang-orang selalu lebay.

Zayyan's Different Life ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang