Hai guys! Sebelum baca lebih lanjut, jangan lupa untuk follow dan votenya ya!
HAPPY READING!
⏳⏳⏳
"Tuhan selalu baik dengan menghadirkan orang-orang tulus di sekitar kita. Meskipun terkadang hal tak terduga selalu
datang tanpa aba-aba."***
Zayyan Ruby Abraham. Nama yang tersusun indah, seperti susunan keluarganya. Anak bungsu dari Heru Abraham dan Citra Chalista. Sifatnya manja, sedikit nakal dan tengil, membuat semua orang lelah dengan kelakuannya.
Dia memiliki seorang kakak laki-laki bernama Keano Al Abraham. Yang selalu siap siaga melindunginya dalam keadaan apapun. Jangan tanya seberapa besar rasa sayang Kean kepada Zayyan. Kalau kata Kean 'infinity'.
"Dek, jangan lari-lari kalau turun tangga, nanti jatuh!" teriak Kean dari ruang tengah. Zayyan yang mendengarnya hanya memutar bola matanya malas. Kakaknya itu selalu over protektif. Dia kan bukan anak kecil lagi. Dia sudah mau masuk SMA!
"Lebay lu, Bang. Lagian gue kan nyawanya sembilan, jadi tenang aja."
Lihat? Anak ini selalu seperti itu.
"Musibah tidak ada yang tau, Zayyan." Citra datang dari arah dapur, merangkul Zayyan dan berjalan untuk duduk di ruang keluarga bersama yang lain. Ada Kean dan Heru ayahnya di sana.
"Iya bundaku sayang." Zayyan memeluk bundanya setelah mereka duduk di sofa, di ruang yang selalu mereka pakai untuk berkumpul setiap hari. Di samping kirinya ada Heru dengan laptop di pangkuannya. Pria itu tengah fokus dengan pekerjaan. Sedangkan Kean duduk di bawah, di karpet bulu dengan tangannya yang asik memencet remot untuk mencari film untuk ditonton bersama.
"Mau nonton apa dek?" Kean menoleh ke belakang. Melihat Zayyan yang nampak berpikir.
"Ipar adalah maut, lagi rame tuh bang," jawabnya semangat.
"Heh! Ngapain nonton begituan?" Heru yang sudah selesai dengan pekerjaannya langsung meletakkan laptop dan menyahuti anak bungsunya.
Citra tertawa, tapi tangannya masih mengelus kepala Zayyan dengan sayang. Sedangkan Kean hanya menggelengkan kepala dan kembali mencari film.
"Ih lagi rame tau, Yah. Setiap buka sosmed munculnya itu mulu."
"Mending kamu nonton Udin Idin dari pada nonton gitu, Zayy." Heru meledek membuat Zayyan mendengus dan semakin memeluk lengan bundanya kencang.
"Nggak update sih."
Seperti inilah keluarga Zayyan. Keluarga yang begitu harmonis, dan manis. Ia sangat bersyukur hadir dan lahir di keluarga yang selalu memahaminya. Mensupport segala sesuatu yang Zayyan lakukan, dan yang paling penting ia tidak pernah merasakan kesepian. Bagi keluarganya, quality time adalah yang utama. Ayah dan bundanya, tidak akan membiarkannya merasa sedih dan sendiri. Jika Zayyan sedikit saja berubah sikap, maka mereka akan bertanya dengan lembut. Dan Zayyanpun menceritakannya dengan baik.
Apakah keluarga kalian juga seperti ini?
Apalagi Keano. Zayyan akui, abangnya itu memang sedikit lebih tampan darinya. Ingat, hanya sedikit! Meskipun mereka sama-sama cowok, Kean tidak pernah berbicara kasar padanya. Kean selalu memperlakukan Zayyan dengan sangat baik. Terkadang sedikit menjaili, karena muka kesal Zayyan itu sangat menggemaskan bagi Kean. Dan ia menyukainya.
"Ngantuk," keluh Zayyan dengan mata yang sayu. Sudah dua jam mereka menonton film. Dan ini sudah pukul sepuluh malam.
"Yaudah kamu tidur gih. Besok juga hari pertama masuk sekolah kan?"
Zayyan mengangguk, kemudian berdiri setelah mengecup pipi bundanya, lanjut ayah dan abangnya. "Selamat malam bunda, ayah, abang."
Mereka mengangguk dan tersenyum. "Selamat malam. Tidur yang nyenyak, awas kalau begadang!" teriak Kean melihat Zayyan yang sudah menaiki tangga menuju kamarnya.
Sedangkan Zayyan berjalan dengan terkantuk-kantuk. Ia memasuki kamar dan langsung merebahkan diri kemudian memejamkan matanya.
"Selamat tidur," gumamnya pada diri sendiri.
***
"Eunghh." Seorang pemuda menggeliat dari tidurnya. Tangannya terangkat dan mengucek mata yang perlahan terbuka. Ia mengedipkan mata, merasa linglung dengan apa yang terjadi.
"Ah! kepala gue anjir. Sakit banget!" keluhnya. Dan sebentar, ia merasa ada yang aneh.
"I-ini di mana? Eh kepala gue diperban? Loh?" Zayyan. Ya, pemuda itu adalah Zayyan. Ia mengedarkan pandangannya ke semua penjuru ruangan. Merasa asing dengan ruangan ini. Seperti...
"Rumah sakit? Gue di rumah sakit? Ha? Apa si gajelas banget. Bukannya semalam gue tidur abis nonton film? Kok tiba-tiba di rumah sakit?"
Apa semalam ada gempa? Masa iya Zayyan nggak sadar sama sekali?
Benar-benar di luar nalar. Zayyan masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa dia di rumah sakit? Dan apa ini, tangannya diinfus? Kepalanya diperban? Lalu ayah dan bundanya kemana? Keano juga. Mereka tidak akan membiarkan Zayyan sendiri dalam keadaan seperti ini.
"AYAH! BUNDA!" teriak Zayyan. "Ck! Gue kenapa si kalau misal gue sa-- ah! Sakit banget gila!" Zayyan mengerang sembari memegangi kepalanya yang teramat nyeri. Ini sungguh sakit yang paling parah yang pernah ia rasakan. Sampai perlahan kesadarannya mulai menghilang.
Samar-samar terdengar suara dokter yang memasuki ruangan dan memeriksa Zayyan. Setelahnya gelap, ia pingsan.
⏳⏳⏳
Bab satunya segini dulu yaaaa
Gimana-gimana? Ada kepo sama kelanjutannya?
Zayyan kira-kira kenapa ya?
Terus kenapa tiba-tiba pindah tempat hayoloo
YANG KEPO ANGKAT TANGAN🖐️
Aku usahain up cepat yaa
Lopyu gess 💋

KAMU SEDANG MEMBACA
Zayyan's Different Life ✓
Fiksi RemajaKeluarga harmonis adalah impian setiap orang. Dan Zayyan sudah mendapatkannya. Zayyan Ruby Abraham namanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sempurna, pengertian, dan selalu membuatnya terus bersyukur. Sedangkan di lain tempat, Zayyan Ghifariel. T...