HAPPY READING!
⏳⏳⏳
"Tapi Zayyan maunya sama kalian!" bantah Zayyan keras. Ia melihat keluarganya yang menatapnya lemah. Mereka tampak begitu pasrah dengan apa yang terjadi.
"Kamu bisa kapan saja kok menemui kita. Tapi, lebih baik lagi kalau kamu bisa menerima kalau kita memang tidak benar-benar ada." Zayyan melihat wajah dan tatapan lembut Citra yang selalu berhasil meluluhkan hatinya.
Dunia Zayyan memang terasa begitu kejam. Sedari kecil, tidak ada kasih sayang yang ia dapatkan. Bahkan pelukan dan sapaan hangat pun, bagi Zayyan hanyalah sebuah angan-angan mustahil untuk didapatkan. Ditambah siksaan, hinaan, caci dan maki dari keluarganya sendiri membuat mental anak itu terguncang. Badan yang seringkali terluka, telinga yang selalu berdengung akan bentakan dan kata-kata kasar. Semua itu Zayyan rasakan sedari kecil.
Hingga, impian-impian itu datang. Membangun sendiri sebuah keluarga kecil yang penuh akan kasih sayang, memanjakannya dengan kelembutan, penuh perhatian, dan semua hal yang tidak pernah Zayyan dapatkan. Semua keindahan itu, hanyalah khayalannya. Dunia, yang ia dirikan sendiri.
"Bisakah Zayyan menyerah di sana dan tetap di sini?"
"Sayang, semua akan berubah. Percaya sama Ayah." Heru mengelus kepala Zayyan dengan sayang. Tatapan teduh itu yang membuat Zayyan tidak bisa merelakan untuk meninggalkan mereka.
"Dek, di sana banyak kok yang seperti abang. Jangan takut lagi ya?"
Zayyan mengangguk ragu. "Do'akan Zayyan cepat sembuh ya Bun, Yah, Abang?"
Mereka semua tersenyum lembut. Menyalurkan energi positif untuk Zayyan yang tengah berjuang melawan dirinya sendiri.
***
"Eungh..." Zayyan melenguh. Membuat semua orang yang ada di ruangan menoleh padanya. Matanya perlahan terbuka, melihat banyak orang yang menatapnya dengan senyuman haru.
"Zayy... Sudah bangun? Syukurlah. Ada yang sakit?" Jery, pria itu yang pertama kali Zayyan lihat dan langsung menanyakan keadaannya. Tatapan khawatir sekaligus senang bercampur menjadi satu.
Zayyan menggeleng. Hanya saja tenggorokannya terasa begitu kering. "A-air."
Leon yang berada di sebelah kiri Zayyan langsung menyodorkan botol lengkap dengan sedotan untuk mempermudah Zayyan minum. "Pelan-pelan," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Sudah satu minggu Zayyan tidak sadarkan diri. Entah apa yang terjadi hingga cowok itu tidak bangun-bangun dari tidurnya. Semua orang merasa heran karena memang tidak terjadi apapun pada Zayyan.
"Permisi, biar saya cek Zayyannya." Seseorang yang baru saja memasuki ruangan itu membuat yang lain menggeser tubuhnya. Zayyan pun ikut menoleh.
"Kak Kevin?"
Kevin tersenyum, kemudian mengedarkan pandangannya pada semua orang yang ada di sana. "Bisakah kalian keluar sebentar? Saya mau berbicara berdua dengan Zayyan."
Regi-- papa Zayyan ada di sana, begitu pun dengan Bagas. Kedua pria itu masih berekspresi datar tanpa ada yang tahu bagaimana isi hatinya. Bahkan, kabar tidak sadarnya Zayyan baru didengar mereka saat sudah tiga hari di rumah sakit. Mereka memang tadinya sedang berada di luar kota untuk mengurus kerjaan.
"Yang lembut ya, Vin." Atha menepuk bahu Kevin. "Kalau lo bikin nangis awas!"
Kevin hanya tersenyum melihat orang-orang mulai meninggalkan ruangan. Pria itu beralih menetap Zayyan yang wajahnya masih sedikit pucat.

KAMU SEDANG MEMBACA
Zayyan's Different Life ✓
Teen FictionKeluarga harmonis adalah impian setiap orang. Dan Zayyan sudah mendapatkannya. Zayyan Ruby Abraham namanya. Ia lahir dari keluarga yang sangat sempurna, pengertian, dan selalu membuatnya terus bersyukur. Sedangkan di lain tempat, Zayyan Ghifariel. T...