“Selamat siang para hadirin! Disini saya Wulandari sebagai pembawa acara, akan membacakan susunan acara wisuda Valhalla High School angkatan ke-27 pada siang hari ini.”
“Rissa! Di sebelah sini!” Alissya melambaikan tangannya pada Marissa yang baru datang, Marissa pun menghampiri ketiga temannya.
Para murid Valhalla High School dengan khidmat mendengarkan susunan acara yang dibacakan oleh pembawa acara, hingga kini saatnya pengalungan medali sekolah kepada para murid Valhalla High School.
“selamat ya, Marissa. Sukses selalu,” ucap Pak Bisma—Bapak kepala sekolah.
“terimakasih banyak, Pak.” Marissa tersenyum manis, ia pun turun dari panggung. Sesekali ia mengucapkan ‘terimakasih’ kepada para murid yang mengucapkan ‘selamat’ kepadanya, Marissa kembali ke tempat duduknya semula.
Rangkaian acara telah selesai, saat ini para murid Valhalla High School disibukkan dengan sesi foto bersama. Entah itu bersama teman sekelas, teman dekat, bahkan pacar.
Seperti sekarang, Marissa menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri bermaksud mencari seseorang. Ia memegang erat tote bag yang berukuran besar itu, namun tak lama kemudian matanya ditutupi oleh telapak tangan. Marissa menghirup aroma tubuh yang ia kenal, lantas ia membalikkan tubuhnya.
Telapak tangan itu terlepas dari mata Marissa, sang empunya tersenyum manis. Marissa memukul pelan bahu milik lelaki yang dihadapannya itu.
“nanti maskara gue rusak, Azka!” kesal Marissa.
“maafin gue, Na.” Lelaki itu terkekeh kecil melihat raut wajah kesal yang diberikan oleh kekasihnya itu, ia mengulurkan tangannya untuk mengelus lembut kepala kekasihnya itu.
“selamat atas kelulusan kamu ya, sayang.”
“kamu juga, selamat atas kelulusan kamu.” Marissa tersenyum malu, sedangkan Azka hanya terkekeh geli.
“nih, hadiah buat pacar gue.” Azka memberikan sebuah tote bag yang berukuran besar itu kepada Marissa, sedangkan Marissa sendiri hanya terpatung diam. Namun tangannya menerima tote bag itu.
“uhm, ini buat lo juga.” Marissa memberikan tote bag yang dipegang di tangan kanannya, Azka dengan senang hati menerima tote bag itu namun tak lama kemudian ia terkekeh kecil.
“sepertinya ini bukan disebut hadiah sih tapi lebih ke tukeran hadiah,” ujar Azka.
“gue gak expect lo bakal ngasih hadiah buat gue,” balas Marissa.
“jadi cowok itu harus ber-effort dikit lah,” balas Azka.
“yupp, lo benar.” Marissa menganggukkan kepalanya menyetujui kalimat yang dilontarkan oleh Azka.
“Aka, nanti sore ketemuan yuk?” ajak Marissa.
“tumben kamu ajak ketemuan, ada apa?” tanya Azka.
“uhm gak ada apa-apa sih, gue cuman...”
“cuman?”
“cuman pengen habisin waktu gue sama lo, ya kan kita nantinya bakal ldr. So gue pengen habisin waktu gue dulu sama lo,” jawab Marissa.
“hahaha! Okay boleh, sayang.”
。゚•┈୨♡୧┈• 。
Azka mengetikkan sebuah nomor di handphonenya, lalu tak lama kemudian sebuah panggilan tersambung. Azka menaruh handphonenya di samping telinganya.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐌𝐲 𝐕𝐚𝐧𝐝𝐚𝐥𝐚𝐬 𝐋𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫
Teen Fiction𝑀𝑎𝑟𝑖𝑠𝑠𝑎 𝑁𝑎𝑑𝑖𝑛𝑒 𝑉𝑖𝑒𝑛𝑎 𝑚𝑒𝑟𝑢𝑝𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑖 𝑝𝑖𝑛𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑉𝑎𝑙ℎ𝑎𝑙𝑙𝑎 𝐻𝑖𝑔ℎ 𝑆𝑐ℎ𝑜𝑜𝑙. 𝑁𝑎𝑚𝑢𝑛 𝑡𝑎𝑘 𝑑𝑖𝑠𝑎𝑛𝑔𝑘𝑎 𝑑𝑖 ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑒𝑑𝑢𝑎 𝑖𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑑𝑖 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑖 𝑑𝑖 𝑠𝑒𝑘𝑜𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑒𝑟𝑠𝑒𝑏𝑢𝑡...