Bab 20.

5.1K 168 0
                                        

Mia harus merutuk diri ketika menemukan Elo yang tengah berbincang santai bersama Yohan di teras rumah. Seketika langkahnya berhenti. Ia tidak bisa melanjutkan langkah dan mendadak tidak memiliki semangat untuk melanjutkan niatnya. Biasanya sabtu pagi ia akan joging. Tapi, jika ceritanya begini ia mulai malas.

Mia tidak ingin bertemu Elo. Tapi ia tidak bisa menghindar lelaki itu terus-menerus. Hanya saja, saat ini ia begitu malas menemui Elo. Sudah cukup semalam dadanya dibuat berdetak secara gila-gilaan. Ia tak ingin ada kejadian susul terjadi lagi.

Kini ia merasa bodoh karena telah menerima permintaan lelaki itu. Elo seperti semakin menjadi-jadi dan sulit dihentikan. Tidakkah dia tahu bahwa kehadirannya ditolak?!

"Kak Mia. Kak Mia. Kak Elo mau joging sama kita."

Mia memejamkan mata erat-erat begitu mendapati pekikan tersebut. Ia harus mengumpat karena bocah-bocah ini. Kenapa mereka datang di saat yang tidak tepat?

Akhirnya, lelaki yang ingin dihindari melirik ke arah di mana ia berdiri. Mendadak ia dibuat salah tingkah. Tetapan Elo seperti memuja?! ..., kagum?!

Baiklah! Bukankah lelaki itu sendiri yang mengatakan kalau dia menyukainya! Jadi, tidak ada yang salah jika ia mengatakan demikian. Elo memang menatapnya dengan penuh rasa kagum dan memuja.

"Pagi Mia," sapa Elo. Ia tersenyum cerah.

Cepat-cepat Mia memalingkan wajah. Itu adalah usaha yang ia lakukan untuk menutupi rasa gugup.

Dengan terang-terangan lelaki itu tersenyum geli. Karena sudah ketahuan, dengan terpaksa Mia melanjutkan langkah, menghampiri Yohan dan Elo yang terus mematau pergerakannya bersama dua bocah di sisi kiri dan kanan."Iya, pagi," Mia menyahut pelan. Terkesan agak jutek. Ia berharap Elo tersinggung kemudian menyerah. Lelaki itu terlalu memaksakan diri. Saat ini ia ingin fokus kerja tanpa sangkut paut cinta di dalamnya. Yang artinya tekad lelaki itu akan berakhir sia-sia.

"Heran, kok ada manusia yang pagi-pagi suka bertamu. Ke tidak ada kerja." Elo hanya bisa menggulum senyuman sewaktu mendengar sindirian itu. Ia juga tak menyangka akan datang sepangi ini. Jiwa mudanya sedang bersemangat dan meronta-ronta untuk mendekati wanita yang memberinya sindiri terbuka sehingga ia mengabaikan banyak hal.

Yohan menguap lebar-lebar."Makanya, kalian nikah biar Elo punya kerja dan jangan ganggu orang pagi-pagi." Yohan tidak bisa menahan mulut. Sebetulnya sedari tadi ia menahan kantuk. Elo jelas mengganggu. Gara-gara lelaki ini Sinta harus membangunkannya. Padahal ia masih ingin tidur.

Karena sekarang momentnya pas, kebetulan sudah ada Mia, jadi ia langsung melepas kekesalalnya.

Kata-katanya juga mengadung makna di dalamnya, yang tentu tidak dipahami Mia tapi dipahami Elo.

Senyuman Elo semakin melebar. Ia dibuat salah tingkah oleh perkataan Yohan. Ia tak sadar kalau Yohan terusik karena kehadirannya. Pantas lelaki itu berulang kali menguap.

"Yuk, No, Sa." Mia langsung mengajak kedua keponakannya pergi dari sana. Sebetulnya ia malas mendengar ocehan tidak jelas sang kakak. Ia juga agak sensitif membicarakan tentang hal ini. Ia belum ingin menikah!

"Sorry, ganggu. Aku bakal ikut Mia sama anak-anak." Elo lalu berdiri. Ia mengaruk tengkuk dengan malu-malu begitu melihat Yohan yang melambai-lambaikan tangan seolah mengusirnya. "Ya, lebih baik kamu susul mereka." Yohan ikut berdiri. Segera setelahnya ia menyeret langkah ke dalam rumah tanpa menghiraukan Elo.

Lelaki muda itu lagi-lagi mengaruk tengkut sambil tersenyum geli. Begitu memastikan Yohan menghilang di balik pintu, ia langsung mengikuti Mia serta Tino dan Tisa.

Elo berhasil menyusul, saat mereka hendak berbelok ke jalan utama. Lelaki itu lalu menyesuikan langkah. Kedua bocah yang menyadari kehadiran Elo langsung memekik senang. "Wih ..., kak Elo hebat. Larinya kencang sampai berhasil menyusul."

"Benar!"

Mia merotasikan mata mendengar nada penuh kekaguman keponakannya. Apanya yang mesti dibanggkan? Toh, Elo saja berbadan tinggi. Tentu saja langkahnya panjang dan cepat, makanya dengan mudah menyusul. Lagi pula, mereka belum jauh dari rumah.

Mia berusaha mengabaikan mereka. Lagi pula pembicaraan itu tidak menarik.

"Kenapa kalian tidak tidur?" Elo penasaran. Sejujurnya ia agak geli dengan bocah-bocah ini. Ini masih pagi. Baru jam lima lewat. Hanya saja mentari sudah terbit. Tapi, seharusnya di jam begini mereka masih tidur indah. Bukannya ikutan joging.

"Nah, terus, kenapa kakak tidak tidur?" bukannya mendapat jawaban, ia justru ditanya balik. Alhasil lelaki itu tersenyum gemas."Kan sudah pagi."

"Nah, sama. Karena sudah pagi."

Mia berbalik cepat lalu mengacungkan jempol pada Tino. Ia bangga dengan jawab cerdas keponakannya. Bocah lelaki itu memang mulunya agak tajam dan kasar.

Lagi. Elo merasa gemas. Lelaki itu lalu mengacak-ngacak rambut Tino. Sayangnya, bocah tersebut tidak suka diperlakukan begitu sehingga ia menatap kesal pada Elo.

Reaksi itu berhasil membuat Elo tersenyum lepas. Ia menyukai kemarah bocah ini. Itu begitu menggemaskan. Seperti Mia!

Lalu lelaki itu menghentikan langkah yang juga diikuti kedua bocah tersebut yang mana menyebabkan Mia harus menghentikan langkah.

Dengan cepat dan tanpa sepengetahun, Elo lalu mendekati Mia kemudian berbisik,"Terima lamaran aku, ya. Biar kita bisa buat satu atau dua kayak mereka."

Mia meremang. Rasanya joging tidak memberika efek sebesar bisikan Elo. Lelaki itu berhasil membuat jantungnya berdegug kencang.

Mia lalu menoleh, nyaris membuat wajah mereka bertabrakan. Kemudian, dengan panik ia menarik diri sedikit menjauh. Lagi-lagi lelaki ini membuat jantungnya bekerja dengan drastis.

"Kamu!" Mia menggeram. Lalu dengan perlahan ia memejamkan mata kemudian menarik napas panjang. Ia harus mengendalikan emosi. Lelaki ini jelas-jelas ingin membuatnya darah tinggi.

"Aku kenapa, Mi?" Mia melotot marah. Elo sengaja menggodannya. Ia benci senyuman juga nada suara itu. Elo benar-benar menjengkelkan.

Tanpa mengatakan apa-apa Mia kembali melangkah. Tidak lupa ia turut menuntun Tino dan Tisa.

Elo menggeleng geli melihat tingkah Mia. Ia menyukai kekesalan wanita itu. Mia begitu menggemaskan!

Lalu, ia menyusul. Kali ini, Elo tidak mengatakan apa-apa yang berpotensi membuat Mia kesal. Jadi, ia hanya berlari pelan dalam diam dan terus mengikuti mereka dari belakang.

"Tisa cape, kak." Tisa tidak bisa melanjutkan langkah karena merasa cape. Bocah itu langsung berselojor, membuat mereka berhenti untuk yang kedua kalinya.

Mia mendengkus. Menatap curiga Tisa yang sudah duduk di pinggir jalan. Tidak biasanya bocah ini bertingkah begini.

"Kak Elo tolong gendong Tisa, ya." Tisa mengedip-ngedipkan mata genit pada Elo. Mia melotot melihat tingkah bocah itu. Begitu pula Tino.

"Cih, modus." Tino mencibir.

Mia tidak bisa berkata-kata. Ia cukup kaget. Anak zaman sekarang otaknya mirip orang dewasa. Tisa dengan kegenitannya sedang Tino dengan bahas gaulnya. Dan itu semua mereka pelajari dari mana?

Ah, Mia baru sadar. Pantas, tadi Tisa bahkan sempat memakai lipstik.

"Jangan heran, bocah-bocah sekarang ya memang kayak begini." Elo mengerti kebingungan Mia.

Wanita itu mengangguk-angguk. Tiga tahun tidak bersama bocah-bocah ini, ia merasa ganjil dengan polah pikir mereka. Ya, memang tak jarang ia menemukan bocah yang berperilaku mirip Tino dan Tisa. Hanya saja, ia tak menyangka kalau keponakannya begini.

"Lebih berani mereka dari pada kita!" Elo tertawa kecil. Mia tidak menolak perkataan itu. Ia justru mengangguk-anggunk dengan senyuman geli, menyetujui ucapan tersebut.

"Contohnya ya kayak kamu, tidak berani. Belum nembak langsung mundur," perkataan itu penuh makna. Mia awalnya mengernyit bingung. Tapi, sejenak, ia mengerti. Lalu ia tersenyum kecut."Karena ada yang menggagalkan rencanaku sebelum berperang."

"Dan itu aku!" ucap Elo pelan. Namun tidak ada penyesalan sama sekali. Ya, karena saat itu ia tidak menyukai Mia. Tetapi, sekarang beda! Ia menyukai Mia.

"Rencanakan itu sekali lagi. Dan lihatlah, kamu akan terperangkap bersamaku seumur hidupmu. Dan kalau seandainya kamu tidak berani, biar aku. Aku yang bakal menembakmu."

Publis: Selasa, 30 Juli 2024

CINTA YANG NYATATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang