Ketiganya keluar dengan mata sembab dan yang terparah adalah Dita. Mia tidak tahu sejak kapan Dita menangis, namun dilihat dari tampilannya, itu cukup lama!
Mia merasa sedikit lebih baik setelah melihat Dita tersenyum. Puncaknya adalah ketika melihat muka sedih serta mata sembab mereka.
Berulang kali mereka bertanya dengan kata-kata yang sama dan berulang kali pula Dita menyakinkan mereka bahwa 'ia baik-baik saja' namun keduanya tetap menanyakan hal itu. Mereka hanya ingin memastikan kondisi Dita dan itu karena meraka peduli dan merasa memiliki! Alhasil, Dita harus mentertawakan keduanya, karena berperilaku seolah-olah berada di posisnya. Itu adalah bentuk haru sekaligus rasa syukur, karena ia tidak pernah memiliki teman-teman yang mau menangisi kegagalannya. Yang ada kegagalannya adalah lelucon bagi mereka.
"Ah ..., sial. Hanya gara-gara nggak lulus. Kita nangisnya mirip dipukul!" Dita mengeluh sambil tersenyum. Cepat-cepat gadis itu mengusap air mata.
Mia serta Angel mengangguk dan ikut mengusap asal air mata. Mereka sebetulnya cukup tercengang karena Dita yang mereka tahu tidak biasa mengumpat, kini dengan terang-terangan mengumpat.
"Nah, benar! Kita sedikit dramatis!" pelan-pelan wanita itu mengusap air mata.
"Humm." Mia mengangguki ucapan itu.
"Kita rayain kegagal kamu, Ta. Jangan hanya lulus doang yang dirayain. Gagal pun mesti dirayain. Mereka nggak sadar aja, kalau dari gagal dulu baru jadi sukses." Angel langsung menimpal, yang diangguk setujui Mia."Iya, benar. Biar aku yang traktir. Tapi cuma bakso doang. Uang aku adanya segitu!" Mia bukan tipe pendiam jika bersama orang-orang yang membuatnya nyaman, dengan sendirinya ia menjadi orang yang ekspresif juga sedikit cerewet.
Angel langsung mengapiti leher Mia menggunakan lengannya."Nah, ini baru mantul! Baru temannya kita!" Mia hanya tersenyum senang mendapati perlakuan itu. Lantas hal itu membuat Angel tersenyum.
"Ya udah kita jalan, mau tunggu apa lagi?"
"Eh, ganti dulu." Dita mengingatkan. Kedua orang itu lantas mengangguk mengerti. Kebetulan, jam kerja mereka sudah selesai!
Mereka memang dibagi menjadi dua kelompok dengan jadwal kerja pagi sampai siang kemudian siang sampai malam. Biasanya dalam seminggung, mereka akan melakukan pergantian.
Setelah selesai berganti, ketiganya dengan kompak berpamitan. Tidak perduli dengan tampilan mereka yang sedikit kacau. Mata mereka jelas-jelas masih bengkak dan memerah.
Tentu saja itu menarik perhatian yang lain, namun rekan kerja mereka tidak terlalu ambil pusing soal itu. Dan hanya menampilkan keganjilan lewat tetap mata.
Setelah hari itu, Dita tampak lebih ceria pada hari-hari berikutnya. Perihal-perihal mengenai kekagalan tidak dipusingkan anak itu. Fokusnya kini adalah bekerja yang raji demi mengumpulkan uang yang banyak. Itu tergetnya. Mungkin, kerena ia telah mencoba dan berjuang, makanya Dita merasa puas. Lalu ketika Mia dan Angel bertanya apakah dia baik-baik saja. Anak itu akan menjawab dengan ringan dan santai. 'jauh lebih baik. Setidaknya dengan mencoba, aku bisa membuang jauh rasa penasaranku serta pikiran-pikiran negatif tentang banyak hal.'
***
"Bye-bye, Mia."
"Humm, dahh."
Ketiganya lalu berpisah seperti biasanya. Dita dan Angel pergi menggunakan angkutan umum. Sementara Mia akan berjalan kaki menuju rumah.
Lalu Mia mulai memasuki dunia lain. Dunia yang menyeretnya ke dalam kegelapan.
Ada saatnya, Mia merasa hampa. Pikiran-pikiranya menjadi tak berguna dan omong kosong. Ada kalanya ia seperti membohongi diri dan orang terdekat. Ia lelah menjalani hari, namun itu keharusan! Tempat ternyaman adalah ketika ia membaringkan diri pada ranjang lalu menyelami setiap moment yang pernah terjadi. Sayangnya, itu akan membuatnya terjebak pada satu siklus di mana rasa sakit itu hadir.
KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA YANG NYATA
RomanceInformasi: Sebaiknya apabila mau membaca tulisan saya, dipertimbangkan terlebih dahulu, masalahnya beberapa bab terakhir ada yang dihapus dan dipindahkan ke KaryaKarsa. Sekian. *** Mia, gadis berkulit sawo matang itu diam-diam mengagumi Elo, lelaki...
