Bab 22.

4K 150 6
                                        

Mia tidak bisa menolak kehadiran Elo. Lelaki itu membawa banyak keceriaan. Juga, ia mulai merasa nyaman. Bagaimana pun Elo tidak seburuk yang ia kira. Elo benar-benar melakukan seperti yang dia ucapkan. Lelaki itu selalu membatasi pergaulannya dengan wanita lain. Bahkan ia cenderung menjaga jarak demi menjaga perasaannya.

Rasa suka yang Elo tunjukan bukan rasa suka sesaat. Bukan seperti yang selama lima bulan ini ia pikiran. Atau mungkin karena pemikirannya cenderung negatif sehingga ia sering pesimis tentang banyak hal. Termasuk perihal perasaan Elo.

"Mi, ayolah. Apa yang nggak baik dari bos Migel sampai kamu nggak mau terima perasaan dia?" Angel meradang. Bukan baru sekali dua kali mereka menasehati Mia perihal mempertimbangkan perasaan sang boss.

Elo tidak memiliki cacat dalam bersikap. Ia baik, sopan dan ramah. Ia bukan masalah Elo sering mentraktir mereka dan dengan mudah menyimpulkan ia baik. Tidak! Lelaki itu memang baik! Dia tipe lelaki penyayang dan setia. Nilai tambahnya adalah dia ganteng dan anak orang berada. Jelas, lelaki seperti Elo adalah incaran para wanita! Tapi, ada apa dengan Mia?

Angel tidak mengerti. Entah apa jadinya jika Elo adalah lelaki lain yang apabila mengejar seseorang selama lima bulan tanpa digubris? Ia dapat menjamin bahwa mereka akan mencari wanita lain dengan berdalil 'wanita bukan cuma satu.' Tapi, Elo tidak! Ia berbeda. Ia tetap mempertahankan Mia apa pun yang terjadi!

Mia menarik napas panjang."Aku pengin fokus kerja dulu." sementara Angel menanggapi dengan gelengan kepala. Itu bukan alasan yang ingin ia dengar. Mia terlalu sering mengatakan alasan itu. Rasa-rasanyanya alasan ini terlalu klise.

"Jangan kecewa kalau sampai bos naksir cewek lain."

Perihal perasaan Elo terhadap Mia sudah menjadi bahasan umum. Para keryawan kafe tahu tentang hal ini. Bahwa sang bos menyukai salah satu karyawannya. Meski demikian mereka mendukung apa pun pilihan sang bos. Walau awal-awal ada gunjingan yang mengatakan jikalau mereka tidak cocok. Mia bukan tipe Elo. Bos mereka tampan sedang Mia cuma beruntung dicintai. Namun, pada akhirnya mereka bungkam, begitu melihat seberapa besar cinta yang ditunjukan sang bos terharap Mia. Itu bukan tentang perasaan sesaat! Bos mereka benar-benar tulus mencintai Mia!

"Lihat, banyak cewek-cewek yang mau ada di posisi kamu dan berharap bisa menjadi wanita yang disukai Bos Migel secara gila-gilaan. Tapi, kamu? Lagi-lagi aku cuma mau bilang jangan menyesal kalau bos Migel mundur."

Mia menarik napas panjang untuk kedua kalinya. Sebetulnya, ia mulai terprovokasi. Yang dikatakan Angel tidak ada yang salah. Banyak wanita yang iri dengan apa yang ia dapatkan dari Elo, tentunya perhatian kecil yang lelaki itu tunjukkan dan kasih sayangnya lewat setiap tutur kata serta tindakannya. Ia menyadari itu semua! Namun, ia ragu ... mungkin takut?!

Mia merenung. Bahkan ia memikirkan hal ini di saat bekerja. Ia pernah bahkan sering menolak Elo dengan kata-kata menyakitkan sekali pun. Berharap lelaki itu mengerti dan mundur. Namun, Elo tetap kukuh.

"Migel." Mia memanggil ragu. Agak was-was karena lelaki itu langsung menatap miring dengan senyuman kecewa. Sesaat, dia menarik napas panjang lalu menatap lekat Mia yang mulai tergagap. Mia sering terintimidasi oleh tatapan itu."Maksudku Elo." Mia langsung meralat. Ia tahu di mana letak kesalahannya. Tak lama berselang, senyuman lelaki itu langsung mengembang."Iya, Mia." Mia tesipu. Lagi-lagi ia selalu merasa salah mendengar panggilan itu keluar dari mulut Elo. Ia berdebar!

"Bisa bicara sebentar." Kebetulan ketika sebagai besar karyawan bergegas pulang, Mia mengambil peluang untuk berbicara dengan Elo. Tentunya ini pembicaraan yang serius.

"Ya." Elo mengangguk setuju. Ia sebenarnya agak terganggu ketika Mia memanggilnya Migel. Rasanya mereka terlalu asing! Tidak masalah karyawan atau teman lainnya memanggilnya begitu. Tapi, jangan Mia. Wanita yang ia sukai!

CINTA YANG NYATATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang