Bab 26.

3.5K 110 3
                                        

"Aku ..., bagaimana bisa? Kita baru pacaran!" Mia gugup, sedikit tergagap. Bukankah ini terlalu tiba-tiba?

Elo mendekat. Menangkup kedua pipi Mia dan mengangkatnya sedikit untuk menyamakan tatapan mereka."Hei, Mia. Tenang. Kalau pun kamu belum siap. It's oke. Bisa hari lain. Tenang, jangan gugup." Elo dengan lembut berusaha mengendalikan rasa gugup yang Mia alami. Baru membayangkan hal itu ia gugup. Apa jadinya jika ia benar-benar bertemu ayah Elo? Dijamin, ia akan pingsan berdiri.

Mia mengangguk-angguk sambil menarik napas panjang. "Aku belum siap!" akunya dan Elo mengangguk mengerti. Ia akan membicarakan hal ini pada ayahnya. Elo tak ingin Mia berakhir mundur. "Oke. Tidak apa kalau belum siap." Mia memejamkan mata. Sekali lagi, ia menarik napas panjang. Dengan seksama Elo menatap Mia. Dia tak menduga jikalau Mia akan segugup ini hanya mendengar ucapannya.

"Maaf, Manis. Aku bikin kamu gugup." Mia menggeleng pelan dalam pegangan tangan Elo. "Tidak apa. Mungkin, ini yang pertama buat aku." Elo mengusap sayang pipi Mia. Yang Mia tunjukkan adalah reaksi alami. Ia pun begitu ketika bertemu Yohan dan Sinta. Ia gugup dan tak tahu harus berbuat apa dan mulai berkata dari mana.

Mia mendesah panjang."Oh astaga, Elo. Kamu belum minum obatnya." Mia hampir lupa memberikan obat pada Elo. Untungnya tangan hangat lelaki itu membuatnya sadar.

Mia melangkah mendekati tas lalu mengambil satu tablet obat demam. Ia kemudian bergerak mengambil gelas dan menuangkan air. Setelahnya, ia kembali ke arah Elo.

"Minum obatnya." Mia memberikan air putih terlebih dahulu pada Elo lalu disusul obat. Elo menerima obat tersebut dan memasukkan ke dalam mulut lalu dalam satu tegukan air, obat itu meluncur ke dalam tubuhnya.

"Sekarang, kamu baring-baring sebentar di sofa ruang kerja kamu. Selesai membersihkan peralatan, aku bakal bangunin kamu." titahan itu diangguki Elo. Dia melakukan seperti yang diarahkan Mia. Namun sebelum menyeret langkahnya ia berpaling dan berkata,"Kamu tidak butuh bantuanku? Aku bisa cuci peralatan kotor."

Mia mengembuskan napas panjang."Jangan buat aku tambah repot." Elo mengangguk tak berdaya. "Oke, lebih baik aku baring-baring." Sejurus kemudian lelaki itu menghilang dari pandangan. Mia geleng-geleng sambil tersenyum.

Mungkin ia perlu membuang jauh rasa takutnya. Elo tidak seperti yang ia bayangkan.

Cukup lama berkutat dengan peralatan dapur, Mia merasa kebas dan keram pada kaki dan tangannya. Ia cape. Butuh tidur. Dan ..., ia gelagapan. Sekarang jam berapa dan ia lupa mengabari orang rumah. Mereka pasti cemas.

Cepat-cepat Mia mengusap tangan basahnya pada sisi celana lalu bergerak ke arah tas yang tergeletak tak jauh dari posisinya barusan.

Mia lalu mengambil benda itu untuk menghubungi Yohan. Namun, ia sedikit kesulitan ketika hendak mengabari sang kakak. Apa yang akan ia katakan pada Yohan?

Anda.

Maaf, kak. Aku sedikit terlambat! 21:01

Akhirnya Mia mengirim pesan pada Yohan sang kakak. Dan detik berikut Yohan membalas.

Kak Yohan.

Oke. Pastikan pulangnya jangan terlalu larut. 21:01

Anda.

Siap, pak bos. 21:01

Mia bernapas lega. Setidaknya orang rumah tidak cemas. Setelah memastikan tidak ada pesan lanjutan dari Yohan, Mia kembali menyimpan ponsel pada tas.

Ia kemudian berdiri, melihat sekali lagi pada alat-alat dapur yang tadi dipakai yang kini telah berada lagi pada tempatnya. Begitu semuanya tempak sama seperti semula, bersih dan rapi, Mia membawa tasnya lalu keluar dari sana. Namun sebelum itu, ia mematikan lampu dapur.

CINTA YANG NYATATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang