10 | Berusaha Merahasiakan

1.1K 94 37
                                        

- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE SETIAP UPDATE
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.

* * *

Mereka berempat kembali memisahkan diri. Nadin dan Ruby memutuskan pulang menggunakan taksi online. Karel dan Samsul harus pulang ke rumah masing-masing lebih dulu, sebelum nanti datang ke rumah Nadin untuk berkumpul dengan yang lainnya. Kedua gadis itu jelas tidak bisa merepotkan Karel dan Samsul terus-menerus. Mereka paham, bahwa Karel dan Samsul juga punya urusan pribadi yang harus diselesaikan.

"Menurut kamu, apakah Adrian akan aman selama masih berada di rumah sakit?" tanya Ruby.

"Insya Allah dia akan aman, By. Karel dan aku sudah membentengi tempatnya berada, saat di rumah sakit tadi. Yang perlu kita khawatirkan adalah jika Adrian sudah pulang ke rumah. Dia tidak akan aman di sana, karena rumah orangtuanya belum kita bentengi sama sekali. Kalau Adrian pulang ke sana dan orangtuanya tidak bilang pada kita, maka kemungkinan besar si 'dia' akan kembali lagi," jawab Nadin.

Nadin sengaja tidak menyebut soal setan jerangkong secara terang-terangan, karena saat itu mereka sedang berada di taksi online. Ruby memahami itu. Ia tahu bahwa tidak semua orang bisa menerima keberadaan orang-orang yang selalu berurusan dengan makhluk halus seperti mereka. Untuk itulah mereka harus memperhalus isi obrolan mereka ketika berada di tengah khalayak ramai.

"Kalau begitu kita harus berharap bahwa orangtua Adrian akan langsung menghubungi aku, setelah Adrian diperbolehkan pulang oleh Dokter. Jika tidak, entah apa lagi yang akan terjadi pada Adrian," harap Ruby.

Saat Nadin tiba di rumah bersama Ruby, Alwan ternyata masih ada di rumah. Pria paruh baya itu senang sekali saat putri kesayangannya tiba di rumah sebelum ia berangkat kerja.

"Assalamu'alaikum," ucap Nadin dan Ruby, kompak seperti biasanya.

"Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah, akhirnya kalian pulang sebelum sore," ungkap Alwan, merasa sangat lega.

Ruby juga disambut dengan baik di rumah itu. Gadis itu memang sudah sering datang dan menginap di sana, jika Alwan sedang tak berada di rumah. Rumah Ruby sebenarnya berada tidak jauh dari rumah Nadin. Hanya berbeda tiga rumah saja. Tapi Ruby selalu diminta untuk menginap, karena sejak SMP kelas 7 gadis itu selalu tinggal sendirian di rumahnya, setelah kedua orangtuanya meninggal dunia.

"Apakah kalian sudah selesai menjenguk Adik kelas yang sakit? Bagaimana keadaan Adik kelas kalian saat ini?" tanya Alwan.

"Keadaan Adrian alhamdulillah sudah membaik, Om. Karel dan Samsul membantunya cukup cepat, sehingga kemungkinan Adrian akan segera diperbolehkan pulang oleh Dokter," jawab Ruby.

"Keadaannya Adrian pasti akan semakin membaik. Terutama karena inti masalahnya telah disingkirkan untuk sementara waktu," tambah Nadin.

Karin tidak bicara apa-apa. Ia hanya mendengarkan dari meja makan, seraya meneruskan pekerjaannya menghias kue tart. Alwan sendiri sedang mencoba mencerna maksud dari jawaban kedua gadis itu. Ia meyakini, bahwa apa yang Karel dan Samsul lakukan untuk Adik kelas mereka bukanlah sesuatu yang biasa. Kemungkinan besar hal itu ada sangkut pautnya dengan kelebihan yang dimiliki oleh kedua pemuda tersebut.

"Begitukah? Lalu, apa tanggapan kedua orangtua Adrian setelah melihat kondisi putra mereka yang mulai pulih?"

"Kedua orangtua Adrian tampak lega saat itu terjadi, Yah. Hanya saja, apa yang Karel sampaikan pada mereka jelas tidak membuat rasa lega itu bertahan lama. Mereka kembali merasa resah, tapi setidaknya hal itu bisa teratasi dengan melihat keadaan Adrian yang membaik. Wajah Adrian juga tidak sepucat awalnya, ketika kami akan pulang tadi," jelas Nadin.

"Tapi tetap saja, semuanya butuh untuk diakhiri. Merasa lega ataupun tidak, hal yang terjadi pada Adrian belum benar-benar berakhir, Nad," Ruby mengingatkan.

"M-hm, aku tahu. Maka dari itulah kita butuh berdiskusi panjang dengan yang lainnya," balas Nadin. "Oh ya, Ayah. Sebentar lagi ada yang akan bertamu ke sini."

Alwan semakin tertarik untuk mendengar lebih jauh.

"Oh, ya? Siapa yang akan bertamu ke sini, Sayang?" tanya Alwan.

"Samsul, Karel, Revan, Reva, dan Iqbal," jawab Nadin.

"Wah, berarti Bunda harus masak lebih banyak malam ini," tanggap Karin, antusias.

Nadin dan Ruby pun tertawa pelan saat mendengar antusiasnya Karin. Ketika Karin sudah pergi ke dapur, Alwan pun kembali menatap ke arah kedua gadis yang masih duduk di sofa ruang tengah tersebut.

"Hal apa yang akan kalian bahas jika mereka datang?" Alwan mulai menyelidik.

"Uhm ... kami akan membahas sesuatu yang penting, Yah," jawab Nadin. "Intinya, Ayah tenang saja. Insya Allah kami akan selalu berhati-hati."

Ruby berpamitan untuk pulang ke rumahnya, agar bisa mengambil pakaian ganti dan juga buku pelajaran yang akan dibawa ke sekolah esok hari. Nadin sendiri juga langsung naik ke lantai atas menuju kamarnya, setelah Ruby pulang. Gadis itu akan mandi sore dan berganti pakaian, agar dirinya tidak merasa gatal akibat keringat yang seharian mengendap di kulitnya.

Alwan mendekat pada Karin dan memeluknya dari belakang. Karin tersenyum ketika merasakan pelukan hangat dari suaminya tersebut.

"Baru kali ini aku melihat Nadin dan Ruby sangat sibuk mengurus sesuatu. Mereka berdua bahkan terlihat sangat serius ketika sedang aku tanya mengenai keadaan seseorang bernama Adrian, yang mereka perkenalkan sebagai Adik kelas. Dan karena urusan mereka melibatkan Karel dan Samsul, apakah menurut kamu urusan itu mengarah pada hal yang serupa dengan pekerjaanku?" tanya Alwan, mencoba meminta hasil pengamatan Karin.

"Jika memang urusan Nadin dan Ruby terkait pada hal yang serupa dengan pekerjaan Mas selama ini, apakah Mas Alwan akan memberikan batasan atau larangan terhadap mereka?" Karin balik bertanya.

"Entahlah, Dek. Aku belum bisa memberikan jawaban mengenai hal itu. Aku ... aku merasa bahwa Nadin dan Ruby masih terlalu dini untuk menghadapi hal-hal yang menakutkan. Tapi di sisi lain aku jelas tidak bisa memberikan batasan atau larangan, karena itu akan membuat mereka merasa tidak diberi kebebasan," jawab Alwan.

Karin mematikan kompor, lalu berbalik agar bisa menatap wajah Alwan. Ia mengusap lembut pipi kiri suaminya, agar Alwan paham bahwa rasa sayangnya untuk pria itu tidak akan pernah putus.

"Benar adanya, bahwa mungkin terlalu dini bagi mereka untuk menghadapi hal-hal yang menakutkan. Tapi sejak kecil, mereka sudah sering sekali menghadapi hal-hal menakutkan, Mas. Hanya saja, dulu hal-hal menakutkan itu sama sekali tidak berkaitan dengan urusan teluh seperti yang Mas Alwan hadapi. Hanya itu perbedaanya," ujar Karin. "Tapi kalau memang Mas Alwan merasa khawatir, maka aku akan mencoba mencari tahu mengenai apa yang sedang mereka kerjakan saat ini. Insya Allah aku akan mengabari Mas Alwan, setelah nanti aku mendapatkan informasi."

"Kamu mau mencari informasi dengan cara apa, Dek? Mereka mungkin tidak akan menjawab meski kamu bertanya-tanya. Aku bilang begini karena tadi aku sudah mencobanya terhadap Nadin dan Ruby secara langsung."

Karin pun kembali tersenyum. Ia mencubit lembut ujung hidung Alwan, sehingga membuat wajah Alwan memerah sempurna seperti biasanya.

"Itulah gunanya keahlian menguping, Mas. Aku akan cari informasi dengan cara menguping pembicaraan mereka," jawab Karin, sukses membuat Alwan tertawa begitu lepas.

* * *

JERANGKONGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang