4 | Mencari Tahu Melalui Ziva

1.3K 105 66
                                        

- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE SETIAP UPDATE
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.

* * *

Karel dan Revan tiba di kelas lebih dulu. Keduanya segera duduk di kursi mana pun yang kosong. Keduanya mengusahakan agar tidak ada lagi tempat kosong di sekitar mereka, agar Olivia tidak bisa duduk didekat mereka. Dan hal itu benar-benar terwujud. Ketika Olivia tiba di kelas, gadis itu tidak bisa duduk di bersama Karel dan Revan. Ia mendapatkan tempat duduk terakhir pada bagian paling ujung di kelas itu.

Revan melirik sekilas ke arah Olivia. Ia ingin memastikan, kalau gadis itu tidak akan berusaha melakukan hal lain yang sama menyebalkannya dengan urusan obsesi terhadap Samsul.

"Aku heran. Semakin dewasa, Oliv rasanya semakin sulit dipahami," ujar Revan.

"Mungkin di rumahnya dia terlalu disayang oleh Om Rian, maka akhirnya sifat dia jadi begitu. Beda halnya jika Tante Hani yang selalu bersama dia. Oliv hanya tidak berani bertingkah macam-macam kalau Tante Hani ada di sekitarnya," sahut Karel, seraya membaca materi yang sudah ia siapkan sejak semalam.

"Menurutmu, apakah Oliv akan berhenti bertingkah suatu saat nanti? Apakah Oliv akan berhenti terobsesi untuk mendapatkan cintanya Samsul?"

"Mau tidak mau, dia memang harus berhenti. Samsul punya pilihannya sendiri. Dia akan menjalani hidup bersama dengan yang dipilihnya, tidak peduli jika ada yang akan menghalang-halangi."

"Siapa kira-kira yang Samsul suka? Nadin? Niki?" Revan sedang menduga-duga.

Karel pun tersenyum jahil.

"Kenapa kamu enggak menyebut nama Adik kesayanganmu? Sebutlah nama Reva sekalian," sarannya.

Revan ikut tersenyum jahil seperti yang Karel lakukan.

"Aku yakin sekali, Rel, kalau Samsul tidak akan mau menjadi Adik iparku. Dia pasti enggak pernah tertarik pada Reva," balas Revan.

"Oh, jelas! Samsul jelas enggak mau punya Kakak ipar over disiplin kayak kamu. Bisa hilang kemerdekaan hidupnya, kalau sampai dia menjadi Adik iparmu."

Ponsel Karel berdering tak lama kemudian. Sebuah pesan dari Ziva masuk dan membuatnya segera membuka pesan tersebut.

IBU
Assalamu'alaikum, Nak. Ada yang mau Ibu tanyakan. Apakah kamu tetap bisa berkomunikasi, meskipun sedang kuliah?

Dengan cepat Karel membalas pesan itu. Ia tidak mau membuat Ziva menunggu lama hanya untuk bicara dengannya.

KAREL
Wa'alaikumsalam, Bu. Tentu saja bisa. Saat ini kebetulan aku masih menunggu Dosen, jadi belum mulai belajar. Ada apa, Bu? Oh ya, Bu. Apakah boleh kalau aku yang bertanya lebih dulu?

IBU
Boleh. Memangnya kamu mau tanya apa, Nak?

KAREL
Ibu pernah cerita padaku, bahwa ada ritual pesugihan tertentu yang pelakunya bersekutu langsung dengan makhluk halus. Boleh Ibu jelaskan ulang mengenai hal itu?

IBU
Kenapa kamu mendadak menanyakan soal pesugihan? Apakah ada hal yang akan kamu tangani? Kalau memang ada, Ibu harap kamu tidak menanganinya sendirian. Kamu paham 'kan?

KAREL
Iya, Bu. Insya Allah aku paham.

IBU
Oke. Mengenai pesugihan yang pelakunya bersekutu langsung dengan makhluk halus, artinya pesugihan itu bukan hanya bertujuan mendapatkan harta kekayaan. Biasanya hal itu diiringi dengan tujuan untuk mendapatkan ilmu hitam. Ada dua makhluk halus yang biasanya diajak bersekutu oleh si pelaku pesugihan dengan dua tujuan seperti itu, Nak. Bisa setan kemamang, bisa pula setan jerangkong. Tapi jika tujuan si pelaku pesugihan adalah ingin menguasai ilmu hitam yang benar-benar mengarah pada praktek teluh, maka berarti makhluk halus yang bersekutu dengannya adalah setan jerangkong.

Karel segera mengirimkan ulang pesan yang baru saja ia baca kepada Samsul. Ia ingin Samsul tahu tentang apa yang akan mereka hadapi nantinya, jika memang benar-benar akan ikut campur dengan urusan Adrian yang masih koma. Karel jelas ingin Samsul mempersiapkan  diri dan bahkan juga memberitahu Nadin. Mereka tidak boleh mendatangi Adrian tanpa persiapan. Mental mereka harus benar-benar kuat, jika pada akhirnya akan menempuh pekerjaan yang sama dengan pekerjaan orangtua mereka.

Beberapa saat kemudian, Karel mendapat pemberitahuan bahwa dirinya baru saja masuk ke dalam sebuah grup WhatsApp yang Samsul buat. Samsul adalah admin dalam grup tersebut. Anggotanya baru empat orang, ketika Karel memeriksa daftarnya. Selain dirinya dan Nadin, ada satu gadis lain bernama Ruby yang Karel tahu adalah sahabat baik Nadin.

Ia baru saja akan bertanya-tanya di grup tersebut--terutama tentang adanya Ruby di sana. Namun sebelum niatnya terlaksana, pesan baru dari Ziva kembali masuk dan membuatnya lebih mengutamakan membaca pesan tersebut daripada mengurus grup WhatsApp buatan Samsul.

IBU
Oliv tadi kirim pesan pada Ibu. Dia bilang, bahwa kamu dan dia terlibat perdebatan. Sekarang, kamu dan Revan sedang tidak ingin berdekatan dengan Oliv, sehingga Oliv duduk begitu jauh dari kalian berdua di kelas. Apakah itu benar, Nak?

Karel tersenyum seraya memperlihatkan pesan dari Ibunya kepada Revan. Revan pun ikut tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Duh. Astaghfirullah sekali, kelakuannya. Untung Reva enggak pernah akrab sama Oliv, jadi dia enggak perlu ketularan sifatnya sama sekali," Revan mendadak bersyukur.

"Iya. Untung saja Reva sejak kecil selalu bermain bersama Nadin dan Niki. Lagi pula Iqbal jelas tidak akan membiarkan Reva, Niki, dan Nadin mendekat pada Oliv, sih. Bagi Iqbal, Oliv terlalu menyebalkan dan tidak patut dicontoh oleh Adiknya. Jadi kalau Niki tidak bermain dengan Oliv, otomatis Reva dan Nadin juga akan mengikuti Niki," tanggap Karel.

"Om Vanno dan Tante Rere padahal tidak membatasi pergaulan Niki, loh. Tapi sebagai Kakak, ketegasan Iqbal memang berpengaruh besar terhadap perkembangan mentalnya Niki. Jadi aku bersyukur karena Reva memilih bermain dengan Niki dan Nadin sejak kecil."

Revan kemudian memperlihatkan sesuatu di ponselnya pada Karel, setelah itu ia mengirimkan hal tersebut pada Hani. Karel pun terkikik geli secara diam-diam.

"Setelah ada balasan dari Tante Hani, jangan lupa screenshot, terus kirim screenshot itu ke Oliv. Aku balas pesan Ibuku dulu," ujar Karel.

"Siap, bro," balas Revan, sangat antusias. "Aku suka keributan."

KAREL
Semuanya benar, Bu. Sangat benar. Tapi asal Ibu tahu, aku berdebat sama Oliv karena dia sangat keterlaluan terhadap Samsul. Dia memperlakukan Samsul seperti pembantu dan supir, lalu terus saja mengoceh soal perjodohan yang sudah ditolak sejak lama oleh Samsul. Jadi kalau Ibu akan memarahi aku setelah Oliv mengadu, aku siap mendengar marahnya Ibu. Tapi untuk memaafkan Oliv setelah dia bertindak semena-mena terhadap Samsul, aku tidak akan pernah melakukannya. Aku harap Ibu paham. Oh ya, aku dan Revan baru saja mengirimkan semua rekaman ocehannya Oliv saat berdebat denganku tadi, pada Tante Hani. Jadi ... Ibu tunggu saja kabar selanjutnya dan lihat sendiri, bagaimana tanggapan Tante Hani terhadap putrinya yang bermuka dua itu.

Revan kembali memperlihatkan ponselnya kepada Karel. Setelah itu, keduanya menatap ke arah Olivia seraya tersenyum penuh kemenangan. Olivia sangat kaget, saat melihat kiriman screenshot dari Revan yang memperlihatkan chat antara pemuda itu dengan Hani. Wajah gadis itu pucat mendadak. Ia menoleh dan menatap ke arah Karel maupun Revan, lalu mendapati bahwa kedua pemuda itu sedang tersenyum mengejek ke arahnya.

"Kamu sudah besar, Liv! Jangan terus-terusan jadi tukang ngadu! Malu sama umur!" seru Karel, dengan sengaja.

* * *

JERANGKONGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang