- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE SETIAP UPDATE
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.
* * *
Iqbal berhasil menyamai kecepatan lari Karel. Reva dan Ruby menyusul di belakang mereka, karena tak ingin tertinggal jauh. Setan jerangkong yang mereka buru masih terbang melintasi pepohonan, meski jarak mereka dari rumah orangtua Adrian sudah sangat jauh.
"Kapan kira-kira kita akan sampai di tempat sekutunya setan jerangkong itu, Rel? Rasanya sudah sejak tadi kita berlari seperti ini, tapi tidak juga sampai ke tujuan," Ruby ingin tahu.
"Mungkin sebentar lagi kita akan tiba, By. Setan jerangkong itu terbangnya mulai tidak terlalu tinggi," jawab Karel.
"Apa yang harus kita lakukan jika akhirnya bertemu dengan si pelaku pesugihan?" tanya Reva.
"Ajak ghibah, Va. Dia pasti senang sekali kalau diajak ghibah olehmu," jawab Iqbal.
"Uh! Iqbal! Kamu kalau enggak bikin aku kesal, apakah akan terkena ayan, ya?" gemas Reva.
Benar saja, setan jerangkong yang mereka kejar akhirnya terlihat oleh Karel terbang lebih rendah menuju ke suatu tempat di dekat area tersebut. Karel segera mengarahkan yang lainnya, agar mengambil jalan yang tidak terarah langsung ke tempat setan jerangkong itu berhenti. Mereka kini berdiri di balik semak dan pepohonan. Tatapan mereka terarah pada sebuah rumah semi permanen, yang sebagian dindingnya terbuat dari papan. Setan jerangkong tadi terlihat disambut oleh seseorang yang wajahnya tidak terlalu kentara. Keadaan di sekitar mereka memang sangat gelap. Hanya ada sedikit cahaya yang terlihat dan itupun sumbernya berasal dari dalam rumah itu.
"Ono sing ngganggu tugas kowe ning kono[1]?"
"Yo. Ono sing ngganggu tugasku ning kono[2]."
"Sepiro tuwone wong sing ngganggu kowe, nganti iso ngacauke tugasmu?[3]"
"Dewek'e kabeh isih enom[4]."
"Kabeh? Opo ono akeh wong sing nyerang kowe lan ora mung siji[5]?"
"Yo. Ora mung siji wong sing nyerang aku. Wong-wong iku akeh lan duwe pakematan dewe-dewe[6]."
Orang yang wajahnya belum terlihat itu terdengar menggeram penuh kemarahan. Kemungkinan besar orang itu merasa dipermalukan, karena ternyata orang yang mengganggu jalan ritualnya adalah orang-orang berusia muda.
"Yo wis. Ayo mlebu. Apik'e awake dhewe nggawe rencono meneh ben isoh ndang numbalke cah lanang kuwi[7]."
Setelah si pelaku pesugihan dan setan jerangkong itu masuk ke dalam rumah, barulah Karel menatap ke arah Iqbal, Reva, dan Ruby di tengah kegelapan hutan tersebut.
"Apakah ada yang bawa senter?" tanya Karel, berbisik.
"Ada. Aku membawanya. Tapi yang kubawa ini adalah senter otomatis. Dia akan menyala jika aku menyalakannya melalui ponsel," jawab Ruby, ikut berbisik.
"Itu bagus. Itulah yang kita butuhkan. Ada berapa buah senter di dalam ranselmu?"
"Ada tiga."
"Lalu, siapa di antara kalian bertiga yang bisa memanjat pohon?" Karel ingin tahu.
"Hah? Panjat pohon? Buat apa? Aku enggak pernah kursus memanjat pohon, karena enggak ada niatan mau jadi tupai," jawab Reva.
"Aku juga enggak bisa, Rel. Makanya aku enggak pernah mau disuruh ikut lomba panjat pinang selama ini," tambah Iqbal.
Ruby pun langsung meringis di tengah kegelapan, sementara Karel hanya bisa menepuk keningnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
JERANGKONG
Terror[COMPLETED] Seri Cerita SETAN Bagian 1 Perasaan Samsul dan Nadin sangat tidak enak, ketika mendengar kabar bahwa seorang pemuda dari kelas 10 di sekolah mereka mendadak mengalami koma. Padahal sehari sebelumnya, mereka melihat pemuda itu masih sehat...
