28 | Pelajaran Untuk Olivia

1.1K 97 154
                                        

- DUA EPISODE TERAKHIR
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.

* * *

"Bagaimana pekerjaan pertama kalian? Apakah lancar?" tanya Tari, saat menatap ke arah anak-anak yang tengah dikumpulkan oleh Karel dan Revan.

"Alhamdulillah, semuanya lancar Tante Tari," jawab Karel.

Olivia mendengarkan dari ayunan yang sedang ia tempati. Ia sengaja tidak ikut berkumpul dengan yang lain--kecuali Sammy dan Sandy--karena tahu bahwa akan ada pembahasan soal pekerjaan yang telah anak-anak lain lakukan semalam.

"Tante dengar dari Pak Angga, katanya yang kalian hadapi adalah setan jerangkong. Bagaimana? Apakah menyeramkan, saat setan jerangkong itu menampakkan diri dengan sengaja di depan kalian?" Rasyid ikut ingin tahu.

"Ah, enggak ada seram-seramnya sama sekali, Pak. Bentuknya cuma tulang-belulang melayang dengan mata merah dan tubuh penuh asap hitam doang," jawab Reva, seenteng kapas.

Jawaban itu langsung membuat Rasyid, Mika, dan Raja tertawa dengan kompak. Tari saat itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, karena tahu bahwa Reva sama sekali tidak punya rasa takut meski sudah melihat wujud setan jerangkong secara langsung.

"Nanti kalau aku sudah melihat beberapa jenis makhluk halus, aku akan berikan daftar pada Bapak dan Mamak yang isinya mana-mana saja setan berwujud seram. Insya Allah," janji Reva.

"Ck-ck-ck! Reva ... Reva ...! Untung saja kamu bicara begitu bukan di depan Ayahku. Kalau kamu bicara begitu didepan Ayahku, maka kamu akan diceramahi selama sebulan. Ayahku sampai detik ini masih trauma sama makhluk halus, gara-gara Ibuku dulu sempat kena teluh kain kafan," ujar Iqbal.

"Ya, kalau enggak mau dapat ceramah, intinya jangan sampai kita membahas soal makhluk halus di depan Ayahmu, dong!" omel Reva, sambil menatap sengit ke arah Iqbal.

Tepat jam empat sore, Alwan tiba di rumah Rasyid bersama Karin, Nadin, dan Ruby. Ia benar-benar menepati janji, bahwa dirinya akan membawa lima ekor ayam yang akan dijadikan ayam bakar. Semua orang sudah berkumpul di sana sejak tadi, termasuk Mika, Santi, dan si kembar tiga.

"Mik! Aku bawa oleh-oleh buat kamu!" seru Alwan.

Mika pun langsung tersenyum lebar dan penuh semangat, saat mendengar kata 'oleh-oleh'.

"Oh, ya? Mana oleh-olehnya?" tanya Mika.

"Nih," Alwan pun menunjuk ke arah Ruby. "Aku bawain kamu calon menantu."

Wajah Ruby dan Samsul seketika memerah, usai mendengar Alwan berkata demikian. Olivia langsung bereaksi. Kedua matanya membola akibat menahan kesal, karena tampaknya para orangtua pun sudah mulai mengetahui soal perasaan Samsul terhadap Ruby.

"Eh? Calon menantu? Calon menantu untuk yang mana, nih?" Mika pun melirik ke arah ketiga putra kembarnya.

"Untuk yang bungsu, Mik. Mau yang mana lagi, coba? Iya 'kan, Samsul?" goda Alwan dengan sengaja.

"Om Alwan," bisik Ruby, sambil menahan malu.

"Oh ... ternyata anak bungsu Papi sudah punya calon, ya? Wah ... bisa-bisanya kamu enggak bilang sama Papi, sehingga Papi harus tahu hal itu dari calon mertuamu," Mika ikut-ikutan menggoda Samsul.

Rian dan Raja pun mendekat ke samping Mika, sambil menatap Samsul dengan wajah serius.

"Mana itu yang sudah punya calon mertua? Ya Allah, cepat sekali kamu besar, Nak," ujar Rian, membuat warna merah di wajah Samsul menjadi terlihat lebih pekat.

"Iya, loh. Padahal kemarin-kemarin rasanya kamu masih bayi, deh. Masih suka memanggil Pipa pada Papimu sambil menjambak rambutnya," tambah Raja, sengaja membuka aib Samsul agar didengar oleh Ruby.

Samsul pun menoleh ke arah kedua Kakak kembarnya sambil berusaha menutupi wajah.

"Hei ... bantu aku untuk melarikan diri dari sini," mohonnya.

Sammy dan Sandy langsung mengangkat tangan dengan kompak. Keduanya segera menyingkir dan memilih bergabung dengan Hani dan Santi. Samsul benar-benar jadi bulan-bulanan para orangtua, setelah ketahuan memiliki perasaan terhadap Ruby oleh Alwan.

Ruby sendiri kini memilih untuk menyibukkan diri dengan membantu Ziva dan Tari membuat ayam bakar. Karin juga ada di dekatnya dan sedang membuat sambal pendamping ayam bakar.

"Wah, calon menantu Bapak Mika dan Ibu Santi jago memasak rupanya," goda Tari, sambil mencubit gemas pipi Ruby.

"Pantas saja Samsul langsung suka sama kamu sejak pertama kali bertemu. Kamu jelas adalah satu-satunya gadis idaman bagi Samsul," tambah Ziva.

"Hei ... sudah, dong. Nanti wajah calon menantuku jadi permanen merahnya," ujar Santi, seraya mendekat dan langsung merangkul Ruby.

"Biar saja, San. Biar jadi sebelas-dua belas sama wajah Samsul. Tuh, lihat. Wajah Samsul sudah mirip sekali sama stroberi," sahut Hani, sambil tertawa geli.

Setelah ayam bakar dan sambal sudah siap, para Ibu langsung membawa semuanya ke meja makan yang terletak tak jauh dari tempat membakar ayam di taman samping rumah itu. Ruby tertinggal sendiri, karena ia akan membersihkan tempat bakaran ayam sebelum bergabung dengan yang lainnya. Olivia pun segera mendekat dan tanpa basa-basi langsung membuat Ruby menatap ke arahnya.

"Bisa enggak, jangan kecentilan kalau kamu ada di depan Samsul? Kamu tuh enggak tahu diri, ya! Menurutmu, Samsul betul-betul suka sama kamu, hah? Sadar diri, dong! Samsul itu baik sama kamu karena dia cuma sekedar merasa kasihan. Dia perhatian sama kamu, karena kamu itu sudah enggak punya orangtua. Karena kamu sudah tidak punya keluarga. Paham, 'kan?"

"OLIV!!!" teriak Hani, tidak lagi bisa menahan amarahnya.

Olivia pun berbalik karena merasa kaget mendengar suara Hani. Rian bahkan langsung mendekat dan memberikan sebuah tamparan keras di wajah Olivia, atas ucapannya yang sangat jahat terhadap Ruby. Samsul menggeram hebat di tempatnya, namun segera ditenangkan oleh Karel, Revan, dan Iqbal.

"Minta maaf!" perintah Rian. "Cepat minta maaf pada Ruby!"

Olivia sama sekali tidak melakukannya. Bahkan bergerak pun tidak dilakukannya sama sekali. Reva dan Nadin segera menarik Ruby agar menjauh dari sana. Karin segera memeluk Ruby bersama Nadin, sementara Alwan langsung melindungi mereka dari tatapan tajam Olivia.

"Keterlaluan kamu!!! Siapa yang mengajari kamu untuk bicara sejahat itu pada orang lain, hah??? Siapa??? Teman-teman SMAmu yang enggak punya sopan santun itu??? Iya???" Hani benar-benar murka.

Rian berusaha keras untuk menenangkan Hani, meski saat itu pun ia sendiri juga merasa sangat marah pada Olivia. Ia segera mengambil paksa ponsel milik Olivia dan menghapus nomor ponsel Samsul dari sana secara permanen.

"Dengar, terserah kalau kamu mau salah pergaulan sampai dewasa nanti! Intinya, mulai sekarang jangan coba-coba kamu mendekat pada Samsul! Papa tidak akan memaafkan kamu, apabila kamu berusaha mendekat pada Samsul dan mengganggu Ruby dengan ucapan jahatmu seperti tadi! Sekarang, cepat masuk ke mobil! Kita pulang!" tegas Rian, tak mau dibantah.

Rian dan Hani langsung meninggalkannya. Semua mata--termasuk Sandy--kini menatap ke arah Olivia dengan perasaan kecewa yang luar biasa. Niki mendekat pada gadis itu dan menyodorkan tas beserta jaketnya.

"Pulang, sana! Enggak usah banyak drama! Kami semua yang ada di sini lebih memilih berteman dengan orang yang tidak punya keluarga, tapi punya adab dan sifat yang baik! Jadi, sebaiknya kamu memang enggak perlu berlama-lama berada di sini! Kamu enggak cocok berkumpul bersama kami! Berkumpul saja sama teman-teman lamamu yang hobi menghasut dan meracuni pikiranmu itu!" tegas Niki.

Olivia baru saja akan melangkah, saat Alwan akhirnya buka suara.

"Dan satu hal yang harus kamu ingat mulai detik ini."

Olivia pun menatap ke arah Alwan.

"Ruby adalah bagian dari keluarga saya! Sejak orangtuanya meninggal dunia, dia adalah tanggung jawab saya bersama Istri saya, serta sudah kami anggap seperti putri kami sendiri. Jadi lain kali, jaga mulut kamu! Sekali lagi saya dengar kamu menghina Ruby seperti tadi, maka kamu akan langsung berhadapan dengan saya!" tegas Alwan, tak main-main.

* * *

JERANGKONGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang