- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE SETIAP UPDATE
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.
* * *
Mobil milik Karel akhirnya tiba di rumah orangtua Adrian. Ester terlihat sudah berada di halaman dengan wajah berurai airmata, ketika Karel turun dari mobilnya. Siomay sengaja ditinggal oleh Karel di dalam mobil, agar tidak perlu berlarian ke sana-ke mari ketika ia bekerja. Ester langsung menunjuk ke arah rumahnya saat melihat Karel, Nadin, dan Ruby. Pintu rumah itu tampak terbuka lebar dan lampu di dalamnya berkedip-kedip tanpa henti.
"Bu Ester, kenapa baru menghubungi saya setelah larut malam seperti ini?" tanya Ruby.
"Maaf, Nak. Tadinya ... tadinya kami pikir keadaan Adrian sudah benar-benar membaik. Jadi kami merasa dia tidak butuh lagi diurus oleh kalian. Kami tidak tahu kalau kekacauan itu akan terjadi lagi," jawab Ester, terlihat sangat menyesal.
Karel memilih tidak mengatakan apa-apa. Jawaban Ester jelas sangat mengesalkan saat didengar. Hanya saja, ia memutuskan tidak mau bicara. Karena Karel tahu, kalau energinya akan terbuang sia-sia hanya untuk mengumbar emosi.
"Lalu, di mana Adrian sekarang, Bu?" tanya Nadin, panik.
"Di dalam. Dia ada di dalam, Nak. Adrian mendadak terkunci di kamarnya setelah selesai shalat isya. Suami saya sedang mencoba membantu membuka pintu kamarnya, tapi setan jerangkong itu kembali muncul dan menyerang suami saya."
Samsul datang bersamaan dengan tibanya Iqbal, Revan, dan Reva. Pemuda itu segera mengikuti langkah yang lainnya ke dalam rumah orangtua Adrian. Reva berusaha menenangkan Ester di luar rumah, sementara Iqbal dan Revan segera berpencar mengikuti langkah Karel dan Samsul di dalam rumah. Pangsit ada di dalam mobil milik Revan, karena kucing jantan itu sudah tertidur sejak tadi. Revan atau Reva tak ingin membangunkannya, karena takut dia akan mengadu pada Ketoprak atau Batagor saat pulang nanti.
Ruby segera mengeluarkan beberapa botol air yang sudah didoakan dari dalam ranselnya. Nadin ada di sisinya, sambil mencoba merasakan keberadaan energi negatif dari setan jerangkong itu. Rizwan ditemukan dalam keadaan pingsan, tepat di depan pintu kamar Adrian. Karel segera memeriksa keadaannya, serta meraba nadinya untuk memastikan bahwa Rizwan masih hidup. Iqbal, Revan, dan Samsul kini menatapnya dengan perasaan harap-harap cemas.
"Alhamdulillah, denyut nadinya masih ada. Ayo, Van, sebaiknya kita segera bawa Pak Rizwan ke sofa," ajak Karel kepada Revan.
"Oke," sahut Revan.
Setelah tubuh Rizwan diangkat oleh kedua pemuda itu, yang tersisa saat ini adalah Samsul dan Iqbal di depan pintu kamar Adrian. Pintu kamar itu benar-benar tidak bisa dibuka, padahal kondisinya sama sekali tidak terkunci. Kuncinya sendiri tercecer di lantai yang menjadi tempat Rizwan ditemukan. Iqbal berusaha mendobrak pintu kamar itu beberapa kali, namun tetap saja gagal membuat pintu itu terbuka.
"Setan jerangkongnya ada di sekitar sini!" Nadin memberi peringatan, ketika merasakan energi negatif yang mendekat.
Ruby segera mewaspadai keadaan di sekelilingnya. Samsul ikut menatap ke seluruh area dekat kamar tersebut, untuk memastikan di mana keberadaan setan jerangkong itu bersembunyi. Ester kini diminta menjaga Rizwan sementara waktu. Karel, Revan, dan Reva segera kembali bergabung dengan yang lainnya. Setan jerangkong itu akhirnya keluar dari tempatnya bersembunyi. Sosoknya kembali terlihat jelas oleh semua orang, karena dia memang sengaja memperlihatkan diri untuk menebar rasa takut.
Reva meraih satu botol air yang sudah di doakan seperti yang Ruby lakukan. Setan jerangkong itu perlahan mendekat ke arah mereka dan mulai menebar hawa gelap yang menyakitkan. Karel segera mengeluarkan energinya untuk menahan setan jerangkong itu agar tidak bisa benar-benar mendekat ke arah yang lain. Melihat yang Karel lakukan, Reva dan Ruby pun segera membuka tutup botol yang tengah mereka pegang.
"A'udzubillahi minasy-syaithanirrajim. Bismillahirrahmanirrahim. Allaahumma faathiras samawaati wal ardhi, 'aalimal ghaibi was syahaadah, rabba kulli syai'in wa maliikah, asyhadu an laa ilaaha illaa anta. A'uudzu bika min syarri nafsii wa syarris syathaani wa syirkih."
Reva dan Ruby langsung menyiram air ke arah setan jerangkong itu dengan kompak. Setan jerangkong itu pun mundur cukup jauh setelah mendapat hambatan dari Karel, Reva, dan Ruby. Melihat peluang itu, Nadin pun bergegas mundur dan menuju pintu kamar Adrian. Ia kemudian menyiram tuas pintu kamar tersebut dengan air yang berhasil diambilnya dari lantai.
"A'udzubillahi minasy-syaithanirrajim. Bismillahirrahmanirrahim. A'uudzu bi kalimaatil laahit taammaatillatii laa yujaawizuhunna barruw wa laa faajirum min syarri maa khalaq, wa dzara-a wa bara-a wa min syarri maa yunazzilu minas samaa-i wa min syarri maa ya'ruju fiihaa, wa min syarri maa dzara-a fil ardh, wa min syarri ma yakhruju minhaa, wa min syarri fitanil laili wan nahaar, wa min syarri kulli thaariqin illaa thaarigan yathruqu bi khairin yaa rahmaan."
Setelah Nadin selesai, Revan dan Iqbal kini bekerja sama untuk mendobrak pintu kamar itu sekali lagi.
"Bismillahirrahmanirrahim!"
BRAKKK!!!
"Lagi. Coba lagi," pinta Nadin.
"Bismillahirrahmanirrahim!!!"
BRAKKK!!!
Pintu kamar itu akhirnya benar-benar bisa terbuka. Tubuh Adrian terlihat melayang cukup tinggi di atas tempat tidurnya. Samsul pun segera masuk ke sana dan berusaha meraih tubuh itu dibantu oleh Revan dan Nadin.
"Tarik! Tarik yang kuat, Van!" titah Samsul.
"Ini sudah aku tarik kuat-kuat, Sul!" balas Revan, mulai bercucuran keringat.
"Pada dasarnya memang tubuh Adrian susah untuk ditarik ke bawah!" tambah Nadin.
Samsul segera memutar otak, agar tubuh Adrian bisa segera diturunkan dan tak lagi melayang.
"Tahan kepalanya, Van!" seru Samsul. "Kamu juga, Nad, tahan kakinya!"
Revan dan Nadin segera mengubah posisi, dan bersiap pada posisi yang Samsul sebutkan. Samsul sendiri kini melingkarkan kedua lengannya pada tubuh Adrian, tepat dari bagian tengah tempat tidur. Ia memejamkan kedua matanya, lalu berusaha untuk fokus seperti yang tadi dipesankan oleh Federick.
"A'udzubillahi minasy-syaithanirrajim. Bismillahirrahmanirrahim. Qul a'uudzu birabbil-falaq. Min syarri maa khalaq. Wa min syarri ghaasiqin idzaa waqab. Wa min syarrin-naffaatsaati fil-'uqad. Wa min syarri ḥaasidin idzaa ḥasad. Qul a'uudzu birabbin-naas. Maikin-naas. Ilaahin-naas. Min syarril-waswaasil khannaas. Alladzii yuwaswisu fii shuduurin-naas. Minal-jinnati wan-naas. ALLAHU AKBAR!!!"
Tubuh Adrian langsung terjatuh dan berakhir dalam dekapan Samsul, Nadin, dan Revan. Mereka berempat terjungkal bersama dari tempat tidur, bertepatan dengan sadarnya Adrian.
"K-Kak Samsul?" lirih Adrian.
"Hei ... kami berdua juga ada di sini dan tertimpa tubuh kamu," protes Revan.
"Menyingkir dulu, Dek. Biar kami bisa segera bangun dari lantai yang keras ini," pinta Nadin, sambil mengatur nafasnya yang naik-turun.
Adrian pun segera menggulingkan tubuhnya ke arah samping, namun pemuda itu langsung merasa kesakitan. Sesuatu jelas telah terjadi padanya, ketika tubuhnya sedang melayang beberapa saat lalu. Revan segera menahan tubuh Adrian, sementara Samsul mulai memeriksa bagian tubuh pemuda itu yang ada di balik kausnya.
"Astaghfirullah," lirih Samsul.
"Kenapa, Sul?" tanya Nadin, yang tidak ikut melihat ke arah tubuh Adrian.
"Dia hampir saja berhasil dijadikan tumbal," jawab Samsul, mulai merasa kesal pada kedua orangtua Adrian yang tak segera memberi kabar.
* * *
SAMPAI JUMPA BESOK 🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
JERANGKONG
Horror[COMPLETED] Seri Cerita SETAN Bagian 1 Perasaan Samsul dan Nadin sangat tidak enak, ketika mendengar kabar bahwa seorang pemuda dari kelas 10 di sekolah mereka mendadak mengalami koma. Padahal sehari sebelumnya, mereka melihat pemuda itu masih sehat...
