- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE SETIAP UPDATE
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.
* * *
Santi menyambut kedua putranya yang baru saja tiba di rumah, usai pulang sekolah. Sammy dan Sandy kini sama-sama menantikan pertanyaan yang akan Santi ajukan, tentang Samsul yang tidak pulang bersama mereka berdua.
"Ayo. Kalian langsung makan, ya. Mami mau bantu Papi siap-siap dulu. Papi akan berangkat kerja lagi sore nanti," ujar Santi, seraya tersenyum indah seperti biasanya.
"Tumben Mami enggak nanyain Samsul. Padahal Samsul enggak pulang sama-sama kita hari ini," ujar Sandy.
Sammy menendang kaki Sandy dari bawah meja, sebagai tanda bahwa sebaiknya Sandy diam saja. Namun Sandy tidak mengindahkan kode tersebut. Ia tetap menatap ke arah Santi, seakan sedang menunggu jawaban.
"Samsul sudah menelepon Mami, Nak. Dia bilang pada Mami, bahwa setelah pulang sekolah dia akan pergi bersama Nadin, Ruby, dan Karel. Tadi Mami juga sempat bicara dengan Karel dan dia menjelaskan bahwa mereka akan pergi menjenguk teman yang sedang sakit," jelas Santi.
Sammy merasa sangat lega, karena ternyata Samsul dan Karel sudah bicara langsung pada Santi mengenai ke mana mereka akan pergi. Namun berbeda dengan Sandy, yang tampak cukup kaget setelah tahu bahwa Samsul bukan hanya akan pergi bersama Ruby. Ia pikir Samsul akan kena marah, jika ketahuan hanya pergi berdua dengan seorang gadis.
"Mami tahu siapa itu Ruby?" lanjut Sandy.
"Sandy!" desis Sammy.
Mika turun dari lantai atas dan mendengar pertanyaan yang Sandy ajukan.
"Iya. Mami tahu siapa Ruby. Dia sahabatnya Nadin dan ...."
"Samsul suka sama Ruby, Mi. Ruby adalah alasan Samsul menolak dijodohkan sama Oliv."
Sammy menutup matanya sambil menahan kesal terhadap Sandy. Sandy benar-benar terobsesi ingin memiliki Olivia, sehingga berani menggunakan cara apa pun untuk mendapatkan yang dia inginkan.
"Terus kenapa kalau Samsul suka sama Ruby? 'Kan Samsul sudah menolak dijodohkan dengan Oliv sejak masih kelas 7 SMP. Berarti Samsul tidak lagi terikat dengan perjodohan yang Papi rancang selama ini untuk dia," ujar Mika, seraya merangkul pundak Santi.
"Terus, apakah itu artinya Papi dan Mami enggak keberatan kalau Samsul memutuskan pacaran sama Ruby?" geram Sandy.
"Apakah Samsul pacaran sama Ruby?" Mika bertanya balik.
Sandy pun terdiam. Sammy kini menatap ke arah Mika dan Santi dengan tenang.
"Enggak, Pi. Samsul enggak pacaran sama Ruby, meski dia sudah mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan. Nadin saksinya, dan Papi maupun Mami boleh membaca pesan antara aku dan Nadin yang membicarakan mengenai hubungan Samsul dan Ruby," ujar Sammy, seraya menyerahkan ponselnya ke tangan Santi.
Sandy pun menyimpan sendok dan garpu yang dipegangnya, lalu pergi begitu saja dari meja makan menuju kamarnya. Pemuda itu jelas merasa marah, karena apa pun yang dia lakukan tidak pernah berhasil membuat Samsul dimarahi oleh Mami atau Papinya. Santi mengembalikan ponsel milik Sammy, setelah membaca pesan antara Sammy dan Nadin. Keduanya kini menatap ke arah pintu kamar Sandy dan tampak memikirkan satu kemungkinan.
"Menurut Mami, apakah Sandy selama ini merasa marah, karena Samsul Papi jodohkan dengan Oliv?" tanya Mika.
"Iya. Itu benar," jawab Sammy.
Tatapan Mika maupun Santi kembali terarah pada Sammy, yang masih duduk di kursi meja makan sambil menimang ponsel di tangannya.
"Seharusnya Papi tidak menjodoh-jodohkan Samsul dengan Oliv. Oliv akhirnya jadi terobsesi pada Samsul yang memang menarik dari semua sisi, sementara Sandy akhirnya tidak punya kesempatan untuk menunjukkan perasaannya pada Oliv. Aku enggak menyalahkan Papi, tapi ... semua itu harusnya tidak perlu terjadi jika tidak Papi lakukan," ungkap Sammy, apa adanya.
Ruby menatap ketiga orang yang tengah menunggu di lobby rumah sakit. Ia baru saja selesai bertanya pada resepsionis, tentang letak kamar yang ditempati oleh Adrian.
"Kamar nomor 226, di lantai tiga," ujar Ruby.
"Oke. Kalau begitu, ayo, kita segera cari kamar perawatannya," ajak Karel.
Keempat orang tersebut segera berjalan menelusuri setiap lorong yang ada di lantai tiga rumah sakit itu. Mereka mencari bersama-sama, agar tidak terjadi sesuatu ketika menemukan di mana kamar nomor 226 yang mereka cari. Karel sudah memperingatkan yang lain, bahwa setan jerangkong selalu tahu kalau ada manusia yang berniat menyingkirkannya dari sisi calon korban. Maka dari itulah, mereka sama sekali tidak boleh berpencar meski hanya sesaat.
"Ini dia kamarnya," Nadin membuat yang lainnya berhenti melangkah.
Samsul pun mengajukan diri untuk mengetuk pintu kamar perawatan tersebut. Samsul mengetuknya beberapa kali, hingga tak berapa lama kemudian pintu kamar perawatan itu pun dibuka oleh seseorang. Seorang wanita paruh baya di hadapan mereka tampak baru saja menyeka airmatanya. Wanita paruh baya itu mencoba tersenyum, meski sebenarnya ia sedang diliputi kesedihan yang sangat dalam atas keadaan Adrian.
"Assalamu'alaikum, Bu. Kami Kakak-kakak kelas Adrian. Kami datang ke sini untuk menjenguk keadaan Adrian," ujar Nadin, mewakili yang lainnya.
"Wa'alaikumsalam. Mari, Nak. Silakan masuk," tanggap Ester, ramah.
Mereka berempat pun masuk ke dalam ruang perawatan itu. Seorang pria paruh baya tampak baru saja berdiri dari sisi tempat tidur yang ditempati oleh Adrian. Pintu ruang perawatan itu kembali ditutup oleh Ester. Nadin mulai merasakan adanya energi negatif di dalam kamar tersebut, lalu segera memberi tanda pada Samsul dan Karel. Karel mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar perawatan itu, untuk menemukan keberadaan setan jerangkong yang mengikuti Adrian kemarin. Sayangnya, Karel mendadak kaget saat pria paruh baya yang tadi duduk di sisi Adrian mengarahkan pisau ke arah mereka berempat.
"Siapa kalian? Seharusnya tidak ada yang akan menjenguk Adrian ke sini, karena makhluk itu sudah menutup jalan bagi siapa pun yang ingin tahu mengenai kondisinya. Kenapa kalian bisa ke sini? Siapa kalian sebenarnya?" tanya Rizwan, seraya mengancam.
Ruby pun mencoba maju.
"Pak, sabar dulu. Kami datang ke sini untuk membantu Adrian. Kami benar-benar Kakak kelasnya, dan kami akan mencoba membantu Adrian agar segera sadar dari keadaan komanya saat ini," jelas Ruby.
"Tidak akan bisa!!!" amuk Rizwan, seraya menangis. "Adrian akan mati. Apa pun usaha yang kami lakukan, Adrian tetap akan mati."
Wanita paruh baya yang tadi membukakan pintu kembali menangis.
"Pak, coba saja dulu. Biarkan mereka membantu, jika memang bisa membantu," mohon Ester.
"Apa yang bisa mereka lakukan? Mereka cuma anak-anak. Mereka tidak paham bahwa Adrian sudah ...."
"Di sana!" tunjuk Karel, saat melihat wujud setan jerangkong yang baru saja keluar dari dalam lemari.
Rizwan dan Ester pun saling merangkul, akibat takut melihat keberadaan setan jerangkong tersebut. Setan jerangkong itu sengaja menampakkan diri pada semua orang di ruangan tersebut. Karena sepertinya dia ingin menakut-nakuti orang yang mencoba mendekati tubuh Adrian.
Nadin membuka tasnya dan mengeluarkan dua botol air berukuran sedang yang dibawanya sejak tadi. Ia menyerahkan urusan dengan setan jerangkong kepada Karel, karena Karel yang akan menghadapinya menggunakan ilmu putih yang dimilikinya. Ruby segera mendorong Ester dan Rizwan, agar mereka tetap berdiam di sudut belakang pintu.
"Sul! Kerjakan!" titah Karel.
* * *
SAMPAI JUMPA BESOK 🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
JERANGKONG
Horor[COMPLETED] Seri Cerita SETAN Bagian 1 Perasaan Samsul dan Nadin sangat tidak enak, ketika mendengar kabar bahwa seorang pemuda dari kelas 10 di sekolah mereka mendadak mengalami koma. Padahal sehari sebelumnya, mereka melihat pemuda itu masih sehat...
