- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE SETIAP UPDATE
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.
* * *
Semua berkumpul di meja makan ketika waktu makan malam tiba. Siomay dan Pangsit sedang bersantai di sofa ruang tengah, setelah sejak tadi mereka sibuk bertengger di atas sajadah milik Samsul, padahal Samsul sedang shalat isya. Semuanya telah selesai melaksanakan shalat isya berjamaah, ketika meja makan sudah dipenuhi bermacam-macam makanan. Karin senang sekali saat rumahnya sangat ramai seperti itu. Ia bahkan sempat mengambil foto beberapa kali, sebelum mengirimkannya pada Alwan.
ISTRIKU
Anak-anak semangat sekali saat akan makan malam setelah shalat isya. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengambil sedikit makanan dan aku merasa lega melihatnya. Nanti kalau Mas Alwan tiba di NTT dan melihat pesan ini, aku harap Mas juga akan merasa ikut senang seperti yang aku rasakan.
Setelah Karin menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana, ia pun segera bergabung di meja makan dan duduk pada kursi paling ujung yang biasa Alwan tempati.
"Apakah makanannya enak?" tanya Karin.
"Duh, masya Allah. Enak banget, Tante Karin," jawab Reva, seraya mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Karel saja sampai tidak bisa berhenti tambah sayur lodehnya, Tante Karin. Lihat, kami hanya disisakan mangkuknya saja," keluh Iqbal.
"Alah! Terus piringmu itu isinya apa, sampai kelihatan menggunung begitu? Perkedel udang kamu timbun sendiri, tapi mengeluhkan Karel yang menghabiskan sayur," omel Revan.
"Persis kayak kamu enggak menimbun apa pun di piringmu. Itu telur balado ke mana semua, sampai Samsul enggak kebagian?" balas Iqbal, ikut mengomel.
"Kalian berdua sepertinya kepengen sekali aku suapin sambal cabe rawit, ya?" tawar Nadin, sambil mengangkat mangkuk berisi sambal cabe rawit kesukaannya.
Iqbal dan Revan pun langsung tutup mulut dengan kompak. Mereka jelas takut ancaman Nadin barusan menjadi kenyataan.
Karin pun tertawa pelan saat memperhatikan tingkah laku tujuh orang anak yang ada di hadapannya. Ia menyadari, bahwa mereka semua semakin beranjak dewasa dan semakin mirip dengan orangtua masing-masing. Bahkan Ruby pun demikian. Karin ingat betul bagaimana sifat Azwa dan Faruk yang dulu adalah Ketua RT di lingkungan tempat tinggalnya. Ruby benar-benar mewarisi wajah serta sifat-sifat mereka sebagai putri satu-satunya. Sehingga setelah Faruk dan Azwa meninggal dunia pun, Karin maupun Alwan selalu merasa mereka seakan masih ada setiap kali melihat Ruby.
"Jadi ... kalian sekarang sudah punya pekerjaan, ya?" Karin memulai.
Senyum di wajahnya tak pernah pudar. Jadi meskipun ia mengungkit soal pekerjaan yang tengah ditangani oleh ketujuh anak remaja di hadapannya itu, mereka tidak tampak terlalu gugup dan takut.
"Beberapa orangtua kalian juga memulai pekerjaan yang mereka geluti selama ini pada usia sangat muda. Hanya Ayahnya Karel dan Ayahnya Nadin saja, yang memulai pada saat usianya telah memasuki kepala dua. Jadi saat Tante tahu, bahwa kalian sudah memulai pekerjaan yang memang kalian inginkan, Tante tidak merasa terlalu kaget. Hanya saja, ada sedikit keresahan yang mengiringi perasaan Tante saat ini. Hanya sedikit, dan itu bukan karena Tante ingin membuat kalian tidak melanjutkan pekerjaan. Kadang, setiap orangtua di dunia ini selalu memiliki perasaan ingin melindungi anaknya dalam setiap kesempatan yang ada. Begitu pula dengan Tante. Bagi Tante, kalian semua sudah seperti anak Tante sendiri. Kedudukan kalian sama dengan Nadin. Jadi ketika Tante merasa sedikit resah, itu artinya Tante menyayangi kalian dan sangat mendukung apa pun yang kalian putuskan untuk masa depan," jelas Karin.
Semua orang mendengarkannya dengan baik. Tidak ada satu pun yang menyela ataupun merasa tidak suka ketika Karin menyampaikan isi hatinya. Mereka justru merasa sangat tenang, karena tidak ada kemarahan yang mengiringi setiap ucapan Karin malam itu.
"Satu-satunya yang Tante ingin sampaikan pada kalian adalah, jangan pernah memutuskan untuk berhenti hanya karena kalian mendadak berbeda pendapat. Orangtua kalian pun sering sekali berdebat, sering sekali berbeda pendapat, dan bahkan sering mengeluarkan emosi apabila merasa pendapatnya yang paling benar. Tapi sekali lagi, mereka tidak memutuskan berhenti pada saat semua itu terjadi. Mereka justru saling melakukan introspeksi diri, berpikir sedalam-dalamnya tentang apa kesalahan yang telah mereka perbuat sehingga akhirnya pecah pertengkaran. Tante memang tidak pernah ikut saat Suami Tante pergi bekerja. Hanya beberapa kali Tante sempat bersinggungan dengan pekerjaan mereka, dan itu pun karena Tante dulunya adalah korban teluh yang harus diselamatkan. Tapi meski Tante tidak pernah ikut, Tante tetap tahu detail pekerjaan yang mereka lalui, karena Suami Tante tidak pernah lupa untuk menceritakan semuanya ketika sudah tiba di rumah. Jadi ... karena kalian pun sekarang sudah memulai pekerjaan yang sama, Tante harap kalian akan selalu kompak seperti ini sampai kalian menua suatu saat nanti."
Semua orang tersenyum, usai mendengar harapan yang Karin ungkapkan. Perasaan mereka terasa sangat tenang, karena Karin memberi dukungan tanpa ada syarat sama sekali.
"Insya Allah, Tante Karin. Insya Allah kami akan terus menjaga kekompakan dan juga mengendalikan ego masing-masing, agar tetap bisa bersama seperti hari ini sampai kami sama-sama menua," janji Karel, mewakili yang lainnya.
"Tante akan memegang janji kamu, Karel. Tante akan menganggap janjimu sebagai perwakilan dari semua anggota tim yang kamu satukan hari ini," tanggap Karin. "Sekarang ... coba ceritakan mengenai Adrian. Siapa itu Adrian? Apa yang terjadi padanya, sehingga kalian harus turun tangan untuk membantu?"
Malam itu, semua cerita mengalir tanpa ada keraguan. Karin bersedia menjadi pendengar bagi ketujuh pemuda dan pemudi yang berkumpul di rumahnya. Sesekali, Karin bahkan ikut memberi masukan tentang cara mengatasi suatu masalah di dalam pekerjaan yang mereka geluti saat ini. Nadin merasa senang, karena ia tahu bahwa tidak akan ada yang menghalangi langkahnya ketika membuat sebuah keputusan. Ia tahu persis, bahwa persetujuan yang Karin berikan sudah tentu akan disetujui pula oleh Alwan.
"Tapi kalau adu mulut, jahil, dan saling sindir sesekali boleh 'kan, Tante Karin?" tanya Iqbal, tiba-tiba.
"Heh! Kamu berencana sekali ingin sering adu mulut, jahil, dan saling sindir, hah? Siapa targetmu? Siapa?" cecar Revan, sambil mencincang telur balado tak berdosa di atas piringnya.
"Tentu saja kamu adalah target utamaku, Revan Rahadi," jawab Iqbal, penuh senyuman.
"Sip, Iqbal! Nanti biar Samsul yang jadi wasitnya," putus Karel.
"Heh! Rencana macam apa itu? Kalau sampai Mamak dan Bapakku dengar, bisa-bisa ...."
"Mereka akan ikut setuju kalau Samsul akan jadi wasitnya," potong Karin, yang tahu persis kalau Tari dan Rasyid selalu ingin menjadikan Samsul sebagai wasit di antara anak-anak mereka.
Ledakan tawa pun tidak dapat terhindarkan. Samsul kini hanya bisa pasrah, karena tahu bahwa dirinya tidak akan bisa mengelak dari pekerjaan tambahan tersebut.
"Sabar, ya, Sul. Orang sabar itu selalu ...."
"Cepat tua, gampang stress, dan punya banyak beban hidup," sambung Revan, sengaja memotong ucapan Ruby.
"Ya Allah, bantulah aku untuk bersabar menghadapi bocah-bocah tantrum enggak tahu diri di sekitarku ini," mohon Samsul.
"Aamiin!!!" jawab Nadin, Ruby, dan Reva, sangat kompak.
* * *
KAMU SEDANG MEMBACA
JERANGKONG
Horror[COMPLETED] Seri Cerita SETAN Bagian 1 Perasaan Samsul dan Nadin sangat tidak enak, ketika mendengar kabar bahwa seorang pemuda dari kelas 10 di sekolah mereka mendadak mengalami koma. Padahal sehari sebelumnya, mereka melihat pemuda itu masih sehat...
