18

14.6K 544 13
                                    

Malam sudah semakin larut, Aelin tampak tertidur pulas sambil memeluk boneka panda yang berukuran besar. Boneka itu pemberian mendiang Johannes saat dia berulang tahun ke 10, dia menjaga baik boneka panda.

Cklek

Terlihat seorang pria tampan memasuki kamar Aelin, pria itu tidak lain adalah Damon. Dia duduk di samping kasur dan mengelus rambut pujaan hatinya dengan lembut.

"Kamu sangat cantik saat masih tertidur seperti ini, tapi kamu lebih cantik saat bangun tidur," gumam Damon.

  Damon membungkukkan tubuhnya dan mengecup bibir Aelin dengan lembut, dia sedikit melumat. Terlihat gadis itu sedikit tidak nyaman, lalu Damon berhenti melumat bibir Aelin.

Lalu Damon mengecup leher Aelin sedikit, setelah itu ia memeluknya. Dia membenamkan wajahnya ke rambut Aelin sambil menghirup aroma shampoo di rambut gadis itu.

"You are mine, hanya milikku saja. Bukan milik siapapun itu," gumam Damon dengan begitu posesif.

Damon mengecup kening Aelin sebentar, lalu segera meninggalkan tempat itu karena dia tidak mau mengganggu pujaan hatinya yang sedang tidur.

Damon berjalan menuju ke kamar tamu, tapi dia tidak sengaja melihat foto keluarga Aelin terpajang di ruang keluarga. Pria itu melihat Johannes dan Elena tersenyum lembut bersama Aelin, tidak lupa Adela di gendongan Elena.

"Mereka keluarga yang bahagia," gumam Damon.

Damon masuk ke dalam kamar tamu yang sudah disiapkan untuk dirinya, pria itu kembali merokok untuk menghilangkan rasa bosannya, lalu dia menyalakan ponselnya. Terlihat foto Aelin yang di jadikan wallpaper layar ponselnya.

"Kamu pandai sekali menyembunyikan semua rasa sakit di balik senyum mu, Aelin. Kamu gadis hebat yang pernah ku temui, kamu tidak pernah menyerah ataupun putus asa. Di saat keluarga besar mu membenci mu, tapi kamu tidak menaruh kebencian kepada mereka. Sebenarnya seberapa besar kesabaran mu kepada mereka?" Gumam Damon sambil menatap foto Aelin di wallpaper ponselnya.

⭐⭐⭐⭐⭐

Keesokan harinya...

Aelin membuka matanya perlahan dan mengucek matanya, lalu dia menatap ke arah jam digital di nakas yang menunjukkan pukul 7 pagi.

Aelin bangun dari tempat tidurnya dan membuka tirai jendela, sehingga cahaya matahari masuk ke dalam.

"Pagi yang indah," gumam Aelin sambil menatap ke arah matahari yang bersinar cerah di langit biru.

Hari ini Benecio High School libur karena hari Sabtu, setiap Sabtu dan minggu selalu libur karena peraturan dari sekolah.

Tok...tok..

Aelin segera membuka pintu kamarnya dan menatap Damon sudah berpakaian rapi di depan pintu kamarnya, gadis itu menjadi sedikit gugup karena kejadian tadi malam.

"Selamat pagi, Aelin," ucap Damon. Pria itu tersenyum tipis menatap Aelin.

"Pagi juga, bang," ucap Aelin.

"Apakah aku boleh masuk?" tanya Damon.

"Boleh saja, bang. Silahkan masuk, maaf kalau kamar ku sedikit berantakan," ucap Aelin.

Damon masuk ke dalam kamar Aelin kedua kalinya, pria itu menatap beberapa piala dan piagam penghargaan tersusun rapi di lemari kaca.

"Aku suka dengan kamar mu," ucap Damon sambil menatap sekeliling ruangan itu.

"Terima kasih, bang," ucap Aelin.

"Kamu tidak sibuk hari ini?" tanya Damon.

"Hari ini aku harus ke Lizea resort and hotel, bang," ucap Aelin.

"Apakah aku boleh ikut bersama mu?aku ingin melihat pembangunannya," ucap Damon.

"Boleh saja, tapi kedua anak uncle Haiden juga akan ikut bersama kita ke sana. Biasanya mereka berdua yang ikut bersama ku ke sana," ucap Aelin.

"Tidak apa-apa," ucap Damon.

'padahal aku ingin berduaan dengan Aelin,' batin Damon.

Tiba-tiba ponsel Aelin berdering, gadis itu segera mengangkat telponnya karena Aiden yang menelponnya.

"Ada apa, Aiden?" tanya Aelin.

"Tidak ada, sayang. Emm apakah kamu sibuk hari ini?" ucap Aiden.

"Aku sibuk," ucap Aelin.

"Yahh... padahal aku ingin mengajakmu berkencan," ucap Aiden.

"Bagaimana nanti malam saja?" ujar Aelin.

"Boleh saja, aku akan menjemputmu," ucap Aiden.

"Boleh saja, jemput aku ke mansion lama ku," ucap Aelin.

"Kamu di sana sekarang?" tanya Aiden.

"Iya, bang Damon juga ikut menginap di sini," jawab Aelin. Gadis itu menatap ke arah Damon.

"Ooo seperti itu," ucap Aiden.

"Ada hal penting lagi?" tanya Aelin.

"Tidak ada," ucap Aiden.

"Kalau begitu sudah dulu telponnya, aku mau mandi dulu," ucap Aelin.

"Aelin, aku merasa kamu mulai sedikit menjauh dari ku," ungkap Aiden. Pria itu bisa merasakan Aelin seperti sedang menghindar darinya.

"Mungkin itu perasaan mu saja, Aiden. Masih mencintai mu," ucap Aelin.

'kau akan segera tahu kalau kita ini saudara tiri,' batin Aelin.

"Kau benar, mungkin ini perasaan ku saja. Aku mencintaimu," ucap Aiden.

"Aku juga," balas Aelin.

Tut

Aelin memutuskan telepon sepihak dengan Aiden, gadis itu melempar ponselnya ke atas kasur. Damon berjalan mendekati adik tirinya.

"Ada apa, Aelin?" tanya Damon.

"Aiden ingin mengajak aku berkencan," jawab Aelin.

"Apakah kamu menerima tawarannya?" tanya Damon dengan nada datarnya.

"Tidak, bang. Nanti malam aku mengajaknya dinner," jawab Aelin.

Aelin mengambil handuknya dan ingin segera mandi karena dia akan pergi ke Lizea resort and hotel.

"Dia bukan pria yang setia, dia sudah memiliki kekasih selain diri mu," ucap Damon. Pria itu bisa melihat Aelin berhenti masuk ke dalam kamar mandi.

"Ini urusan ku, bukan urusan abang. Abang tidak tahu apa-apa tentang diriku, sebaiknya jangan terlalu banyak ikut campur dalam urusan ku," ucap Aelin.

Aelin masuk ke dalam kamar mandinya dan mengunci dari dalam, sedangkan Damon mengepalkan tangannya dengan erat. Dia tidak suka dengan ucapan Aelin.

'kau hanya milikku, Aelin,' batin Damon.

TBC...

Jangan lupa vote dan coment ya teman-teman karena itu gratis.




CRAZY STEP BROTHER Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang