Kini Luck dan Magna berhadapan dengan pasukan Mata Matahari Tengah Malam yang dipimpin Vetto.
"Kenapa pak tua macho itu tiba-tiba muncul? Tampangnya sangar juga, ya."
"Padahal si hiu itu mangsaku, lho." ujar Luck cukup sedih, namun tatapannya tak lepas dari Vetto bahkan ia tampak bersemangat seperti mendapat mangsa baru, gagal mendapat hiu, singa pun jadi.
Pria dengan topeng hiu itu bangkit, topengnya pun terbelah menjadi dua, "Kau berhasil melewati derasnya arus lautan dan bahkan berhasil masuk ke tempat ini dengan paksa. Benar-benar kekuatan sihir yang luar biasa."
"Kau masih sanggup bergerak, ya?" Vetto menatap pria itu.
"Adu-aduh. Sepertinya kau bukan Ksatria Sihir. Ada urusan apa kalian di Kuil Bawah Air ini?"
"Yang kami inginkan sama seperti mereak berdua, yaitu Batu Sihir." Jawab tenang Vetto kembali menatap 2 anggota pasukan Banteng Hitam itu."
"Oh! Sayangnya, aku tidak bisa menyerahkan begitu saja."
"Tenang saja, aku tak berharap kau akan menyerahkannya. Aku akan membuat semua yang ada di sini merasa putus ada, dan merampasnya dengan paksa!"
Pria seperti binatang buas itu bersiap dengan pasukannya, "Kalian semua, sebarkanlah keputus-asaan!" Empat anggota yang ikut bersama Vetto itu langsung bergerak cepat, berpencar masing-masing.
Pertarungan dimulai bahkan Gio--anak dari pak Tua itu sudah mengeluarkan salah satu sihir andalannya, namun dapat ditahan dengan mudah oleh Vetto.
Pria buas itu giliran menyerang dengan mudah menerbangkan 3 lawannya hanya dengan satu sihir yang sama. Tiga orang itu menabrak bebatuan beberapa kali, di ikuti dengan perkataan Vetto yang merendahkan mereka.
Yami bangkit dari duduknya, "Oi, kakek, jam mainnya sudah berakhir. Cepat masukkan aku dan wanita ini ke sana,"
"Kalau kau sampai bilang begitu, sebenarnya siapa pria ini?!" Gifso menatap Vetto terkejut.
"Dia salah satu petinggi kelompok teroris bernama Mata Matahari Tengah Malam. Tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Waktu kita tidak banyak, jadi segera lakukan."
"Danchou, saya pergi lebih dulu." Tanpa menunggu jawaban dan persetujuan dari sang komandan itu pergi dengan sihir ruangnya. Terlalu bertele-tele menunggu mereka berdebat.
"Hee! Kau--" Pria tua itu terhenti melihat Yui yang sudah menghilang, "Dia akan kembali lagi ke sini, karena sayang sekali. Aku tidak bisa melakukan itu. Kita tidak bisa keluar dari sini sebelum permainannya berakhir. Sihirnya juga tidak bisa ku batalkan. Itulah peraturan sihirku."
Yui masuk ke dalam arena dengan mudahnya, ia berlari menuju para rekan-rekannya.
"Wahai Ksatria Pedang Hitam, Mana memberitahuku kalau kau ada di sini, lho. Untuk sementara, kau tonton saja dari sana. Kau adalah hidangan utamaku."
Yui mendecih mendengarnya, ia terus bergerak. "Ah, sebenarnya ada dua hidangan lezat yang harusnya ku nikmati. Namun sepertinya yang satu ini ingin disantap terlebih dahulu."
Yui menyeringai kecil, jadi santapan lainnya itu dia?
"Tunggulah aku membantai teman-temanmu dan menabur keputus-asaan dalam dirimu!" lanjut Vetto.
"Halo, tes, tes!" suara Yami terdengar, "Hei, anak-anak buah bodoh, dengarkan aku! Seseorang yang sangat berbahaya baru saja merusak permainannya.
Dia salah satu petinggi Mata Matahari Tengah Malam, dan manusia binatang buas yang kekuatannya setara dengan Komandan Ksatria Sihir. Lalu, dia ke sana dengan tiga anak buahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Special | Black Clover
FanfictionTersandung dan jatuh disebuah masalah, yang membuatku belajar akan banyak hal. Rasa memiliki rekan, teman, sahabat, dan keluarga. Mengharuskan ku membuka rahasia yang sudah kusembunyikan rapat-rapat. Menguak beberapa kisah kelam dan kenangan yang me...
