Mereka berjalan mendekati tepi batu besar yang dipijak, cukup jauh di ujung sana terlihat bangunan yang bercahaya. "Jadi ini Kuil Bawah Air itu!" Seru Asta melihat pemandangan di depannya.
Yui melirik bocah itu sesuatu keluar dari kerah pemuda itu, "burung anti sihir?" guman Wanita itu menatap burung yang terbang menuju Kuil Bawah Air mendahului para manusia yang masih berdecak kagum melihat pemandangan di depan mereka.
"Charmy. Tolong buatkan kapas." Yami berujar dengan memegang cupcake dengan krim pink diatasnya, sepertinya Charmy menitipkan roti kesukaannya itu pada sang komandan. "Roger!"
Gumpalan kapas itu terbentuk sempurna, membawa anggota pasukan Banteng Hitam menuju Kuil Bawah Air itu. Terlihat, mereka seperti terbang di atas awan, ditemani dengan ungkapan-ungkapan dari mereka yang merasa perjalanan misi saat ini terasa membosankan. Walaupun disanggah oleh Magna agar mereka tidak lengah sewaktu-waktu dengan Asta yang membenarkan ucapan sang senior.
Sedangkan Yui, dia sedang mengetuk-ngetuk ujung sepatunya pada gumpalan kapas itu. Ia merasakan jika sihir yang membawa mereka saat ini itu cukup lembut namun kuat untuk menahan beban mereka yang berdiri diatasnya.
Akhirnya kendaraan itu berhenti, satu persatu dari mereka mulai turun dan melanjutkan dengan berjalan kaki. Lagi-lagi mereka kagum denga napa yang mereka lihat, bangunan-bangunan di sana sangat unik. Layaknya terumbu karang yang dimodifikasi menjadi tempat bersinggah. "Hebat!" Seru Asta menatap sekelilingnya takjub.
"Apa ini rumah?" Noelle memandang satu persatu bangunan yang ada di depannya itu.
"Apa itu artinya di sini ada makhluk penghuni bawah laut? Apa mereka kuat? Apa mereka ganas? Kalian ingin segera melawan mereka, kan?"
"Hanya kamu saja yang menginginkannya." Ujar Finral menjawab si maniak bertarung itu.
Tak jauh dari sana, "Ada orang di sana!" volume suara milik Asta sepertinya tidak pernah kecil.
Disana terlihat dua orang sedang berbicang kecil. "Serius?! Apa mereka makhluk penghuni bawah laut? Mereka takkan tiba-tiba menyerang, kan?" timpal Magna.
"Ssttt! Nanti kita kedengaran!" kata Noelle memberitahu untuk diam.
Tiba-tiba Perempuan di depan sana menoleh ke belakang, "Hei, bukankah itu..." sang pria tersenyum dengan sedikit terkejut, "oh...."
Vanessa melambaikan tangannya, "sepertinya mereka mendengar kita.
Tiba-tiba saja banyak orang mendekat ke arah mereka dari setiap sisi. Pasukan Banteng Hitam itu kini di kelilingi oleh penduduk asli dari Kuil Bawah Air. Sudah sepuluh tahun lamanya mereka tidak mendapat tamu, akhirnya saat ini mereka kedatangan tamu dari permukaan.
Beberapa dari mereka juga menyadari bahwa yang berkunjuk ke tempat mereka adalah Ksatria Sihir, membuat para penduduk semakin bersemangat menyambut Pasukan Banteng Hitam itu.
"Padahal aku mengira tempat ini adalah Dungeon yang berbahaya!" ujar Asta dengan mata yang berbinar menatap bergantian para penduduk yang menyambut kedatangan mereka.
"Yah, perkiraan tidak selalu sesuai kenyataan, sih" kata Yami dengan rokok yang sudah kembali menyala di sela jarinya itu.
"Untuk sekarang, mari kita cari orang yang tahu sesuatu tentang Batu Sihir." Lihat, bahkan penyihir Wanita itu menarik banyak atensi dari pria-pria di sana. "Benar." Jawab sang komandan.
"Cepat seret bosa kuil ini ke sini! Woi!"
"Yami-dancho, kau terdengar seperti yakuza!" Asta berseru mendengar perintah yang tak lain dan tak bukan dari sang komandan.
"Dimengerti. Aku yakin yang kau maksud adalah Pendeta Agung! Woi!"
"Kau bisa menemuai Pendeta Agung dengan menaiki tangga ini, lho!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Special | Black Clover
FanfictionTersandung dan jatuh disebuah masalah, yang membuatku belajar akan banyak hal. Rasa memiliki rekan, teman, sahabat, dan keluarga. Mengharuskan ku membuka rahasia yang sudah kusembunyikan rapat-rapat. Menguak beberapa kisah kelam dan kenangan yang me...
