27. Pantai

95 9 0
                                        

Panas. 

Itu yang Yui rasakan sekarang.

Matahari bersinar sangat terang di atas sana, tanpa ampun. Langit begitu cerah, nyaris tidak ada awan. Semua terlihat cantik, memang—dengan kilauan laut biru yang memantulkan cahaya langsung ke matanya, seolah menambah rasa perih yang sudah cukup menyiksa sejak tadi.

Ia menyipitkan mata, mengangkat tangan untuk menutupi wajah dari sorot mentari yang menyilaukan. Pasir di sekitarnya pun tak kalah menyiksa, memantulkan cahaya seperti jutaan serpihan kaca putih yang menyala.

Terlihat di depan sana, teman satu pasukannya sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. 

Lihatlah Gauche yang sedang membuat patung? Ya initnya pria itu sedang berkreasi menggunakan pasir pantai membentuk rupa adiknya. Tak lupa kaca melayang yang sepertinya ia sedang berkomunikasi dengan si kecil. Oh iya, jangan lupakan cairan merah kental yang mengalir dari hidungnya itu.

Finarl yang pasti sedang mencoba menggoda para gadis disana. Charmy dengan makanan segar seperti buah semangka  yang dapat menghilangkan dahaga di cuaca terik seperti ini.

Vannesa dengan botol anggurnya. Wanita itu memang sangat suka mabuk dimana-mana, tak tahu tempat. Makhluk berbadan besar yang dapat berubah wujud sesukanya itu juga menikmati waktu di pantai ini dengan berubah menjadi rekan-rekan sepasukannya, pastinya menambah ribut. 

Asta, pemuda itu sedang berlari ke sana ke mari, sepertinya ia melatih ototnya di siang hari ini. Tak lupa  Noelle yang sibuk berusaha bertanya pada Asta bagaimana pakainnya yang ia pakai sekarang itu. Sayangnya ia malah diganggu oleh Magna dan Luck yang sedang kejar-kejaran karena pakaian milik Magna yang di bakar sedikit oleh Luck.

Yui mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia menyipitkan matanya, sepertinya ia mengenal pemuda dengan surai pirang dengan rambut yang menggantung sedikit di depan itu.

"Bukankah kita harusnya menghentikan mereka?" Tanya Yui dengan menunjuk malas anggotannya yang sedang berlarian itu. "Ya, kau benar," ujar Yami dengan menghembuskan asap rokoknya itu dengan berjalan mendekat pada anggota pasukannya itu.

"Lalu kenapa kita malah bermain-main di sini?!" Asta tersungkur karena tendangan dari sang komandan. "Kau juga sama aja!"

"Ya-Yami Dancho!!" Asta terkejut melihat komandannya yang berdiri di belakangnya itu. Begitu pula dengan anggota yang lain. Dan mereka berakhir ditanam, benar ditanam menyisakan kepala mereka di atas pasir.

"Baiklah anak-anak bodoh, dengarkan aku. Saat kalian asyik bermain-main tadi, aku dan Yui pergi mencari informasi." Yui mengangguk membenarkan ucapan komandannya.

"Sepertinya Kui Bawah Air itu benar-benar berada di bawah laut. Lalu mana di sana membuat arus air di laut tersebut menjadi begitu kuat, sehingga seorang penyihir kelas satu sekali pun takkan bisa mendekatinya.  Tapi saat malam bulan purnama, mana tersebut melemah, saat itu kita bisa melewatinya."

"Ko-komandan Yami akhirnya bekerja dengan serius!" sepertinya anggota pasukan itu meremehkan kinerja komandan mereka, terlihat sekali jika mereka sangat terkejut mendengar penjelasan dari sang komandan itu.  

"Sesuai namanya, Kuil Bawah Air berada di daasar laut. Kita tidak bisa pergi ke sana dengan mudah. Karena itulah, Noelle, dengan sihir air milikmu antar kami ke sana, bawa kami ke sana."

"Ta-tapi untuk bisa melakukannya, aku harus memiliki pengendalian sihir yang sangat besar. A-aku tidak bisa melakukannya, sebaiknya anda meminta Yui saja untuk melakukannya, bukannya dia juga memiliki sihir air?"

"Ya, kau benar. Aku juga memiliki sihir air, kebetulan juga aku sudah mencoba untuk melewati arus itu dan hasilnya nihil. Sihirku ditolak untuk masuk, dan ku kira kau tau apa maksudnya itu," Yami menghembuskan asap rokoknya lalu melirik wanita yang baru saja berucap itu.

"Tapi, jika aku gagal..."

"Jika gagal, arus air yang besar akan menyeret kita ke dasar laut, dan kita akan mati tenggelam. Tapi ini adalah misi yang sangat rahasia dan hanya dipercayakan kepada Pasukan Banteng Hitam. Tak ada lagi yang bisa melakukannya. Jadi kau yang harus melakukannya. Bulan purnama akan terjadi satu minggu lagi. Sampai saat itu tiba, berlatihlah mengendalikan sihirmu. Lampauilah batas kemampuanmu."

Yui mengangguk, " tenang saja, aku juga akan membantu mu."

Hari-hari berjalan seperti biasa, Yui masih memperhatikan Noelle yang berlatih di temani Asta dan perempuan yang tidak ia kenali. 

Finral yang masih mncoba menggoda wanita-wanita di pantai, Gauche yang membuat patung dari pasir menyerupai sang adik, bahkan lebih besar dari yang sebelumnya. 

Si berbadan besar itu juga masih menikmati suasana dengan berenang menggunakan pelampung miliknya. Vanessa, wanita itu bahkan sampai tidak kuat untuk meminum wine miliknya lagi.

Yui keluar dari penginapannya, menapat bulan yang semakin bersinar terang. Ini adalah malam sebelum bulan purnama datang. Yui melirik penginapan sebelah, terlihat Yami yang juga masih terjaga.

"Kau lihat itu kan, Noelle masih berusaha dengan keras." Ujar Yui memecah keheningan. "Ya, kau benar."

"Ohh... Lihat itu." Yui menunjuk anggota pasukannya, sepertinya mereka sedang memberi semangat pada Noelle. Terdengar jelas jika mereka menyemangati Noelle dengan caranya sendiri-sendiri.

Noelle berhasil menaklukan sihirnya. Semuanya begembira. Namun Noelle tidak bisa menahan sihir itu terlalu lama, dan berakhir jatuh. Untung saja Asta siap untuk menangkap gadis bangsawan itu.

Pria dengan rokok di tangannya itu berjalan mendekati gerombolan itu, dan duduk di atas salah satu batu karang yang ada. Yui mengikuti dari belakang, bersandar pada batu karang yang sama.

"Yosha, ayo kita rayakan!" seru Magna bersemangat. "Ya, ayo kita rayakan!" bergitu juga dengan Luck. Keduanya mempersiapkan sihirnya. "Satu, dua...!"

Kembang api itu tercipta dari sihir keduanya. Membuat suasana semakin meriah. 

Yami menghembuskan asap rokoknya, "Akhirnya kamu berhasil melampaui batas kemampuanmu, Noelle.  Aku juga menantikan bagaimana kamu melampaui batasan mu."

Yui melirik pria disampingnya, "sepertinya masih lama untuk melampaui batasanku,"

Yami kembali menatap ke arah para anggota pasukannya, "Baiklah, ayo kita pergi!" 




Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




Yahuuuu! Maaf baru bisa kembaliiii!

Maaaff, kemarin sempet ada kendala device yang biasa buat ngetik lcd nya mati. Terus juga kemarin aku harus fokus utbk duluu wml hwhwhwh.... Mohon doanya teman-teman...

Seperti biasa terima kasih sudah membaca, kalau ada kata yang typo atau typing yang membagongkan tolong di tandaii!!



06 Mei 2025 

Special | Black CloverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang