Setelah pulang dari sekolah, yang di lakukan Arkan hanyalah berdiri di balkon kamarnya dengan pandangan kosong juga kepala yang terasa begitu penuh akan sosok Bintang. Arkan menghembuskan nafas panjang, ia benar-benar mengkhawatirkan Bintang.
Tak lama kemudian langkah kakinya ia bawa untuk memasuki kamar Bintang yang tak di kunci itu. Kamar yang bersebelahan dengan kamar miliknya. Saat Arkan memasuki kamar itu, Arkan bisa mencium wangi yang begitu lembut. Kamar Bintang nampak sederhana dengan nuansa serba putih, hanya terdapat beberapa figura berisi foto yang terpasang di dinding kamarnya juga sebuah rak buku kecil juga meja belajar yang terdapat tumpukan buku sekolah milik Bintang.
Arkan duduk di atas kursi belajar Bintang lalu meraih sebuah figura kecil dari atas meja belajar Bintang. Potret Bintang bersama Farah dan almarhum Aryo saat Bintang masih kecil dulu. Dalam foto itu Bintang terlihat masih kecil dan begitu menggemaskan. Anak itu tersenyum cerah dengan dua gigi depannya yang terlihat besar dan menonjol juga pipinya yang bulat.
Arkan membuang nafas panjang, selama ia mengenal Bintang, rasanya Arkan jarang sekali melihat anak itu tersenyum apalagi saat berada di rumah ini. Bintang hanya terlihat pernah tersenyum jika bersama sahabat-sahabatnya. Jika di pikirkan lagi, rumah ini memang terasa begitu gelap tanpa adanya kehangatan dan kebahagiaan seperti rumah milik keluarga lainnya. Tak hanya bagi Bintang namun juga bagi Arkan yang rasanya tak pernah merasakan kebahagiaan di rumah ini.
Arkan kemudian menaruh kembali foto itu, ia kemudian membuka laci meja belajar Bintang. Dulu, ia sering melakukannya, diam-diam menyelinap ke kamar Bintang untuk menyembunyikan buku sekolahnya supaya Bintang mendapat hukuman oleh guru. Atau yang terakhir, saat Arkan dengan lancangnya membaca surat terakhir milik ayah Bintang. Namun kali ini, entahlah apa yang ia cari namun Arkan hanya merindukan Bintang saat ini.
Arkan membulatkan kedua matanya saat membuka laci meja belajar Bintang dan menemukan beberapa botol obat jenis anti-depresan dengan jumlah sekitar lima botol dan empat botol lainnya telah kosong, hanya ada satu botol yang ada isinya itupun hanya sekitar setengahnya. Arkan masih tak percaya dengan apa yang kini ia lihat, tangannya bahkan sampai gemetar saat menggenggam botol obat berwarna putih itu.
"Bintang, seberapa dalam luka lo sampai lo harus meminum obat ini?" gumam Arkan dengan pandangannya yang tertunduk lalu ia menghapus kasar airmatanya. Satu fakta menyakitkan lagi yang ia ketahui tentang Bintang, selama ini, Bintang bahkan mencoba sekuat tenaga untuk bertahan hidup hingga mengkonsumsi obat itu untuk tetap bisa bertahan namun Arkan malah selalu menambah luka dalam hidup Bintang.
Arkan kemudian menaruh kembali botol obat itu ke dalam laci meski dengan tangan yang begitu gemetar, tangannya kemudian kembali terulur saat ia menemukan benda yang cukup membuatnya penasaran. Sebuah alat perekam suara keluaran jaman dahulu, ia baru tahu Bintang menyimpan benda seperti itu, namun karena begitu penasaran, Arkan pun menekan tombol pemutar pada alat itu hingga terdengarlah suara lembut Bintang setelahnya.
"Hai, Bu... ini Bintang. Bintang rekam suara ini karena Bintang gak tau mesti gimana lagi ngungkapin perasaan Bintang. Bu, Bintang harap, Ibu gak pernah dengerin rekaman suara ini, karena Bintang takut setelah denger rekaman suara ini Ibu malah sedih.. tapi, Bintang juga gak tau mesti bicara sama siapa selain lewat rekaman suara ini.."
Arkan membuang nafas panjang mendengar rekaman suara Bintang yang terdengar lirih itu.
"Bu, hari ini, rasanya Bintang hancur. Bintang hancur saat mendengar kenyataan kalau Bintang sakit. Kanker lambung, penyakit yang bisa membunuh Bintang kapan saja. Bu... sejujurnya Bintang takut, Bintang takut ninggalin Ibu. Bintang belum bisa bahagiain Ibu, Bintang masih belum bisa membanggakan Ibu."
Arkan menghapus airmatanya, rasanya menyesakkan untuk mendengar suara Bintang dari rekaman itu.
"Bu.. meski Bintang gak tau sampai kapan batas usia Bintang, tapi, Bintang mohon sama Ibu. Ibu harus tetap bahagia meskipun ke depannya nanti Bintang udah gak ada di sisi Ibu. Bu, sekarang Ibu udah punya keluarga yang Ibu impikan, Ibu punya Papa Bima, Kak Gavin sama Kak Arkan yang sayang sama Ibu. Bintang senang karena sekarang Ibu di kelilingi orang-orang yang sayang sama Ibu. Meski Bintang sempat merasa sedih karena merasa terlupakan, tapi Bintang gak mau egois. Ibu berhak bahagia setelah semua penderitaan yang Ibu rasakan selama ini.
Bu.. jangan benci Ayah lagi ya, Bintang tau Ayah sering lukain Ibu maupun Bintang, tapi dulu, Bintang sering dengar Ayah yang diam-diam nangis setelah nyakitin kita dan Ayah menyesal, Bu. Dulu, Ayah hanya depresi dengan semua yang terjadi makanya Ayah berubah kasar, tapi Bintang percaya, Ayah masih tetaplah Ayah yang sama. Ayah yang penyayang. Bintang udah maafin Ayah, Bintang juga mau Ibu maafin Ayah ya.
Bu, Bintang sayang banget sama Ibu.. Ibu adalah wanita yang paling berharga dalam hidup Bintang, terima kasih, Bu. Terima kasih udah mau merawat dan membesarkan Bintang. Bintang sayang Ibu."
KAMU SEDANG MEMBACA
BINTANG
FanficTentang Bintang dan segala lukanya.. Jungkook local fiction By:Windicandy
