Bagian 29

1.7K 90 15
                                        

Hampir satu minggu Bintang di rawat di rumah sakit namun kondisi Bintang tak menunjukan peningkatan yang berarti. Kondisinya justru malah menurun karena Bintang sangat sulit untuk mencerna makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Hampir setiap hari Bintang muntah-muntah namun Bintang sangat sulit untuk makan hingga bobot tubuhnya menurun secara drastis.

Hari ini giliran Gavin yang menjaga Bintang. Gavin hanya memiliki satu mata kuliah yaitu pagi hari jadi setelah kuliahnya selesai Gavin pun langsung pergi ke rumah sakit untuk menjaga Bintang, sementara Arkan akan datang setelah lelaki itu pulang dari sekolahnya. Untuk Farah dan Bima, mereka pergi ke luar kota untuk urusan bisnis yang tak bisa di tinggalkan meski Farah begitu ingin menjaga Bintang. Gavin dan Arkan memastikan pada kedua orangtua mereka kalau mereka akan menjaga Bintang selama Farah dan Bima tak ada.

Bisa Gavin lihat Bintang nampak tertidur dengan pulas saat ia memasuki ruangannya. Gavin duduk di kursi kecil yang ada di samping ranjang Bintang lalu diam-diam memperhatikan Bintang yang tengah tertidur. Tangan Gavin kemudian terangkat untuk mengelus kepala Bintang.

"Maafin gue ya, Bin. Gue belum bisa jadi kakak yang baik buat lo. Lo harus kuat ya, Bin. Sekarang lo gak sendirian lagi, banyak yang sayang sama lo." lirih Gavin dan perlahan kedua mata Bintang terbuka. Bintang sejak tadi memang sudah terbangun sebelum Gavin memasuki ruangannya namun tubuhnya memang masih sangat lemas hingga Bintang memutuskan untuk memejamkan kembali kedua matanya.

"Kak."

Gavin tersenyum tipis saat melihat Bintang membuka matanya. Ia lantas mengusap puncak kepala Bintang.

"Hey, gimana keadaan lo sekarang, Bin?" tanya Gavin yang di balas senyum tipis oleh Bintang.

"Udah lumayan baikan, Kak." jawab Bintang yang nyatanya hanya sebuah kebohongan karena tubuhnya tak pernah terasa membaik semakin hari. Justru semakin hari Bintang malah semakin merasa kesakitan namun ia tak mau menunjukannya di hadapan orang lain.

"Kapan gue bisa pulang, Kak?" lirih Bintang.

"Nanti ya, kalau keadaan lo udah membaik pasti lo bisa pulang. Oh ya, Dokter Doni udah ngejadwalin kemotherapi buat lo. Lo mau kan ngikutin kemonya, Bin?"

Bintang terdiam, senyuman yang semula menghiasi wajahnya kini berubah dan Bintang menampilkan wajah sendunya.

"Gue gak mau, Kak. Rasanya pasti menyakitkan dan ngelakuin pengobatan itu juga gak akan menjamin gue akan sembuh. Iya kan?"

Gavin menggeleng cepat. Ia tak mau adiknya cepat menyerah bahkan sebelum mencoba seperti saat ini.

"Bin, kemotherapi emang gak menjamin kesembuhan lo. Tapi, gak ada salahnya kita mencoba kan? dokter Doni bilang dengan kemo setidaknya bisa menghambat penyebaran penyakit lo dan memperpanjang harapan hidup lo."

"Apa Om Doni juga bilang kalau kemotherapi bisa buat gue sembuh? nggak kan, Kak?"

Gavin merasa tertohok mendengar pertanyaan Bintang. Benar, dokter itu tak mengatakan bahwa pengobatan kemotherapi akan menjamin kesembuhan Bintang, bahkan yang terjadi adalah sebaliknya karena berdasarkan pemeriksaan terakhir, kondisi penyakit Bintang malah semakin parah dan baik Gavin maupun keluarganya yang lain masih berusaha menyembunyikan fakta menyakitkan itu dari Bintang karena tak ingin membuat Bintang merasa semakin bersedih.

"Gue takut, Kak. Semuanya, rasanya menyakitkan. Gue bahkan selalu ketakutan tiap harinya, Kak." ucap Bintang lalu menundukan kepalanya, bisa Gavin lihat bahu Bintang yang kini bergetar. Gavin tahu Bintang tengah sekuat tenaga menahan tangisannya saat ini.

Gavin kemudian mendekati Bintang dan duduk di sisi Bintang. Ia kemudian memeluk tubuh rapuh itu dan membiarkan Bintang meluapkan segalanya dalam rengkuhannya.

BINTANGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang