Suara deburan ombak terdengar begitu menenangkan. Hamparan lautan luas berwarna biru yang di hiasi cahaya jingga pada langit senja menghasilkan pemandangan yang begitu menyejukan mata.
Bintang tersenyum tipis, pada akhirnya, salah satu keinginannya yaitu berlibur bersama keluarganya ke pantai bisa terwujud kendati butuh banyak perjuangan untuk mewujudkannya.
Satu minggu setelah menjalani kemotherapi dan di rawat di rumah sakit, kondisi Bintang bisa di katakan sedikit lebih stabil kendati tak bisa di katakan baik juga karena penyakit ganas itu seolah semakin melemahkan tubuhnya hari demi hari. Dengan bujukannya, akhirnya Bintang bisa di izinkan keluar dari rumah sakit oleh dokter Doni bahkan di izinkan pergi ke pantai meski dengan syarat, Bintang tak boleh terlalu kelelahan juga tak boleh melewatkan obat-obatannya. Namun, apapun itu, Bintang merasa bersyukur karena keinginan yang dulu hanya bisa impikan, kini bisa ia wujudkan yaitu liburan bersama keluarganya.
Kini Bintang tengah duduk di tepi pantai, menikmati indahnya lautan dan matahari terbenam dengan duduk di atas pasir putih. Kedua kakaknya sendiri tengah membantu Farah dan Bima untuk menyiapkan barbeque. Sebenarnya, Bintang juga ingin ikut membantu mereka namun ia di larang oleh sang ibu dengan alasan Bintang tak boleh kelelahan hingga akhirnya, Bintang memilih menuruti ucapan Farah dan lebih memilih menunggu mereka selesai menyiapkan makanan sembari duduk di tepi pantai yang tak jauh dari lokasi mereka memasak.
Bintang membuang nafas panjang, begitu melihat matahari nampak mulai terbenam di hadapannya dan perlahan, gelap pun mulai datang menggantikan tahta sang mentari. Mentari itu seperti dirinya, sebentar lagi, apakah Bintang juga akan tenggelam dan meninggalkan kegelapan untuk keluarganya?
"Bintang, jangan lama-lama di sini. Dingin."
Bintang bisa merasakan sebuah selimut tersampir di kedua bahunya, pelakunya tak lain adalah Arkan yang kini ikut mendudukan diri di sampingnya. Bintang menolehkan kepala lalu tersenyum ke arah kakak keduanya itu.
"Gak papa, Kak. Gue suka lihat sunset."
Ucapan Bintang membuat Arkan tersenyum tipis sembari memandangi wajah pucat adiknya.
"Ya udah, lo boleh di sini sampai sunset nya gak kelihatan. Gue temenin."
"Ck! bilang aja lo mau kabur dan gak mau bantuin Ibu masak."
Arkan tertawa kecil sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Tahu aja lo!" ucap Arkan sembari mengusak rambut Bintang, namun, setelahnya Arkan terkejut begitu mendapati beberapa helai rambut Bintang yang tercabut berada di lengannya. Mendapati keterkejutan kakaknya, Bintang mencoba bersikap biasa dan mencoba mencairkan suasana.
"Gak usah kaget gitu, Kak. Rambut gue emang belakangan ini rontok. Mungkin efek dari kemo. Cuma, gue gak nyangka kalau efeknya bakal secepat ini."
Arkan mencoba tersenyum, ia tak mau Bintang bersedih.
"Gak papa, Bin. Yang gue tahu, emang wajar kok kalau rambut rontok habis kemo. Pasti nanti juga berhenti rontoknya."
"Tapi, kalau rontoknya makin banyak terus rambut gue habis gimana ya, Kak? masa gue jadi botak? kayak tuyul dong."
Arkan tahu, meski terdengar seperti candaan, namun ada rasa takut dalam kalimat yang Bintang ucapkan.
"Ya, gak papa. Kalau lo botak, gue juga bakal ikut botakin rambut gue. Jadi, lo gak botak sendirian, nanti ada temennya. Mama sama Papa jadi punya Upin Ipin nanti."
Bibir Bintang mengerucut, ia menatap Arkan seolah tak terima dengan ucapan Arkan.
"Gak mau. Ngapain juga lo ikutan botak demi gue? lagian rambut lo bagus gitu. Masa mau lo botakin. Pokoknya gak boleh! gue aja yang botak."
KAMU SEDANG MEMBACA
BINTANG
FanfictionTentang Bintang dan segala lukanya.. Jungkook local fiction By:Windicandy
