Ketakutan dan kegelisahan seolah tak berhenti di rasakan oleh keluarga Dewangga saat ini. Sebuah sesal yang masih terasa mencekik membuat mereka tak tenang bahkan seolah untuk bernafas saja terasa begitu sulit saat ini.
Bagi Farah, Bintang adalah putra kandung yang dulu pernah ia sesali kelahirannya ke dunia hanya karena kehancuran yang terjadi dalam kehidupan pernikahannya dengan Aryo. Rasa benci yang sempat Farah rasakan pada Aryo semenjak perusahaannya bangkrut sehingga ia harus mengalami hidup yang begitu sulit juga sempat ia rasakan pada Bintang yang merupakan putra kandung Aryo.
Dulu, Farah sempat menyesali pernikahannya dengan Aryo dan setiap kali melihat Bintang, selalu ada rasa benci yang muncul pada Bintang yang begitu mirip dengan Aryo. Aryo adalah seseorang yang pernah ia cintai namun juga seseorang yang sempat menorehkan luka begitu dalam sebelum pria itu menghembuskan nafas terakhirnya.
Namun bukan seperti ini yang Farah harapkan. Rasanya ia ingin sekali menarik semua perkataannya yang pernah meminta Bintang untuk pergi dari hidupnya. Namun, bukan pergi seperti ini, dulu, ia sempat berharap Bintang pergi dari keluarga barunya supaya ia bisa meraih bahagia dengan keluarga barunya tanpa bayang-bayang masa lalu dengan Aryo. Namun Tuhan sepertinya mencoba mengabulkan permintaannya dengan cara lain, yaitu memberikan sebuah penyakit yang bisa merenggut putranya kapan saja.
Tidak, bukan seperti ini yang Farah mau. Ia memang sempat menginginkan Bintang pergi dari hidupnya namun bukan pergi selamanya dari dunia ini. Bagaimanapun Bintang adalah darah dagingnya yang ia kandung dan ia lahirkan dengan bertaruh nyawa. Bagaimanapun ia tetap menyayangi putranya. Farah akui ia memang jahat, ia memang egois, namun seorang ibu mana yang menginginkan putra kandungnya untuk sekarat bahkan bisa pergi dari dunia ini kapan saja.
Farah tak pernah menginginkan hal itu.
Jika Farah di berikan satu kesempatan, ia ingin mencurahkan seluruh kasih sayang yang selama ini tak pernah lagi putranya rasakan. Ia ingin mengembalikan senyuman indah milik Bintang karena selama ini yang Farah berikan hanyalah luka dan rasa sakit juga airmata untuk Bintang.
Farah rasanya tak bisa lagi untuk bernafas dengan bebas, rasanya menyesakan seolah ada batu besar yang membuat dadanya begitu sesak saat dokter Doni mengatakan kondisi terakhir Bintang setelah dokter itu melakukan pemeriksaannya.
"Kondisi Bintang kritis, kita harus melakukan operasi darurat untuk mengangkat cairan yang ada di lambungnya sekaligus mengangkat tumor ganas yang ada di lambungnya."
Suara tangis histeris itu mengisi lorong yang sepi di depan ruang ICU dimana Farah dan Gavin menangis histeris saat melihat brankar dengan Bintang yang terbaring di atsnya di bawa oleh Doni dan beberapa dokter ke ruang operasi.
Tubuh Bintang nampak terbaring lemah dengan berbagai peralatan medis yang tertempel di tubuh ringkihnya. Tak hanya Farah dan Gavin yang menangis, namun juga Arkan dan Bima yang meski terlihat tenang namun juga merasakan kesedihan yang sama dalam hatinya.
Bagi Bima, Bintang adalah putra sambungnya yang selama ini tak pernah ia anggap dan bahkan selalu ia sakiti karena tak memiliki kecerdasan seperti kedua putra kandungnya. Putra sambungnya yang ia benci itu kini tengah sekarat. Entah apa yang ada dalam pikiran Bima saat ini, namun ia pun berharap jika ada keajaiban untuk Bintang supaya anak itu bisa melewati semuanya dan bisa kembali membuka kedua matanya meski rasanya harapan itu begitu tipis. Namun, bisakah semesta memberikan kesempatan kedua untuk mereka supaya bisa menebus kesalahan mereka pada Bintang, putra bungsu yang selama ini kehadirannya terlupakan dan selama ini hanya selalu merasakan luka dan rasa sakit dalam hidupnya.
****
Malam yang semakin larut seolah terasa mencekik Farah, Bima, Gavin dan Arkan yang masih duduk termenung di depan ruang operasi dengan tangis dan segala ketakutan mereka pada Bintang yang masih berjuang di dalam sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
BINTANG
FanfictionTentang Bintang dan segala lukanya.. Jungkook local fiction By:Windicandy
