Bagian 30

1.6K 73 15
                                        

Hari ini adalah jadwal kemotherapi pertama Bintang dan Farah pun menemani putranya untuk menjalankan kemotherapi pertamanya, tak hanya Farah, Gavin juga memutuskan untuk membolos kuliah demi menemani Bintang sementara Arkan juga sangat ingin menemani adiknya namun ia harus pergi ke sekolah dan tak bisa membolos karena sebentar lagi akan di adakan ujian nasional hingga Arkan harus banyak belajar di sekolah.

Bintang nampak kepayahan menjalani serangkaian proses kemotherapinya. Satu jam setelah kemotherapi selesai, Bintang tak henti memuntahkan isi perutnya, ia juga terus mengeluh sakit pada Farah dan Gavin yang sedari tadi menemaninya.

Kini Farah tengah memegangi baskom kecil di depan Bintang karena putra bungsunya tak henti muntah-muntah. Sementara Gavin, ia yang merasa tak tega melihat adiknya tersiksa seperti itu memilih hanya berdiri di sisi ranjang Bintang sembari membantu memijit leher Bintang supaya adik bungsunya bisa memuntahkan isi perutnya lagi.

"Masih mual gak, Nak?" tanya Farah begitu melihat Bintang telah berhenti muntah. Bintang hanya menggeleng pelan, ia merasa seluruh isi perutnya seolah di kuras habis hingga tak ada lagi yang mampu ia muntahkan kembali, tubuhnya pun terasa begitu lemas dan nyeri, Bintang benar-benar merasa tersiksa saat ini.

"Mau minum, Bin?" tawar Gavin yang hanya di balas anggukan oleh Bintang. Dengan cepat Gavin membawakan air hangat untuk Bintang dan membantu adiknya untuk minum melalui sedotan, Gavin berharap dengan minum air hangat rasa mual yang Bintang rasakan bisa sedikit berkurang.

"Jangan langsung berbaring ya, Nak. Biar gak terlalu mual perutnya," ucap Farah yang hanya di respon anggukan kepala oleh Bintang.

Setelah selesai meminum segelas air hangat, Farah dan Gavin membantu menyusun bantal sebagai penyangga punggung Bintang. Farah nampak telaten mengusap peluh yang mengalir di wajah Bintang membuat Bintang merasa tersentuh oleh perlakuan sang ibu. Semenjak mengetahui dirinya sakit, sikap Farah benar-benar berubah dan Farah lebih memperhatikannya, namun Bintang takut, ia takut hanya bisa sebentar merasakan perhatian keluarganya, Bintang selalu takut jika penyakitnya bisa membuatnya pergi kapan saja.

"Ganti bajunya dulu ya, Nak."

"Iya, Bu."

"Vin, tolongin Mama gantiin bajunya Bintang ya?" ujar Farah pada Gavin yang langsung di turuti oleh Gavin.

Gavin lantas berjalan ke arah tas besar tempat menyimpan pakaian Bintang dan membawakan piyama baru yang lebih bersih untuk Bintang pakai karena piyama yang saat ini Bintang gunakan nampak kotor terkena bekas muntahannya sendiri.

Dengan telaten Farah membuka satu persatu kancing piyama Bintang. Kedua matanya berkaca-kaca saat ia membuka atasan piyama yang Bintang kenakan dan mengganti pakaiannya, Farah bisa melihat betapa kurusnya tubuh putranya saat ini. Perasaan bersalah kembali muncul dalam hatinya. Mengapa baru sekarang Farah mempedulikan putranya dan memberikan perhatian pada Bintang. Mengapa tidak sejak dulu ia melakukannya, saat kondisi Bintang masih baik-baik saja.

"Bu, jangan nangis," lirih Bintang saat melihat sang ibu yang menitikan airmata saat membuka pakaiannya. Dengan tangan yang gemetar, Bintang mengusap airmata yang membasahi kedua pipi Farah, Bintang kemudian tersenyum, seolah mengatakan pada sang ibu bahwa dirinya baik-baik saja.

"Jangan nangis, Bu. Bintang gak apa-apa kok."

Farah menggenggam lembut tangan Bintang yang masih berada di pipinya lalu menciumnya penuh kasih. Di saat kondisi seperti inipun Bintang masih saja bersikap seolah dirinya baik-baik saja.

"Maafin Ibu ya, Bintang. Ibu selalu jahat sama kamu selama ini."

Bintang menggeleng pelan mendengar ucapan Farah.

BINTANGTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang