#20

273 20 22
                                        

Kekacauan yang terjadi selama pertarungan ke 3 telah menunjukkan bagaimana para ejen cabang 4 di didik dan cara berpikir mereka yang terlalu liar membuat para mentor lain tidak berniat menasehati, di tambah lagi masalah penahanan Aron menimbulkan perpecahan pendapat antar ejen mentor, terutama cabang 4.

"Mereka bertarung layak nya seorang ejen, pada pertarungan sebenar nyawa akan menjadi taruhan. Tak semestinya ejen Leon menghukum Aron, kejadian tadi sepenuhnya kesalahan ejen didikan kalian yang terlalu menganggap sepele pertarungan". ucap ejen Steve.

"Membahayakan rekan bukanlah tindakan yang tepat, sepatutnya mereka membedakan antara latihan dan nyata". sahut ejen Alif menolak pemikiran ejen mentor cabang 4 itu.

"Baiklah, kami tidak akan memperpanjang persoalan ni. Tapi, budak bernama Killian tu, harus mendapatkan hukuman juga". kali ini giliran ejen Roland selaku mentor teras NEURO yang bersuara.

"Itu berlebihan, Killian hanya-" kalimat ejen Alif di hentikan oleh tangan terangkat ejen Leon.

"Untuk keberlangsungan Arena, Killian di nyatakan keluar". ucap ejen Leon menuruti kemauan cabang 4.

Ejen dari cabang 2 hanya diam tak memprotes karena sependapat dengan ejen mentor cabang 4, ejen Alif menghela napas berat berusaha menahan emosinya, dari barisan para ejen muda terdengar pertanyaan.

"Ini hanya latihan, bukan?" tanya Sela ragu mewakili yang lain.

"Kalau ini latihan kau hanya akan bermain-main saja bukan, macam yang lain". jawab ejen Fathur.

"Sebab mentor yang kata ini hanya latihan semata," Ali ikut bersuara.

"Polos. Korang semua budak mentah yang inginkan kemudahan sahaja. Dari awal, sengaja para mentor cakap macam tu, agar bisa menilai kemampuan korang". terang ejen Simon sambil bersidekap.

"Tengok apa jadi kat kawan korang tu. Sebab meremehkan lawan jadi cedera, kan". lanjutnya lagi.

Keheningan menyelimuti, para ejen muda nampak memikirkan masa depan mereka di akademi MATA, jika arena memang telah di mulai, bukankah akan lebih menguntungkan kalau mereka serius menghadapinya.

Ali mengatupkan bibirnya, nampaknya ia telah melakukan kesalahan besar dengan bermain-main selama arena tadi, tim nya memang menang tapi itu semua berkat Alicia bukan bantuan Ksatria.

"Baik, nampak korang semua sudah mengerti, jadi mari kita lanjutkan Arena. Pertarungan terakhir!". seru ejen Bakar' memecah keheningan.

Karena arahan telah diberikan, tim terakhir segera memasuki Arena dan yang tersisa menonton seperti pertarungan sebelumnya bersama dengan para ejen mentor, bahkan beberapa ejen muda yang cedera juga ikut bergabung setelah mendapat perawatan pada luka mereka.

Pertarungan terakhir jadi lebih mencekam di karena semua tim mengejar posisi pertama, dan entah bagaimana, mereka juga memiliki satu pemikiran yang sama yaitu untuk menyingkirkan tim yang kemungkinan akan menjadi hambatan mereka berada di atas.

"Huachim!". suara bersin Sam yang menggelegar membuat beberapa burung berterbangan meninggalkan sarangnya karena terkejut plus takut.

"Kenapa Lo?" tegur Rizka yang ikut terkejut mendengarnya.

"Hmmm, Someone talking sh*t about me". racau Sam tak jelas sambil menggosok hidungnya dengan jari.

"Gak jelas," gumam Rizka kesal.

"Korang," bisik Kim yang juga memberi isyarat untuk waspada.

Aleks melangkah kedepan, Rizka melontarkan karambit saat melihat pergerakan di semak-semak, Mei melompat keluar menghindar di ikuti serangan dari berbagai arah yang tentu saja di lakukan oleh beberapa ejen muda yang berbeda tim.

REUNI (Enam)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang