#33

99 11 2
                                        

Pertarungan berat pun berlangsung, Ejen Ganz berhasil di dorong jauh oleh Satria yang memudahkan mereka untuk menyerang dan terhindar dari serangan nyasar robot teras serta sesama Ejen yang tengah berhadapan dengan robot tersebut.

"Ini je kekuatan kau?" Ejen Ganz tersenyum meremehkan Satria, bersamaan dengan itu ia meninju kuat Satria hingga terpental jauh.

"Alamak!?" kaget Ali yang segera berlari mengecek keadaan Satria.

Ejen Ganz berniat menyerang Ali tapi pergerakannya di hadang oleh anak panah Alicia, karena aksinya itu Ejen Ganz jadi menargetkan dia.

"Cis," Alicia melompat segesit mungkin untuk menghindari semua tumbukan dengan bantuan IRIS.

"Oh, guna IRIS. Patut tak kena." takjub Ejen Ganz yang langsung berhenti.

Alicia menyembunyikan kehadirannya dan membiarkan rekannya yang lain untuk maju lebih dulu, sedangkan ia akan membantu dari belakang.

Mika dan Hamid menyerang Ejen Ganz secara bersamaan, tombak yang menusuk asal-asalan membuat pergerakan Ejen Ganz terbatas dan tinjuan yang mengarah lurus ke wajahnya semakin mempersulit.

"Bagus, tombak tu sengaja arahkan aku untuk masuk area serangan Mika. Kalau lawan korang bukan aku mungkin mudah nak kalahkan." puji Ejen Ganz sambil menangkap tombak.

Hamid tidak berniat melepaskan tombaknya yang memudahkan Ejen Ganz untuk melancarkan serangan. Tubuh Hamid di angkat dan di lemparkan ke arah Mika.

Keduanya tumbang, tepat saat Ejen Ganz berencana melancarkan serangan penghabisan, Yusuf datang membuat Ejen Ganz mengurungkan niatnya dan memilih untuk menjauh.

"Huhh, boleh tahan." puji Ejen Ganz seraya melirik lengannya yang tergores oleh pedang Yusuf.

"Cih, kalau bukan sebab latihan. Mesti gejet ku dah cederai lawan." omel Yusuf, seraya mengayunkan pedang.

Dari awal bergabung MATA, gejet Yusuf dan Rahman memiliki komponen yang berbeda dari gejet Ejen lain di tambah gejetnya bisa memberikan cedera serius, serupa dengan pedang Kim. Tapi, untuk keamanan selama menjalankan misi. Ketua Teras meminta mereka untuk mengubah ketajaman gejetnya.

"Melukai lawan bukan berarti kau menang, tunduk kan lawan dengan kekuatan mu." komentar Ejen Ganz.

"Sama je kan," balas Yusuf.

Ia berlari dan kembali menargetkan lengan Ejen Ganz untuk sedikit mengurangi daya hancur tinjunya.

"Nak tundukkan lawan mesti buat cedera sampai mampus," lanjutnya.

"Hehe, cara pikir kau ni sama dengan penjahat." Ejen Ganz membiarkan gejet Yusuf mengenai pergelangan kirinya, lalu bergerak cepat menangkap bilah pedang Yusuf.

"Huh?!" Yusuf panik karena tidak bisa menarik pedangnya.

"Kalau nak buat mampus, kenapa ragu-ragu?" pertanyaan Ejen Ganz merupakan cibiran halus, karena dirasa Yusuf tidak benar-benar ingin mencederainya.

"Biar aku tunjukkan, cara menghajar lawan sampai tak bergerak lagi!" sedikit tarikan pada pedang Yusuf.

Tubuh Yusuf mendatangi langsung kepalan tinju Ejen Ganz, di detik berbahaya gerakan tangan Ejen Ganz berhenti, Yusuf menyunggikan senyum melihat lilitan rantai.

"Eric, sekarang!" teriak Hendra.

"Jangan perintah aku!" sahut Eric, dengan tinjunya ia berhasil mengenai wajah Ejen Ganz.

Ejen Ganz melepaskan gejet Yusuf karena harus menggunakan tangan untuk melepaskan diri dari rantai gelang Hendra yang membuat beliau tidak bisa membalas Eric.

REUNI (Enam)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang